Ketika Empat Maharah Bahasa Arab Diajarkan di Kelas Ilmu Kesehatan dan Ada Juga Non Muslim di Dalamnya

Sebagaimana kita ketahui, tujuan utama belajar bahasa Arab adalah menggali dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan bahasa, baik secara aktif maupun pasif. Sama seperti belajar bahasa lain pada umumnya yaitu untuk dipraktikkan.

Penulis teringat awal mengajar di salah satu Kampus swasta di Yogyakarta, kebetulan ketika itu mengajar di program studi Kesehatan yang mana bahasa Arab masuk sebagai mata kuliah pengantar yang sifatnya wajib untuk diikuti. Mengajar mahasiswa yang bukan dari bagiannya secara integral (bukan jurusan bahasa Arab), ditambah lingkungan yang berbeda membuat penulis memiliki beban berlipat.

Read More

Setidaknya lipatan beban itu terlihat dari penyesuaian muatan materi yang relevan dengan bidang mereka (kesehatan), penyesuaian dengan latar belakang mahasiswa yang beragam bahkan ditambah dengan adanya mahasiswa yang non muslim sehingga kelas menjadi sangat heterogen.

Dalam hal ini posisi bahasa Arab pada umumnya masih belum bisa lepas dari kesan religinya, sehingga bahasa Arab dan keislaman masih menjadi salu balutan rasa dan pengetahuan yang holistik. Terlebih dalam kasus di atas penulis juga harus menyiapkan strategi-strategi mengajar yang menarik.

Penulis membuat formula doktrin bahwa belajar bahasa Arab itu bukan berarti belajar Agama Islam, akan tetapi belajar bahasa layaknya bahasa Indonesia, Inggris, Korea dan lain-lain.

Dalam mengajar atau belajar bahasa Arab yang terpenting adalah  ketrampilan kemahiran berbahasa. Kenapa begitu?, karena tanpa penguasaan keempat keterampilan bahasa tersebut (istima’, kalam, qiroah dan kitabah) hanya membuat sia-sia dalam belajar bahasa khususnya bahasa Arab.

Tidak dipungkiri dalam belajar bahasa Arab pasti akan bersinggungan dengan qowaid atau grammar. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk mengutamakan kemahiran berbahasa seperti pada pengalaman penulis ketika mengajar di Kampus Kesehatan tersebut.

Umumnya, semua pakar pembelajaran bahasa sepakat bahwa keterampilan dan kemahiran berbahasa tersebut dibagi menjadi empat. Di antaranya adalah keterampilan menyimak (maharah istima’ / listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), Keterampilan membaca (maharah al-qira’ah/ reading skills), keterampilan menulis (maharah al-kitabah/ writing skills). Biasanya keterampilan menyimak dan membaca dikategorikan dalam keterampilan berbahasa reseptif. Sedangkan, keterampilan berbicara dan menulis masuk dalam kategori keterampilan bahasa produktif.

Pada hakikatnya, semua keterampilan berbahasa saling terintegrasi dan terkoneksi satu dengan yang lainnya. Hal tersebut dapat dianalogikan dengan seseorang yang ingin mempelajari bahasa ibu, pasti di awal ia mendengarkan bahasa yang dituturkan oleh orang sekelilingnya.

Kemudian ia berusaha mencoba menirukan dan mempraktikkan dengan berbicara diikuti dengan membaca dan menulis. Rasa-rasanya urutan tersebut tidak dapat diganggu gugat, maka seperti pengajar yang ingin mengajarkan suatu bahasa asing hendaknya berpegang pada urut-urutan tersebut.

Seperti itu ketika pengajar berhadapan dengan mahasiswa atau peserta didik yang notabenya berbeda dalam hal lingkungan pun bahkan Agama. Namun setelah mendoktrin dan menjelaskan beberapa kalimat yang penulis tulis di atas, maka mahasiswa mengerti, bahkan yang berbeda Agama pun dapat mengikuti dengan baik walaupun sama sekali belum mengenal huruf arab. “yang penting dengar dan ulangi, lalu ucapkan”. Ucap penulis.

Related posts