Memahami Sunnah dan Hadis Masa Kini

Pengertian sunnah berarti tingkah laku yang merujuk pada sesuatu yang diteladani dan patuh terhadap keyakinan religi, tetapi sifatnya di luar unsur pemahaman secara rasio. Sunnah adalah tradisi yang bersifat normatif dengan keutamaaan dalam berperilaku sesuai perilaku dari Nabi Muhammad Saw.

Ketika mencari makna serta tujuan yang di dalam Al-Qur’an yang dilakukan para mufassir pada langkah pertama yaitu, pendalaman makna di dalam ajaran-ajaran sunnah. Hal ini disebabkan karena ucapan dan perilaku Nabi dapat menjebatani penjelasan makna di balik ayat-ayat Al-Qur’an secara valid.

Akan tetapi di zaman kontemporer ini umat Islam berontak kepada otoritas sunnah yang termuat seperti konsep, fungsi bahkan makna harus di rekonstruksi. Salah satu penggagas dalam perumusan kembali sunnah agar fleksibel di era kekinian ini serta masih bersifat relevan terhadap kemajuan peradaban umat Islam adalah Fazlur Rahman. Dengan pemikiran Rahman tersebut mengakibatkan beliau mendapat kecaman dari ulama konservatif.

Latar Belakang Pemikiran Fazlur Rahman

            Keluarga yang agamis Rahman sangat mempengaruhi pola pemikirannya dimana ayahnya sendiri adalah seorang ulama penganut mazhab Hanafi yang mana cenderung menekankan terhadap penggunaan rasional dibandingkan mazhab lainnya. Dari ayahnya juga rahma dibekali wawasan terkait hadis dan syari’ah.

Sikap keraguan terhadap hadis telah muncul dalam diri Rahman yang masih berusia belasan tahun. Seperti keraguan terhadap sumber dari hadis yang menurutnya sebagian dari hadis bukan berasal dari Nabi, namun dari sahabat, tabi’in, dan para generasi Muslim sesudahnya.

Terdapat tiga alasan lahirnya pemikiran Rahman terhadap upaya rekonstruksi yaitu, pertama terjadinya pergolakan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis di negara asalnya di Pakistan dengan tuntutan agar definisi dari Islam cocok dengan kehidupan masyarakat Muslim Pakistan serta sesuai dengan tuntutan syari’at Islam.

            Kedua komunikasi Rahman dengan Barat yang terjadi secara mendalam ketika hidup disana, sehingga membuat dirinya sadar akan problematika yang dihadapi umat Islam kontemporer ini. Ketiga respon Rahman terhadap kesarjanaan Barat yang melakukan kritik terhadap hadis.

Kritikan yang dilakukan oleh kesarjanaan Barat terhadap sumber hukum Islam secara tidak langsung membuat Rahman memberikan respon terhadap kesahihan dan normatifitas hadis. Di sisi lain kegelisahan Rahman terhadap Umat Islam di masa itu cenderung menutup pintu Ijtihad, dampaknya adalah mereka mengalami kemacetan intelektual dan membuatumat Islam tidak bersifat dinamis terhadap perkembangan zaman.

Tertutupnya pintu ijtihad membuka peluang bagi terbukanya pintu taqlid, yakni penerimaan terhadap suatu doktrin atau mazhab secara mentah-mentah tanpa disertai pertimbangan yang kritis. Dalam hal ini menurut Rahman, metode yang mereka gunakan bersifat parsial, maka hasil yang mereka tuai adalah pemahaman keagamaan dan pranata hukum yang arbitrer tanpa menghiraukan aspek kesejarahannya.

Perombakan makna sunnah dan hadis menurut Fazlur Rahman

            Menurut Rahman konsep sunnah Nabi adalah konsep yang sifatnya shahih dan operatif dimana sudah terjadi di awal Islam hingga saat ini. Meskipun di dalam al-Qur’an tidak ada ungkapan mengenai sunnah, akan tetapi menurutnya dalam konsep sunnah Nabi telah eksis sejak awal Islam.

Untuk menguatkan pendapatnya tersebut terhadap eksistensi sunnah dan hadis Rahman mengarah pada kalam al-Qur’an yang telah menegaskan bahwa dalam diri Nabi terdapat suatu teladan yang amat baik dan layak untuk diikuti (uswah hasanah). Maka dari itu Rahman memberikan makna terhadap sunnah sebagai ideal yang akan ditiru oleh generasi Muslim di masa lampau.

Penafsiran terhadap perilaku teladan Nabi yang sesuai dengan kebutuhan dan materi baru yang didapatkan dari Nabi. Bahwa dengan penafsiran yang kontinu dan progresif meskipun mempunyai perbedaan bagi setiap daerah yang berbeda dapat disebut juga sebagai sunnah.

Pendefinisian sunnah yang baru ini adalah sebuah praktek yang diperoleh dari hasil kesepakatan bersama disebut sunnah yang hidup berbentuk dalam ijma kaum muslimin serta hasil dari ijtihad para ulama dan tokoh politik. Pendefinisian ulang ini mengandung dua pegertian yaitu:

a). Sunnah atau presen dapat diambil dari orang yang berkompeten

b). Sunnah yang berasal dari Nabi Saw mempunyai kedudukan yang tinggi daripada preseden lainnya serta terdapat prioritas yang harus diutamakan.

Rahman juga membuat dua kategori terhadap sunnah sebagai berikut:

a). Sunnah ideal yang diartikan sebagai sunnah tradisi (praktik) dan hadis yang diartikan sebagai tradisi (verbal). Keduanya di orientasikan kepada Nabi untuk mendapat normatifitas.

b). Living tradition yang semula adalah sunnah ideal setelah ditafsirkan menjadi sebuah praktek aktual untuk umat Islam. Menjadi sebuah sunnah yang hidup didalamnya mengalami mengalami modifikasi secara terus-menerus oleh subjek karena adanya berbagai macam tambahan perubahan dalam zaman. Dengan kata lain, dinamis seiring perkembangan masyarakat yang dihadapkan berbagai macam persoalan yang membutuhkan solusi modifikatif.

Rujukan Bacaan:

Farida, Umma. Studi Pemikiran Fazlur Rahman Tentang Sunnah dan Hadis. (2013). “Jurnal Addin: Media Dialektika Ilmu Islam”, vol. 7, no.2.

Hairillah, H. (2015). Kedudukan as-Sunnah dan Tantangannya Dalam Hal Aktualisasi Hukum Islam. (2015). “Jurnal Mazahib: Jurnal Pemikiran Hukum Islam”, vol. 14, no.2.

 

 

 

 

 

 

 

 

Related posts