Mawar Hitam Ilmiah Akademisi

mawar hitam ilmiah akademisi
mawar hitam ilmiah akademisi

Mawar Hitam Ilmiah Akademisi. –Dunia pendidikan tinggi saat ini tengah diguncang oleh skandal “mawar hitam” penelitian para akademisi. Virus yang kerap muncul sebelumnya adalah soal plagiarisme yang berhasil diringkus dengan menggunakan plagiarism checker seperti Turnitin. Kini badai yang mencederai kesucian ilmiah para manusia-manusia bertoga itu datang lagi dengan rupa joki penelitian ilmiah.

Beberapa waktu terakhir lembaga-lembaga Perguruan Tinggi sempat santer mengumumkan guru-guru besarnya. Sebenarnya dari situ sudah mulai tercium akan adanya aroma kompetisi publikasi manusia-manusia profesor yang mencurigakan. Hanya dalam waktu singkat masing-masing kampus kembali mengumumkan hal yang sama lewat akun media sosial masing-masing.

Jabatan ilmiah sebagai guru besar memang akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Baik itu untuk individunya maupun untuk institusinya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu, anggaplah itu sebagai bagian dari bentuk “ihtirom” terhadap para resi pengetahuan. Namun ini akan menjadi bias saat menilik bagaimana cara yang dilakukan untuk menggapai derajat itu semua.

Sebuah Siasat atau Kesesatan

Mawar Hitam Ilmiah Akademisi. —Untuk mencapai derajat guru besar tidak sedikit persyaratan yang harus ada. Antara lain adalah rekapitulasi nilai cum yang berasal dari racikan jurnal atau karya ilmiah berskala nasional sampai internasional. Bila semua berjalan sesuai dengan jalannya memang tampak sukar-sukar indah.

Para akademisi itu manusia biasa juga, ini yang perlu kita sadari. Mereka memiliki tanggungan kehidupan lain bersama keluarganya dan lingkungan sosialnya. Sementara setiap dari mereka pasti mendapat beban administrasi kampus yang cukup lumayan menyita energi dan waktunya.

Di sisi lain, institusi juga sangat membutuhkan produktivitas para akademisi agar bisa mengangkat citra lembaganya. Sebab bila tidak, maka beberapa kemungkinan yang tidak baik bisa terjadi sehingga institusi bisa tersingkir dari pergulatan dunia pendidikan tinggi.

Baca juga: Bahasa Arab dan Psikologi Orang Arab

Untuk memecahkan situasi tersebut muncullah beberapa “ijtihad” manajerial karya. Berdasarkan beberapa laporan dari media daring dan mainstream ada tim khusus bentukan institusi yang bersangkutan guna mengurus percepatan publikasi ilmiah akademisi-akademisi tertentu. Ada juga akademisi yang mencantumkan nama pada karya mahasiswanya sebagai peneliti utama. Pun ada juga hasil tugas akhir yang berubah format ke dalam bentuk buku kemudian ditambahi beberapa tulisan sang akademikus dan langsung dicantumkan namanya dalam karya tersebut sebagai penulis utama.

Pembusukan Intelektual dan Hal yang Belum Selesai

Mawar Hitam Ilmiah Akademisi. —Bila kita membaca komentar dari beberapa ahli literasi nasional seperti misalnya Maman Suherman, Okky Madasari dan Ariel Heryanto, fenomena ini adalah semacam hal yang menjijikan dalam dunia akademisi. Sebuah aktivitas pembusukan intelektual yang berpotensi menjadi budaya di dunia pendidikan tinggi.

Kita sepakat bahwa persoalan ini harus diusut dan kemudian dicarikan jalan keluarnya. Sebab bila tidak, maka persoalan ini hanya akan menjadi konsumsi publik yang tak lekas usai untuk dikunyah.

Beban administrasi para akademisi tampaknya perlu untuk ditinjau ulang. Sebab di antara hal yang dikeluhkan oleh mereka adalah perkelahian antara tugas mengajar dan mengetik berbagai berkas-berkas pelengkap jabatan mereka. Bahkan sampai pada titik di mana waktu untuk mengajar dan waktu untuk meneliti sebagai bentuk eksplorasi dan penyegaran ilmu, mesti diatur sedemikian rupa agar keduanya tetap hidup.

Baca juga: Panji Modern Sastra Arab di Timur Tengah

Kolaborasi dalam penelitian ilmiah antara yang tua dan yang muda mesti dibuka. Relasi di antara keduanya harus dibangun dengan landasan kejujuran dan monitoring yang baik. Agar tidak terjadi adanya eksploitasi pengetahuan yang berujung pada karya yang asal jadi.

Tidak ada yang Benar-benar Suci

Ada banyak modus jasa perjokian di dalam dunia pendidikan tinggi. Semuanya tidak bisa dipandang secara reduktif. Semua varian memiliki “qarinah”-nya masing-masing. Oleh karenanya sikap untuk tidak melakukan justifikasi dan generalisasi awal adalah langkah yang cukup bijak sampai hasil investigasi dari pihak-pihak terkait keluar.

Kemampuan literasi yang rendah dan daya kritik yang berposisi jongkok semata-mata bisa jadi sebab sekaligus akibat. Ia menjadi sebab di mana jasa perjokian tumbuh subur, juga menjadi akibat atas belenggu administrasi yang terasa berat untuk dipikul. Bahkan cenderung mempersempit ruang untuk bereksplorasi.

Oleh karena itu kasus ini tidak bisa diselesaikan dengan deretan dakwaan dan cacian. Melainkan harus dibuka dengan diskusi dan perbincangan yang sehat serta jujur oleh semua civitas perangkat negara yang terkait. Semua tidak lain agar kita berfokus pada jalan keluar masalah, bukan semakin berpesta pora dalam keributan dan kegaduhan masalah.

Related posts