Kisah Perjalanan Cinta Menuju Sang Ilahi Rabi’ah al-Adawiyah

banner 468x60

Nama lengkapnya Rabi’ah bin Ismail al-Adawiyah al-Bashiriyah al-Qaisiyah beliau dilahirkan di dunia ini sekitar di tahun 99 H/717 M tepatnya di kota Basrah yaitu, negara Irak. Serta wafat pada tahun 185 H/801 M. Sementara itu terkait tahun kelahiran Rabi’ah terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Rabi’ah lahir di tahun 95 H. Mengingat tentang tahun kelahirannya dengan pendapat yang berbeda-beda sangat wajar, karena pada saat Rabi’ah dilahirkan dengan keadaan yang kurang baik mengenai finansial ekonomi keluarganya.

Latar belakang keagamaan keluarga Rabi’ah sangat agamis dengan penuh kezuhudan bahkan Ayah Rabi’ah mempunyai keinginan kepada para keempat putrinya termasuk Rabi’ah si Bungsu supaya terhindar dari lingkungan sosial yang akan mempengaruhi ke dalam hal kurang baik, dimana nantinya menghambat proses jiwa serta menjadi penghalang terhadap batin para anaknya untuk berkembang.

Sebagai seorang sufi perempuan Rabi’ah untuk pertama kalinya melakukan perjalanan kesufian dengan penuh mahabbah. Menurut al-Ghazali al-Mahabbah adalah kecenderungan yang dirasakan oleh hati terhadap sesuatu. Sementara itu dalam perspektif al-Surraj perihal mahambbah beliau membagi menjadi tiga kategori tingkatan mahabbah, antara lain:

  1. Cinta dari seorang hamba yang biasa, dalam hal ini seorang hamba senantiasa mengingat akan Tuhan dengan cara berzikir, serta mempunyai rasa senang jika menyebut sifat-sifat Sang Ilahi dan kegembiraan ketika melakukan kegiatan interaksi antara seorang hamba dengan-Nya.
  2. Cinta dari seorang yang sidiq, dalam hal ini seorang hamba mengenali Tuhan-Nya seperti terhadap kemahakuasan dan kebesaran Tuhan. Cinta yang terdapat dalam kategori kedua ini akan menghilangkan tabir antar keduanya yaitu, makhluk dan Sang Pencipta.
  3. Cinta dari seorang yang arif, cinta ini merupakan tingkatan tertinggi dari cinta-cinta sebelumnya dimana hanya dimiliki oleh seorang sufi. Sufi mengetahui secara persis mengenai Allah, apa yang tengah dirasakan di dalam jiwanya bukan kecintaan akan dirinya sendiri melainkan hanya Tuhan semata. Sehingga pada waktuya sifat-sifat yang dicintai-Nya memasuki ke dalam pintu dari jiwa yang mencintai.

Rabi’ah seoranag sufi yang mempunyai tradisi suluk yang pada nantinya rekam jejaknya diikuti oleh para sufi besar. Sebelum menjadi seorang sufi yang besar, perjalanan hidup Rabi’ah berada pada fase perbudakan terhadap dirinya. Bahkan dalam perbudakan yang dilakukan oleh majikan Rabi’ah terhadap dirinya memaksa untuk melakukan kegiatan menyanyi, ada juga yang berpendapat bahwa disamping memerintahkan bernyanyi serta diperintahkan untuk minum-minum oleh majikannya di kala itu.

Namun setelah merdeka Rabi’ah langsung menghempaskan segala macam kehidupan yang tidak baik itu. Rabi’ah menghadap kepada Allah dengan beserta sepenuh jiwa raganya. Ia mengalami syathat dan ketenggelaman jiwa ruhnya sehingga membuat hati kesufiannya menjadi semakin lembut serta terlarut oleh perasaan hati mendalam kepada Ilahi.

Dalam mengawali pertaubatan dalam diri Rabi’ah dipenuhi dengan berbagai macam rasa takut, dari hal inilah yang membuatnya begitu dekat kepada Allah, senantiasa merindukan Allah, dan merasakan kehebatan akan keagungan Allah. Ia juga melekatkan diri dengan sifat zuhud terhadap seluruh hal yang berkaitan terhadap keduniawian.

Selanjutnya pada fase derajat (haibah)  satu tingat lebih tinggi daripada khauf, dimana seorang hamba dapat mengenal Tuhan serta semakin dekat kepada-nya juga beriringnya rasa hormat untuk keagungan Allah. Di fase ini Rabi’ah bermunajat dengan sepenuh hati kepada Allah: klik disini untuk selengkapnya. Apabila aku menyembah-Mu disebabkan rasa harap akan surga maka haramkan diriku untuk memasuki surga-Mu. Akan tetapi, jika aku menyembah-Mu, wahai Tuhan-Ku, semata hanya karena karena-Mu maka jangan Engkau halangi aku untuk menatap wajah-Mu”

Dipenuhi rasa tangis di dalam hidupnya dikarenakan rasa takut kepada Yang Maha Kuasa. Rabi’ah juga telah merasakan keteduhan, ketenangan, dan kedamaian hati di ruang lingkup rahmat dari Allah. Kemudian ia perjalanan kesufiannya dengan perasaan takut (khauf), perasaan penuh harap (ar-raja’), dan menetap pada keadaan dengan penuh perasaan cinta (al-hubb).

Daftar Pustaka:

Gharib, Makmum, Rabiah al-Adawiyah: Cinta Allah dan Kerinduan Spiritual Manusia.    Jakarta: Zaman, 2012.

Runi Risnanti, Fia, “Cinta Menurut Rabi’ah al-Adawiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah Studi      Komparasi. Skripsi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010.

 

Pos terkait