Melacak Makna Lailat al-Qadr dan Proses Turunnya Al-Qur’an

Bagi umat muslim, Ramadhan dimaknai sebagai bulan al-Qur’an, karena ia menjadi tonggak sejarah di mana al-Qur’an pertama kali diturunkan, serta menjadi simbol pertama kali pengangkatan kenabian Muhammad Saw. Tak heran, tadarus dan peringatan Nuzūl al-Qur’an menjadi tradisi Ramadhan yang tak dapat dilewatkan. Namun, apakah kita menyadari, bagaimana wahyu itu diturunkan ?

Sejatinya, Allah menurunkan al-Qur’an dengan caranya sendiri. Setidaknya para ulama menyoroti dalam hal ini bahwa al-Qur’an diturunkan melalui dua acara, sebagaimana Jalaluddin al-Suyuthi dan Syaikh ‘Ali al-Shabuni mengemukakan.

Read More

Cara pertama, Allah menurunkan al-Qur’an secara sekaligus melalui Jibril dari Lauh al-Mahfūdz yang kemudian disimpan di langit dunia (as-Samā’ ad-Dunyâ) yang dinamakan Bait al-Izzah. Hal ini didasarkan firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQur’an) pada malam kemuliaan” (Q.S. Al-Qadr : 1)

Al-Baidhawi dalam tafsirnya menjelaskan:

“Anzalahu Jumlatan Wāhidatan fȋ Lailatil-Qadr minal-Lauh al-Mahfūzh ila as-Samā’ ad-Dunyā fawadlo’uhu fȋ Bait al-‘Izzah”

Adapun artinya sebagai berikut:

Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus pada malam Lailat al-Qadr dari Lauh al-Mahfūdz ke langit dunia, dan kemudian disimpan di Bait al-‘Izzah”. (Muhammad Husain ibn Mas’ud al-Baghawi: Ma’alim al-Tanzil, J.8, 485).

Berdasarkan petunjuk tersebut, dapat dipahami bahwa Lailat al-Qadr merupakan suatu waktu di mana al-Qur’an diturunkan secara sekaligus yang tersimpan di Bait al-Izzah. Keterangan tersebut diperkuat sebagaimana dikutip al-Qaththan yang mengacu kepada hadits yang diriwayatkan Ibn ‘Abbas: Dari Ibn ‘Abbas berkata: “Al-Qur’an turun secara sekaligus ke langit dunia pada malam Lailat al-Qadr, kemudian setelah itu ia diturunkan selama dua puluh tahun”

Akan tetapi, secara eksplisit ayat tersebut menunjukkan keumuman makna, karena tidak tertera apakah Lailat al-Qadr merupakan suatu waktu dan keadaan al-Qur’an diturunkan sekaligus, atau waktu dan keadaan di mana wahyu pertama diberikan kepada Nabi Muhammad ? Keadaan inilah yang membentuk makna ganda Lailat al-Qadr.

Cara kedua, setelah al-Qur’an disimpan di langit dunia, Jibril memberikan wahyu kepada Nabi secara berangsur-angsur selama kurun waktu 23 tahun yang terbagi pada 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Pendapat ini diambil mayoritas ulama dan diperkuat dengan hadits Ibn ‘Abbas. Tapi ada juga yang mengatakan, al-Qur’an diturunkan berangsung-angsur selama 20 tahun. Keterangan tersebut masih pula disandarkan pada riwayat Ibn ‘Abbas sebagaimana dikemukakan hadits di atas.

Wahyu pertama yang disampaikan kepada Nabi adalah lima ayat awal dari surat al-‘Alaq ketika ia menghabiskan waktu ber-tahannuts di Gua Hira. Wahyu pertama itu terjadi pada bulan Ramadhan sebagaimana dijelaskan firman Allah: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) AlQur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (Q.S. Al-Baqarah :185).

Menurut ‘Ali al-Shabuni, proses terjadi turunnya al-Qur’an dari Lauhul Mahfūdz ke Bait al-‘Izzah dan kemudian sampai kepada nabi dilakukan pada satu malam, karenanya waktu itu dinamakan malam yang penuh berkah, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”. (Q.S. Al-Dukhan : 3). Istilah lain malam diberkahi adalah Lailat al-Qadr.

Dengan demikian, makna ganda inilah yang dipakai, bahwa Lailat al-Qadr merupakan suatu keadaan proses turunnya al-Qur’an secara sekaligus berikut diberikannya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw dalam satu waktu secara bersamaan. Pendapat ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan Ibn ‘Abbas:

“Anzalahul-Qur’ān fi Lailatil-Qadr fi Syahri Romadlōn ila Samā’ ad-Dunyā Jumlatan Wahidah, tsumma Anzalahu Nujūman”

Yang artinya: Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailat al-Qadr pada bulan Ramadhan dengan sekaligus ke langit dunia, kemudian ia diturunkan secara berangsur-angsur.

Related posts