Kisah Teladan Imam Ahmad bin Hanbal dan Keutamaan Istighfar

Ada kisah yang sangat menarik dari seorang ulama besar bernama Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau adalah Faqih agung besar pendiri mazhab Hanbali sekaligus murid dari Imam Syafi’i. Kisah ini mengetengahkan pertemuan beliau dengan seorang tukang roti yang begitu dalam memendam kerinduan untuk bertemu dengannya. Di masa akhir hidup Sang Imam, beliau menceritakan dengan begitu larut dalam kenangannya.

Hasrat ke Bashrah

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal tidak tahu kenapa merasa begitu sangat ingin sekali pergi menuju ke Bashrah. Jarak dari kota Baghdad tempat di mana Sang Imam tinggal menuju ke Bashrah adalah sekitar 544 km.

Imam Ahmad sendiri merasa heran dengan perasaannya tersebut, sebab beliau merasa tidak memiliki janji terhadap seseorang dan juga tidak memiliki hajat atau keperluan. Namun akhirnya beliau berangkat pula menuju Bashrah.

Dikisahkan Ulama besar yang juga ahli hadits ini tiba di Bashrah pada waktu Isya. Lalu beliau ikut shalat berjamaah isya di masjid. Beliau diliputi oleh kesenangan dan ketenangan yang begitu teduh dalam hati, sampai beliau kemudian merasa ingin istirahat barang sebentar.

Begitu shalat Isya selesai dan jamaah masjid kembali kepada aktifitasnya masing-masing dan pulang ke rumah, Imam Ahmad hendak tidur di masjid untuk beristirah. Namun tiba-tiba ada takmir masjid yang datang menemui beliau dan bertanya, “Ada apa syeikh, anda mau ngapain di sini?!”. (Kata Syekih dalam bahasa Arab biasanya dipakai untuk tiga panggilan; bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu, dalam hal ini dipakai untuk orang tua karena Imam Ahmad bin Hanbal sudah dalam usia tua dan petugas takmir tidak tahu kalau beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal).

Dalam hal ini, karena tawadhu’-nya Imam Ahmad tidak memperkenalkan siapa dirinya kepada petugas takmir masjid. “Saya ingin istirahat sebentar, saya musafir”. Kata Imam Ahmad.

“Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid!”. Tanggap petugas takmir.

Konon Imam Ahmad sampai didorong-dorong dan disuruh keluar. Sempat beliau berpindah ke teras dan bersiap tidur di sana. Namun petugas takmir masjid pun kembali mengusir beliau.

Dikisahkan bahwa di samping masjid ada penjual roti dengan rumah kecil sekaligus dapurnya untuk memproduksi dan menjual jual roti. Kala itu penjual roti tersebut sedang membuat adonan, dan melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh petugas takmir masjid.

Pertemuan dengan Tukang Roti

Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan bersiap meninggalkan masjid, penjual roti itu memanggil dari jauh: “Mari syeikh!, menginap saja di tempat saya, saya punya ruang untuk istirahat meskipun kecil”.

Melihat penjual roti menawarkan tempat istirahat lalu sang Imam mengatakan,”Baiklah”.

Imam Ahmad masuk ke rumah penjul roti yang minimalis, duduk di belakang penjual roti itu yang terlihat sedang sibuk membuat roti. Sampai di sini pun beliau tidak memperkenalkan siapakah dirinya, hanya bilang seorang musafir.

Dilihatnya oleh beliau bahwa penjual roti ini memiliki perilaku yang unik. Di mana bila Imam Ahmad mengajak ngobrol, maka dijawabnya. Bika tidak, maka dia pun terus membuat adonan roti sembari melafalkan kalimat istighfar, “Astaghfirullah”. Ketika menaruh garam Astaghfirullah, ketika memecahkan telur Astaghfirullah, mencampur gandum Astaghfirullah. Tukang roti ini rupanya senantiasa mendawamkan kalimat istighfar. Sebuah kebiasaan muliayang begitu menarik perhatian Imam Ahmad bin Hanbal.

Kemudian Imam Ahmad bertanya: “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”.

“Sudah cukup lama syeikh, saya menjual roti sudah sekitar 30 tahun, jadi semenjak itu saya mulai melakukannya”. Jawab tukang roti.

“Apa hasil dari perbuatanmu ini?”. Tanya Imam Ahmad.

Tukang roti itu menjawab, “Berkat wasilah istighfar ini tidak ada urusan yang saya minta, kecuali pasti Allah SWT mengabulkannya. Selama ini semua yang saya minta kepada Allah SWT, langsung diterima kecuali satu”.

Imam Ahmad penasaran dan bertanya: “Apa itu?”.

“Saya minta kepada Allah SWT supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal”. Ucap tukang roti itu dengan sambil sebentar menghentikan olah adonannya.

Mendengar itu, seketika Imam Ahmad langsung bertakbir: “Allahu Akbar!, rupanya Allah SWT telah mendatangkan saya sejauh ini dari Baghdad ke Bashrah bahkan sampai didorong-dorong dan disusir oleh petugas takmir dari masjid ke jalanan ternyata bkarena istighfarmu”.

Penjual roti itu pun seketika terperanjat dan begitu tercengang. Dia tidak menyangka kalau lelaki tua yang diajaknya beristirah dan menginap di tempatnya itu adalah seorang ulama besar yang sangat dirindukannya.

Keutamaan Istighfar

Dari kisah yang diketengahkan di atas, kita dapat memahami begitu hebat faidah dari kalimat istighfar. Meskpun memang kualitas lafal setiap orangnya berbeda-beda. Kualitas istighfar seorang muslim yang sekadar menunaikan kewajiban syariat di siang dan malamnya jelas berbeda dengan kualitas istighfar seorang muslim yang seluruh penunaian kewajiban syari’atnya diselubungi rasa cinta kepada Allah SWT. Sehingga bila ia lafalkan kalimat itu maka yang muncul dihadapannya adalah pancaran kasih sayang Tuhan Yang Maha Kasih.

Imam al-Syadzili rahimahullah menganjurkan kepada murid-muridnya, termasuk kepada kita semua untuk senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT, meskipun kita merasa tidak melalukan kesalahan. Sebab Nabi SAW yang ma’shum saja masih senantiasa beristighfar saban harinya, apatah lagi kita yang seorang hamba biasa dengan segala kepungan dosa-dosa yang kerap kali tersamar.

Imam Abd al-Wahab al-Sya’rani dalam kitab al-Minah al-Saniyyah mengetengahkan beberapa wasiat Imam Abu Ishaq al-Matbuly yang menganjurkan kita untuk memperbanyak istighfar. Menurut beliau setidaknya ada empat kondisi di mana kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak istighfar; Pertama ketika awal dan akhir siang serta permulaan dan penghabisan malam. Kedua ketika rezeki kita terasa susah dan rumit. Ketiga ketika kita telah terlanjur melakukan suatu perbuatan dosa, Keempat ketika kita telah mengerjakan seluruh rangkaian amal.

Related posts