Kitab-Kitab Nahwu Ulama Nusantara

Membaca beberapa referensi dalam khazanah ilmu nahwu terkadang kita dibawa pada beberapa halaman pengetahuan yang sangat unik. Semakin larut dalam kolom-kolom referensi semakin terlihat bahwa begitu luas rimba ilmu yang satu ini. Begitu juga  tentang keberadaan kitab-kitab Nahwu Nusantara.

Seluruh kitab nahwu ini memang benar adanya ditulis oleh ulama-ulama Nusantara. Ada yang memakai bahasa arab namun ada juga yang memakai aksara arab pegon dengan bahasa daerah. Dalam tulisan ini setidaknya ada lima kitab yang hendak penulis ketengahkan secara ringkas.

Read More

Kitab Mu’jam Nahwi

Kitab ini ditulis oleh Kyai Muhibbi Hamzawie ayah dari Zainul Milal Bizawie. Bila Zinul Milal Bizawie adalah penulis karya-karya pengetahuan yang banyak berbincang seputar peneguhan Islam Nusantara, maka Kyai Muhibbi Hamzawie adalah sosok ayah sang penulis sekaligus pengasuh Pesantren al-Amin Kajen. Sebuah tempat di daerah Pati Jawa Tengah yang terkenal dengan keberadaan maqbarah Syaikh Ahmad Mutamakkin atau Kyai Cebolek. 

Kitab ini mengupas nahwu-sharaf dengan format nazhm atau syair yang memakai pola bahar rajaz. Menariknya bahasan dari kitab ini diurutkan sesuai abjad hijaiyyah mulai dari alif sampai ya’. Senada dengan yang dituliskan oleh M. Solahudin bahwa kitab dengan sistematika model ini masih terbilang sangat jarang di belantika ilmu nahwu.

Bila kitab ‘Imrithy yang ditulis oleh Yahya bin Nur ad-Din Abi al-Khoir bin Musa al- ‘Imrithi as-Syafi’i al-Anshori al-Azhari berisi terdiri 254 bait syair, kitab Alfiyyah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik atau yang lebih populer dengan sebutan Imam Malik terdiri dari 1002 bait syair, maka kitab Mu’jam Nahwi yang ditulis oleh Kyai Muhibbi Hamzawie terdiri dari 8.465 bait syair. Dengan jumlah bait syair sampai delapan kali lipat lebih banyak dari alfiyyah kitab ini tentu memiliki halaman yang cukup tebal.

Kitab Tashil al-Masalik

Kitab ini memiliki judul lengkap bernama Tashil al-Masalil ila Alfiyah Ibn Malik. Penulisnya adalah ulama nusantara bernama Syaikh Ahmad Abi al-Fadhol ibn ‘Abd al-Syakur Senori atau yang lebih akrab disapa dengan nama Mbah Fadhol. Beliau adalah salah satu ulama yang mumpuni dalam bidang ilmu nahwu di nusantara.

Kitab Tashil al-Masalik adalah kitab nahwu dengan tema besar penjelasan lebih lanjut atau syarah dari kitab nahwu populer alfiyyah ibn malik. Biasanya referensi syarah kitab alfiyyah yang sering dipakai oleh kebanyakan para pengkaji nahwu adalah kitab Syarh Alfiyyah Ibn Malik karya Imam Ibn ‘Aqil.

Bagi para pengkaji nahwu di Tanah Air, keberadaan kedua kitab tersebut dapat saling melengkapi satu sama lain. Pasalnya menurut Jamal Makmur, kitab karya Mbah Fadhol ini banyak mengetengahkan berbagai contoh yang lebih aktual yang ada dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat Indonesia.

Kitab al-Lam’ah al-Nuraniyya

Dalam salah satu artikel Republika yang dirilis pada bulan Mei 2020 ada tulisan yang sangat menarik perihal informasi seputar literasi dunia pesantren. Muhammad Subarkah mengatakan bahwa ada salah satu kitab nahwu karangan ulama Garut Jawa Barat bernama Syaikh Musthafa Usman. Kitab tersebut berjudul al-Lam’ah al-Nuraniyya yang merupakan bentuk syarah atas salah satu karya Imam Nawawi al-Bantani yang berjudul al-Syadzrah al-Jummaniyyah.

Kitab ini adalah kitab tingkat dasar dalam ilmu nahwu, di mana para pengkajinya melalui kitab ini dipersiapkan untuk menaik dari jenjang mubtadi (pemula) menuju mutawasith (lanjutan pertengahan). Namun tampaknya kitab karya Syaikh Musthafa Usman ini belum begitu banyak beredar luas di Indonesia. Masih sedikit kalangan pembelajar atau pengajar yang berkenalan dengan kitab ini.

Meskipun demikian berdasarkan catatan Subarkah, kitab ini telah diterbitkan di Timur Tengah yakni Mesir. Di antaranya cetakan Mathba’ah Musthafa al-Bab al-Halab Kairo, dengan titi mangsa tahun cetak 1360 H/1941 M. Adapun Jumlah keseluruhan halaman kitab adalah 16 (enam belas) halaman. Cukup tipis dan memang rerata demikian kitab-kitab nahwu untuk para pemula.

Sebenarnya sangat menarik meneliti lebih lanjut hubungan antara Syaikh Musthafa Usman dan Syaikh Nawawi al-Bantani. Pasalnya kedua ulama ini saling berinterkasi satu sama lain dalam karya-karyanya. Bahkan dalam muqadimah kitab al-Lam’ah al-Nuraniyya ini Syaikh Mustahafa Usman mengatakan bahwa latar belakang penulisan kitab tersebut adalah karena Syaikh Nawawi al-Bantani yang terus mendorongnya untuk membuat syarah atas kitabnya yang berjudul al-Syadzrah al-Jumaniyyah.

Kitab Murod al-Awamil Mandaya

Kitab ini ditulis oleh Syekh Nawawi Bin Muhammad Ali Bin Ahmad Bin Abu Bakar atau yang akrab disebut dengan Syaikh Nawawi Mandaya, beliau adalah salah satu ulama sufi dan nahwu yang sangat kharismatik di Serang-Banten. Manuskrip tangan kitab ini sudah masuk dalam ruang koleksi naskah Kementrian Agama Republik Indonesia.

Menurut Ilal Jalaluddin kitab ini banyak dikaji di beberapa pondok pesantren dan mayoritas santri salaf di nusantara. Dalam hierarki tingkatannya, kitab Murod al-Awamil Mandaya setingkat kitab pemula dalam mengkaji ilmu nahwu. Sebenarnya kitab ini tampak sebagai pengantar untuk memahami kitab al-‘Awamil karya ulama Iran yang bernama Abd al-Qahir al-Jurjani.

Lebih lanjut kitab al-‘Awamil Mandaya ini lebih fokus membicarakan al-‘Awamil yang secara sederhana diartikan “faktor-faktor”. Maksudnya adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan harakat (fathah, kasrah, dhamah, sukun dan tanwin) akhir suatu kata dalam bahasa Arab. Sebagai pintu awal atau pengantar bagi pemahaman tata bahasa Arab dalam ranah sintaksis, kitab yang ditulis oleh Syaikh Nawawi Mandaya ini menyebutkan ada 100 faktor (‘amil) dalam Ilmu Nahwu yang dapat berpengaruh terhadap keadaan harakat akhir suatu kata.

Kitab Tasywiq al-Khillan

Kitab ini ditulis oleh K.H. Muhammad Makshum bin Salim dari Semarang, Jawa Tengah. Kitab ini adalah salah satu karya yang memantulkan citra beliau yang memang memiliki kemampuan handal dalam bidang tata bahasa Arab. Terlebih beliau yang merupakan ulama Tanah Air berasal dari nusantara.

Kitab Tasywiqul Khillan merupakan kitab dengan catatan panjang (hasyiyah) atas Mukhtasshor Jiddan, syarah Al-Jurumiyah yang ditulis oleh ulama masyhur Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan buru besar para ulama nusantara. KH Muhammad Makshum memiliki pandangan bahwa beliau perlu memberikan uraian lebih atas kitab Mukhtasshor Jiddan.

Dilansir dari artikel yang diterbitkan oleh NU Online, KH Muhammad Makshum menyelesaikan kitab Tasywiq al-Khillan pada Jumadil Akhir 1303 H/1886 M. Kitab tersebut memiliki volume halaman dengan jumlah 222 halaman. Meskipun kitab ini ternyata baru dicetak oleh salah satu penerbit Timur Tengah Al-Maktabah Al-Ilmiyah 54 tahun kemudian.

Itulah beberapa kitab nahwu yang ditulis oleh ulama-ulama nusantara. Beberapa di antaranya ada yang masih beredar secara luas namun ada beberapa yang beredar di komunitas terbatas. Kitab-kitab tersebut adalah warisan agung karya “leluhur” ulama nusantara yang sangat menarik untuk terus dikaji dan dikembangkan baik dalam rangka pen-daras-an atau dalam kajian ilmiah akademik.

 

Related posts