Membaca Dialektika Perkembangan Bahasa Arab

  • Whatsapp

Membaca Dialektika Perkembangan Bahasa Arab

Judul Buku: Linguistik Arab, Pengantar Sejarah dan Mazhab

Penulis: Azis Anwar Fachrudin

Penerbit: DIVA Press

Cetakan: I, Mei 2021

Tebal: 258 halaman

ISBN: 978-623-293-411-5

 

Dalam perjalanan Islamisasi setelah periode awal penaklukan, bahasa Arab disebarkan sebagai bahasa tertulis di sub-Sahara Afrika, Asia Tengah, Selatan dan Tenggara. Vesteegh (2020) menyebutkan, waktu itu pengajaran bahasa difokuskan pada transmisi teks, di antaranya adalah (teks) al-Quran. Di sekolah, teks yang ditulis dalam bahasa yang dipelajari, dijelaskan dalam bahasa lokal, seperti Persia di Iran, Swahiki di Afrika Timur dan Melayu di Indonesia (bisa juga bahasa daerah masing-masing, seperti Jawa).

Buku Azis Anwar Fachruddin yang bertajuk Linguistik Arab; Pengantar Sejarah dan Mazhab (2021) ini setidaknya merangkum sejarah sangat panjang itu, dimulai dari genealogi dan autentifikasi bahasa (Arab) hingga berkembangnya bermacam-macam mazhab, seperti Kufah, Basrah sekaligus masing-masing metodologinya.

Bagi kalangan pesantren, tentu tak asing dengan kitab yang berjudul Alfiyah karya Ibn Malik, nazam seribu bait yang menerangkan kaidah tatabahasa Arab tingkat akhir. Ibn Malik adalah tokoh linguis abad ke-13. Jauh sebelumnya, ada seorang pemuda yang hidup pada abad ke-8 bernama Sibawayhi. Ia adalah murid al-Khalil ibn Ahmad, penulis kamus bahasa Arab pertama dalam sejarah.

Sibawayhi barangkali adalah seorang linguis pertama yang menuliskan kaidah gramatika dalam sebuah buku. Buku tersebut adalah hasil pola pembelajaran yang, alternatifnya, guru meminta siswa melafalkan teks dari sebuah naskah, sementara guru menilai kebenarannya. Proses ini disertai dengan penjelasan lisan dari, sekaligus membenarkan poin-poin yang keliru (Vesteegh, 2020). Mirip seperti model sorogan ala pesantren.

Ilustrasi interaksi intensif antara siswa dan guru tersebut dapat kita temukan dalam karya Sibawayhi. Buku tersebut berisi hampir 600 kutipan dari apa yang diajarkan al-Khalil kepadanya. Azis menyebutkan, Sibawayhi sebenarnya belum selesai merampungkan karyanya itu. Bahkan Sibawayhi belum sempat memberikan kata pengantar (mukadimah) dan kata penutup. Walhasil, al-Akhfasy al-Ausath lah yang memberi nama karya Sibawayhi itu dengan al-Kitab (hal. 155).

Dalam buku ini, Azis menceritakan kisah menarik sekaligus tragis mengenai perdebatan antar dua kubu linguistik besar, Kufah dan Basrah. Di kubu Basrah ada Sibawayhi sedang di kubu Kufah ada al-Farra’ dan al-Kisa’i, serta beberapa tokoh linguis lainnya. Kelak polemik ini terkenal dengan sebutan masalah zanburiyyah.

Singkat cerita, akhirnya Sibawayhi datang ke istana Gubernur Yahya bin Khalid al-Barmaki, di sana sudah hadir tiga linguis Kufah; Khalaf, al-Farra’ dan al-Kisa’i. Perbedatan dimulai, Khalaf maju untuk mengajukan pertanyaan pembuka. Sibawayhi menjawab, namun Khalaf menyalahkannya, akhta`ta! Kamu salah!. Lalu Khalaf bertanya lagi untuk kedua dan ketiga kalinya. Lagi-lagi Khalaf menyalahkan jawaban Sibawayhi. Kemudian lawan debat Sibawayhi diganti al-Farra’, lagi-lagi Sibawayhi dibuat terpojokkan. Giliran al-Kisa’i, penggede linguis Kufah, maju.

“Bagaimana pendapatmu tentang kalimat ini,

قد كنت أظن أن العقرب أشد لسعة من الزنبور فإذا هو هي أو فإذا هو إياها

Artinya; aku meyakini bahwa kalajengking lebih cepat sengatannya daripada zunbur(lalat kerbau), maka demikianlah adanya.

Yang ditanyakan al-Kisa`i adalahفإذا هو هي atau فإذا هو إياها . Sibawayhi memilih jawaban yang pertama; dengan rafa’ bukan nashab. Karena perdebatan semakin sengit, akhirnya Gubernur Yahya menengahi keduanya dengan menghadirkan orang Arab Badui untuk memutuskan mana yang benar dari keduanya. Walhasil, orang yang ditunjuk Yahya itu membenarkan pendapat al-Kisa’i dan menyalahkan jawaban Sibawayhi. Sejak itu Sibawayhi tak lagi muncul di Basrah maupun Baghdad. Ia kembali ke Syiraz, kampung kelahirannya hingga wafatnya.

Dari dua mazhab besar tersebut, nahwu kemudian hari berkembang menjadi beberapa mazhab baru, di antaranya Andalusia, Mesir, dan Baghdad. Azis hanya menyinggung secara sekilas soal perkembangan mazhab tersebut. Penjelasan yang lebih panjang dapat kita baca dalam al-Madaris al-Nahwiyyah, karya Syauqi Dhaif, seorang sastrawan kebangsaan Mesir.

Dalam buku ini, Azis juga menyertakan istilah-istilah linguistik Arab tradisional dalam bahasa yang sederhana. Tentu ini memudahkan untuk pembelajar pemula yang belum sepenuhnya mengetahui arti masing-masing istilah dalam nahwu. Ditambah, ia juga menyertakan istilah-istilah linguistik modern di bagian akhir dengan mendaftar istilah-istilah tersbeut beserta padanannya dalam gramatika bahasa Inggris, misalnya, active pariticiple=isim fail.

Barangkali satu kekurangan buku ini adalah, contoh-contoh yang disajikan tidak semua berharakat dan disertakan terjemahnya. Sebagai buku pengantar yang ditujukan untuk pemula, barangkali lebih baik contoh-contoh yang disajikan itu dilengkapi dengan harakat dan terjemahnya. Namun, kekurangan tersebut tidak lantas menafikan bahwa buku ini sangat penting dibaca, terutama bagi kalangan pembelajar bahasa dan sastra Arab di Indonesia, di mana buku semacam ini masih langka dan kebanyakan masih dalam teks asli dengan bahasa Arab sebagaimana lazim dipelajari di pesantren. Wallahu a’lam.

Pos terkait