Literatur Arab dalam Pengarus Utamaan Etika Agama di Patani

patani melayu muslim
patani melayu muslim

Literatur Arab dalam Pengarus Utamaan Etika Agama di Patani. Jajat Burhanudin menulis jurnal cukup menarik tentang Syaikh Daud Al-Fattani. Artikelnya dimuat di Jurnal al-Shajarah edisi terbaru terbitan IIUM. Sebenarnya basis utama penelitiannya adalah studi filologis terhadap salah satu karya ulama tanah Melayu ini. Karya yang diangkat adalah manuskrip kitab Syaikh Daud yang berjudul Minhaj al-‘Abidin dengan genre religious ethics.

Kitab tersebut sebenarnya adalah kitab yang gagasan utamanya ditulis oleh Imam al-Ghazali. Sedangkan kitab yang ditulis oleh Syaikh Daud al-Fattani lebih ke merupakan syarah atas kitab tersebut. Namun uniknya judul karya yang dibuatnya tidak diubah sebagaimana lazimnya para penulis literatur keislaman Arab.

Selain itu, hal yang menjadi unik dari kitab tersebut adalah pilihan bahasa Melayu dalam pensyarahannya. Selain itu, seolah tanpa ragu, Syaikh Daud al-Fattani juga memakai aksara Arab pegon. Kombinasi ini menghasilkan perpaduan kebahasaan yang cukup kompleks. Walhasil kitab tersebut mengetengahkan matan kitab Minhaj al-‘Abidin yang berbahasa Arab dan syarah yang berbahasa Melayu serta beraksara Arab pegon.

Baca juga: Ahmad Syafi’i Ma’arif Tentang Pendidikan Tinggi dan Bahasa Arab

Agitasi Keilmuan Islam

Literatur Arab dalam Pengarus Utamaan Etika Agama di Patani. Bila boleh dibilang, Syaikh Daud al-Fattani adalah putra negerinya yang paling nyaring dalam agitasi ilmu. Adzan pengetahuan yang dikumandangkannya menjadi jihad model baru generasi Pattani dalam menjaga kedaulatan bangsa dan negerinya.

Sebagaimana yang telah diketahui dalam lembaran sejarah Tanah Melayu, bahwa Pattani pada awalnya adalah kerajaan Melayu Islam yang merdeka. Perpindahan kekuasaan dari para Ratu atau Suthanat-nya mampu menjadikan wilayah ini sangat makmur. Namun di bagian tertentu sesi sejarahnya, Pattani berada dalam rongrongan imperialisme Kerajaan Siam. Singkat cerita, pada abad ke-19 Pattani jatuh dan menjadi korban penjajahan Kerajaan Siam.

Pada era perjuangan tersebutlah Syaikh Daud al-Fattani hidup. Ia menjadi intelektual Melayu muslim yang hadir dan berjuang mempertahankan kemerdekaan negerinya. Tanah Pattani memanggil Syaikh Daud yang saat itu tengah berada dalam pengembaraan intelektualnya di jazirah Arab – Mesir. Kembalinya beliau ke Pattani ternyata benar-benar pada situasi krisis konflik antara Pattani dan Kerajaan Siam.

Baca juga: Kitab Al-Mawahib, Interkoneksi dan Legasi Bahasa Arab

Pengetahuan sebagai Alternatif Perjuangan

Literatur Arab dalam Pengarus Utamaan Etika Agama di Patani. Kerajaan Pattani sebagai kerajaan Melayu Muslim telah kalah pada masa itu dan mulai masuk dalam wilayah Kerajaan Siam. Selain daripada itu, pasca kekalahannya dari intervensi Kerajaan Siam, Pattani juga dilanda konflik internal kerajaan. Situasi ini jelas-jelas sangat memukul mental perjuangan rakyat Pattani.

Melihat gelagat demikian, Syaikh Daud al-Fattani mulai mengagitasi para rakyat dan generasi Pattani untuk beralih pada gelanggang pengetahuan. Era baru generasi ini telah dimulai untuk tidak jatuh dalam gelombang keterputusan harapan yang semakin mencengkeram. Fokus Muslim Pattani mencoba dialihkan pada pengembangan keilmuan Islam dan ilmu-ilmu lainnya.

Genderang ini ditandai pula dengan bertolaknya Syaikh Daud al-Fattani ke Aceh lalu lanjut menuju Mekkah dan Madinah. Di sana beliau kembali berkecimpung dengan dunia keilmuan Islam.  Selain itu beliau juga terus menggelorakan semangat perjuangan Islam melalui putra-putra Pattani yang datang belajar ke Mekkah.

Di sinilah fase di mana literatur-literatur Arab mulai menemui gelombang penyebaran baru. Di mana karya-karya beliau bukan hanya berada di Mekkah, namun juga disebar ke jazirah Malaya oleh murid-muridnya. Uniknya, literatur-literatur Arab itu juga bercampur dengan literatur Arab yang mengandung aksara Arab pegon.

Minhajul Abidin Versi Melayu

Literatur Arab dalam Pengarus Utamaan Etika Agama di Patani. Sebagaimana yang dituliskan oleh Jajat Burhanudin dalam jurnalnya, bahwa Kitab ini memang berisi gagasan etika keagamaan al-Ghazali. Syaikh Daud kemudian memberikan terjemah, syarah dan tambahan-tambahan keterangan lain akan perkataan-perkataan Imam al-Ghazali dalam kitab versinya. Tidak lupa Syaikh Daud menuliskan gagasan pinggirnya dengan memakai aksara Arab pegon melayu.

Kitab tarjamah atau syarah ini berhasil diselesaikan pada tahun 1240 H/1825 M di Mekkah. Kemungkinan besar setelahnya Syaikh Daud mengajarkan kitab tersebut kepada murid-muridnya yang berasal dari jazirah Melayu dan Jawi. Selain itu murid-muridnya mulai menyebarkan salinan kitab tersebut di wilayahnya masing-masing.

Setidaknya menurut penulis ada dua hal yang menjadi alasan kenapa Syaikh Daud al-Fattani memilah karya al-Ghazali tersebut dalam projek karyanya. Pertama bangsa Pattani di negerinya memerlukan ajaran etika keislaman agar tidak semakin terpuruk dalam berislam dan berbangsa. Sebab dari sekian banyak rumpun ilmu, disiplin etika keagamaan yang dapat diandalkan dalam merehabilitasi psikologi agama massa agar segera pulih.

Kedua adalah adanya tragedi keagamaan yang memilukan di wilayah jazirah Melayu. Tragedi yang berujung pada kekerasan atas nama agama ini disebabkan keresahan yang ditimbulkan merebaknya paham tasawuf falsafi. Para tokoh dari kelompok tersebut dituduh melakukan penyimpangan dengan rupa penganutan paham panteisme wahdatul wujud. Sehingga dimunculkannya gagasan-gagasan al-Ghazali adalah agar dapat mendamaikan antara syariat dan tasawuf.

Strategi Kebudayaan Literatur Arab

Literatur Arab dalam Pengarus Utamaan Etika Agama di Patani. Beberapa hal yang penulis yakini dari pengulasan jurnal tentang Syaikh Daud al-Fattani dengan karyanya kitab Minhaj al-Abidin versi Melayu tersebut adalah sebagai berikut. Pertama Syaikh Daud al-Fattani memiliki strategi brilian dalam mengembangkan pengetahuan Islam di daerahnya. Ia menulis kitab dengan bahasa Melayu agar para pengkaji Islam dapat lebih mudah memahaminya dan menyebarkannya kepada masyarakat luas.

Kedua aksara pegon yang dipakai oleh Syaikh Daud al-Fattani memang memiliki riwayat kebahasaannya tersendiri. Namun aksara pegon Islam Melayu telah menjadi kekuatan identitas baru dalam mengendapkan pengetahuan Islam di wilayah ini.

Arab pegon tampak seperti mutasi aksara Arab yang tidak ditujukan mengoyak tubuh linguistik bahasa Arab. Justru aksara tersebut adalah tangga bagi para pengkaji Islam untuk dapat menetra keilmuan Islam lebih jauh. Ia menjadi karya strategi kebudayaan alternatif dalam mengembangkan pengetahuan bahasa Arab dan keislaman Jazirah Melayu.

Tidak sedikit intelektual muslim Melayu yang menerapkan strategi kebudayaan yang sama. Di mana mereka menulis khazanah-khazanah pengetahuan Islam dengan mencampurkan unsur bahasa Arab asli dengan bahasa Melayu dan aksara Arab pegon Melayu. Sebut saja misalnya kitab Turjuman al-Mustafid yang ditulis oleh Syaikh Abd al-Rauf al-Sinkili (w. 1105 H/ 1693 M). Kitab ini ditulis oleh al-Sinkili memakai bahasa Melayu dan memakai aksara Arab pegon melayu. Kitab ini merupakan resepsi dari kitab Tafsir al-Baidhawi yang ditulis oleh Imam al-Qadhi al-Baidhawi (w. 685 H/ 1286 M).

 

Daftar Bacaan

Burhanudin, Jajat. “Nineteenth-Century Kitāb Jawi Sufi Works in Pattani, Thailand (Mainstreaming Ethical Sufism of Al-Ghazali”. al-Shajarah, No.1, Vol. 28 Tahun 2023.

Mansur, Moh. Arab – Pegon dan Tafsir al-Qur’an di Indonesia. Semarang: UIN Walisongo Press, 2017.

Taufan Prasetyo, Peranan Syaikh Daud bin Abdullah Al-Fatani dalam Memajukan Intelektual Islam di Patani, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2015.

Al-Ghazali, Abu Hamid, Minhaj al-‘Abidin ila Jannah Rabb al-‘Alamin, Beirut: Muasasah Risalah, 1989.

 

 

 

Related posts