Kritik Khaled Abou el Fadl Tentang Feminisme

Kritik Khaled Abou el Fadl Tentang Feminisme

Khaled Abou El Fadl merrupakan salah satu dari tokoh Islam yang ada pada abad ke-21 yang selalu aktif menyuarakan Islam moderat dan sangat menenang terhadap beberapa faham yang ekstrim dan fundamintalis. Khaled Abou El Fadl dilahirkan di daerah Kuwait pada tahun 1963. Khaled juga tumbuh besar di Kuwait dan Mesir.[1]

Sejak kecil beliau sudah ditempa dengan pendidikan dasar keIslaman. Beliau juga menulis akademisnya dalam bidang agama yang telah banyak dilakukan dengan suatu pendekatan-pendekatan nilai moral serta kemanusiaan. Selain itu Khaled juga sangat gigih dalam membela hak-hak wanita.

Khaled Abou El Fadl merupakan salah satu tokoh hukum Islam terkemuka pada saat ini. Bernard Hayked menyebutnya sebagai One of the most accomplished liberal muslim legal sholars of our time. Sementara dengan Ahmad Syafi’i Ma’rif menyebutkan bahwa Abou Fadl merupakan seseorang juru bicara Islam kontemporer yang cerah di muka bumi.

Dan menulis beberapa karya penting mengenai Islam dan meramunya dari beberapa sumber klasik dan modern serta memetakan tafsirnya mengenai Islam dengan cara yang sangat mendalam, kritikal serta komprehensif.[2]

Kata feminisme secara etimologis berasal dari bahasa latin yakni femina. Sedangkan dalam bahasa Ingris istilah tersebut diterjemahkan menjadi feminine yang berarti memiliki sifat-sifat keperempuanan.

Yang kemudian ditambah dengan kata ism yang menjadi feminism yang berarti paham keperempuanan yang mengusung isu-isu gender terkait dengan nasib perempuan yang belum mendapatkan perlakuan adil di berbagai sektor kehidupan baik di sektor domestik, sosial, politik, pendidikan da ekonomi.

Kata feminisme kemudian dapat digunakan untuk menunjuk suatu teori persamaan kelamin (sexual aquality).[3] Pada hakikatnya gerakan feminisme tersebut bukan hanya memperjuangkan nasib seorang perempuan saja, melainkan juga memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih baik lagi antara sesama umat Islam (lelaki atau perempuan).

Sebagaimana yang telah dikatakan bahwa pada dasarnya feminisme itu ialah “suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan di dalam masyarakat, ditempat kerja dan di dalam keluarg, serta adanya tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk bisa mengubah keadaan tersebut.”

Oleh kaena itu, seseorang yang sudah mengenal adanya sexisme, dominasi lelaki, sistem patriarki dan kemudian melakukan suatu tindakan untuk bisa menentangnya hal tersebt dapat dikatakan sebagai seorang feminis.

Abou Fadl sendiri juga sering disebt sebagai seorang feminis Muslim. Karena beliau memiliki suatu landasan epistimologi hermeneutika negosiatif yang ia munculkan sebagai gagasan yang bisa dikatakan sebagai ide-ide feminisme.

Kedua gagasan tersebut dapat menunjukkan suatu kesadara dari Abou Fadl akan ketertindasan perempuan serta tindakannya dalam membela perempuan dan yang ia lakukan dengan cara memberikan “penyadaran” kepada seluruh umat Islam melalu beberapa tulisannya.[4]

Abou Fadl juga juga mengkritik tentang fatwa keagamaan bias gender yang telah dikeluarkan oleh para ahli hukum CRLO dan menurut pandangannya tersebut sudah menunjukkan bahwa dominasi nalar puritanikal serta melembangkan merupakan bentuk autoritarianisme.

Ada beberapa hadis yang dikritik oleh Abou Fadl ialah hadis tenang keridaan seorang suami terhadap seorang istri. Abou Fadl menilai hadis tersebut tidak sampai pada derajat mutawatir. Dalam hadistersebut sudah bisa digambarkan dengan jelas tentang gagasan feminsime Abou Fadl.

Abou Fadl menganggap bahwa hadis tersebut janggal, karena mengaitkan perempuan yang meninggal dunia dengan keridaan sang suami. Padahal, masuk atau tidaknya seseorang di surga merupakan otoritas Tuhan bukan seorang suami.

Beberapa ide yang telah dilontarkan bisa menunjukkan bahwa kesadaran dan tanggung jawabnya di dalam membela perempuan dari berbagai ketidakadilan pada gender. Dengan tegas Abou Fadl menyebutkan bahwa penggunaan hadis tersebut yang bisa merendahkan prerempuan.

Dalam hal tersebut bukan hanya perempuan saja yang direndahkan martabatnya melainkan juga martabat seorang lelaki.[5] Menurut Abou Fadl perempuan sebagai korban dari rasa frustasi serta ketidakberdayaan kaum puritan dalam berbagai konteks sosial dan politik.

Perempuan juga dijadikan sasaran serta direndahkan bukan hanya lewat nalr saja, melainkan juga dari semangatnya juga. Dalam hal tersebut seolah-olah semakin perempuan dibuat menderita, semakin aman pula masa depan politik.

Karena hal tersebut muncul beberapa klaim yang mengatakan bahwa perempuan ialah penghuni mayoritas neraka dan kebanyakan lelaki masuk neraka karena perempuan. Hal tersebut sudah salah, karena yang bisa menentuka kita masuk neraka atau tidak bukan diri kita sendiri, melainkan Tuhan.

Dimata Abou Fadl Islam merupakan agama keadilan, Al-Qur’an yang mengajarkan bahwa Tuhan tidak membedakan gender, ras ataupun kelas. Maka dari itu, lelaki dan perempuan dipandang setara karena digender dan hukum dengan balasan yang sama, serta memiliki akses yang sama untuk bisa mencapai anugrah dan kebaikan Tuhan (Q.S. al-Baqarah [4]: 32).

Abou Fadl juga menegaskan bahwa masalah pembagian waris dan kepemimpinan lelaki atas perempuan, jika dipahami secara konseptual, sebenarnya hal tersebut merupakan langkah dari revolusioner yang ditempuh untuk mencapai ksetaraan dan keadilan bagi lelaki dan perempuan.[6]

Disisi lain al-Qur’an berusaha untuk mengubah kosnidi sosial yang opresif dan eksploitatif terhadap perempuan. Al-Qur’an turun bukan untuk menindas perempuan, melainkan untuk bisa mengangkat derajat perempuan untuk bisa disejajarkan dengan laki-laki.[7]

 

[1] Alvad Fathony, “Hermeneutika Negosiatif Khaled Abou El Fadl”, Jurnal Studi Keislaman, Vol. 6, No. 1 (Januari-Juni, 2019), 120.

[2] Ihab Habudin, “Konstruksi Gagasan Feminisme Islam Khaled M. Abou El-Fadl, Jurnal Al-Ahwal, Vol. 5, No. 2 (20120, 2.

[3] Ibid., 4.

[4] Ibid., 11-12.

[5] Ibid,. 19.

[6] Poetri Leharia Pakpahan, Muhammad Ikhsannudin, dll, “Women Who Work According To Khaled Abou el-Fadl” Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, Vol. 4, No. 2 (2021), 262.

[7] Ihab Habudin, “Konstruksi Gagasan Feminisme Islam Khaled M. Abou el-Fadl”, Jurnal Al-Ahwal, Vol.5, No.2, 20.

Related posts