Manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah (Part 1)

Sejarah Islam mencatat terbunuhnya khalifah Utsman Bin Affan karena terjadinya peristiwa huru-hara lebih dikenal dengan sebutan Al-fitnah Al-kubro. Peristiwa terbunuhnya khalifah Utsman Bin Affan karena perang saudara antara Ali Bin Abi Thalib dengan Muawiyah Bin Abi Sofyan yang tidak asing lagi di telinga kita dengan peristiwa Ghajwahtu shiffien (perang shiffien).

Bagaimana perang ini bisa terjadi? Tidak lain karena tuntutan dari pihak Muawiyah agar Khalifah Ali Bin Abi Thalib secepatnya dapat menangkap dan mengeksekusi pemberontak yang telah membunuh Khalifah Utsman Bin Affan. Muawiyah berasumsi bahwa khalifah Ali Bin Abi Thalib melindungi pemberontak hingga berimbas pada lambatnya kasus ini terungkap. Menurut  Bahri Khotimi (2016: 12-13) bahwa alasan lambatnya pengusutan karena khalifah Ali Bin Abi Thalib fokus terhadap upaya penyatuan umat Islam setelah terkotak-kotak dalam berbagai faksi akibat huru-hara.

Sebenarnya kemenangan pihak Ali Bin Abi Thalib dalam perang shifiien sudah ada dalam genggaman. Tetapi karena sesuatu hal adanya beberapa desakan dari beberapa pihak hingga akhirnya peperangan dihentikan melalui cara arbitrase atau dalam bahasa arab adalah tahkim.  Demi mempertahankan keutuhan umat islam maka perang shiffin diselasaikan dengan cara khalifah Ali Bin Abi Thalib mengutus Abdullah bin Qeis yang dikenal dengan sebutan Abu Musa al-Asy’ari dan Muawiyah Bin Abi Sofyan (Gubernur Syam) mengutus Amr Bin al-Ash guna merundingkan tahkim yang diselenggarakan di kota Daumatul Jandal.

Selanjutnya pertemuan antara kedua utusan tersebut dengan diisiasi ide gagasan dari Abu Musa yang mengusulkan Abdullah bin umar sebagai Khalifah kaum muslimin. Karena mendengar  ide gagasan Abu Musa, maka Amr Bin al-Ash menyimpulkan bahwa Abu Musa saat ini sudah tidak memiliki ikatan dengan Khaifah Ali bahkan ia bersedia menyerahkan mandat Khalifah kepada pihak lain tetapi masih dari kalangan sahabat-sahabat Rasulullah saw.

Berkat kepandaiannya dalam berdiplomasi Amr mengusulkan Muawiyah dan puteranya Abdullah Bin Amr untuk menjadi khalifah. Ternyata kecerdikan Amr  terbaca oleh keahlian Abu Musa dan akhirnya Abu Musa menyatakan  bahwa pemilihan Khalifah menjadi hak seluruh kaum muslimin (Khalid M Khalid 2004: 659-660). Dikutip dari buku “Al-Akhbaruth Thiwal” ditulis oleh Abu Hanifah Dainawari dalam Khalid M Khalid (2004: 660-664) yang berisikan percakapan-percakapan Abu Musa dan Amr, yakni:

Merujuk pada buku “Al-Akhbaruth Thiwal” buah tangan Abu Hanifah ad Dainawari dalam Khalid M Khalid (2004: 660-664) yang berisikan percakapan antara Abu Musa dengan Amr sebagai berikut:

(+) Hai Amr! Apakah Anda berharap ridha Allah swt dan kemaslahatan umat?

(-)  Apakah itu?

(+)  Bagaimana jika kita angkat Abdullah bin Umar alasannya karena ia tidak ikut campur dalam

peperangan ini.

(-)  Lalu bagaimana pandangan Anda terhadap Muawiyah?

(+)  Muawiyah tidakada tempat dan haknya disini.

(-)  Lalu Apakah anda juga tidak mengakui bahwa utsman dibunuh karena dianiaya?

(+)  Benar itu.

(-)   Hai agar Anda mengetahuinya bahwa muawiyah merupakan wali dan penuntut darahnya,

Sedangkan kedudukan dan asal-usulnya dikalangan bangsa Quraisy itu Anda sudah ketahui. Lalu bagaimana jika ada yang bertanya kenapa ia diangkat? Padahal ia tidak pernah ikut dalam peperangan itu. Cukup Anda berikan alasan bahwa ia merupakan wali darah Ustman dan Allah Swt berfirman: “Barang siapa yang dibunuh secara aniaya, maka kami berikan kekuasaan kepada walinya.” Selain itu, ia merupakan saudara Ummu Habibah yang tak lain adalah istri Nabi Muhammad Saw, serta ia juga salah satu dari sahabatnya.

(+)  Takutilah Allah hai Amr!  Jika Muawiyah memiliki kemuliaan yang seperti Anda ucapkan

Jika khilafah dapat diperolehnya melalui kemuliaan maka yang sebenarnya berhak

mendapatkan jabatan tersebut adalah Abrahah Bin Shabah keturunan raja-raja Yaman

Attababiah yang menguasai daerah bagian timur dan barat bumi. Lalu apa artinya kemuliaan

Muawiyah jika kita bandingkan dengan Ali Bin Ali Thalib? Seperti perkataanmu bahwa    Muawiyah adalah wali Ustman, terkesan lebuh utama daripada putera Ustaman yaitu Amr Bin Ustman. Jika kamu mengikuti anjuranku maka kita akan kembali pada sunnah serta mengenang kembali Umar Bin Khatab dengan mengangkat puteranya si Kyai Abdullah.

(-) Jika begitu sebenarnya apa yang menjadi halanganmu untuk mengangkat puteraku Abdullah? Sedangkan kamu mengetahuinya puteraku memiliki keutamaan keshalehan serta lebih dulu berhijrah dan bergaul dengan nabi.

(+) Kamu benar bahwa puteramu memiliki keutamaan dalam keshalehan dan berhujrah, tetapi kamu lupa bahwa kamu telah menyeret puteramu dalam lumpur peperangan ini. Karena itu sebaiknya serahkan kepada keturunan orang baik yaitu Abdullah Bin Umar.

(-) Hai Abu Musa, pekerjaan ini sebaiknya diberikan kepada laki-laki yang memiliki dua pasang gigi geraham saja, dimana gigi geraham itu berfungsi untuk makan dan memberi makan.

(+) Wahai Amr sangat keterlaluan kau, ingatlah seluruh kaum muslimin telah sepakat menyerahkan semua masalah ini kepada kita melalui proses berpanah-panahan dan bertempur dengan pedang. Sebaiknya jangan kita jeremuskan mereka kepada fitnah yang keji.

(-)  Bagaimana menurut pendapatmu?

(+) Sebaiknya kita tanggalkan jabatan itu dari Ali Bin Abi Thalib dan Muawiyah dan kita serahkan saja kepada Permusyawaratan seluruh kaum muslimin biarkan mereka yang menilai siapa yang lebih amanah mengemban sebagai Khalifah.

(-) Jika seperti itu saya sependapat dengan kamu, sejatinya disanalah keselamatan jiwa para manusia.

Percakapan antara Abu Musa dan Amr diatas menghasilkan kesepakatan yaitu dengan menonaktifkan jabatan Khalifah dari Ali Bin Abi Thalib dan Muawiyah.

Referensi

Khalid Muh Khalid, 2004. Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah. Bandung: CV.Diponegoro

Nurdin Ali, Mikdar Syaiful, Suharmawan Wawan, 2008. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Universitas Terbuka.

Bahari Khotimi 2016. Oase Manhaj Ahli Sunnah Waljamaah. Bandung: Masagi Inpration.

. Klik Part (2) 

Related posts