Mencari Tuhan

banner 468x60

Dalam ajaran Islam tidak hanya mengajarkan masalah-masalah yang terjadi secara eksternal dalam menuntun manusia ke jalan yang diridhoi Allah dan untuk mengetahui takdir yang ia lalui ke depannya, tetapi juga menerangkan tentang berbagai hal yang bersifat internal dalam sudut pandang humanis dengan teologi dan implementasinya.

Hal ini telah dijabarkan kepada para pengikut ajarannya dengan berbagai bukti konkrit dan pergulatan pemikiran yang sangat beragam, serta dapat menjadi pedoman hidup bagi manusia. Dari berbagai pemikiran yang ada, salah satu pemikiran yang paling rawan dalam pertentangan yakni mengenai pemikiran Tasawuf.

Pembahasan tentang pemikiran Ilmu Tasawuf ini memang membutuhkan suatu ruang berpikir kritis, cermat, dan pendalaman yang lebih hati-hati. Sehingga proses pembahasan ini membutuhkan keahlian metodologi sekaligus tipologi dan pengalaman langsung untuk memudahkan kita menerangkan makna apa yang sesungguhnya dialami oleh tokoh-tokoh saat menuangkan buah pemikirannya lewat tindakan sebagai bentuk dukungan terhadap keyakinannya.

Dewasa ini, pengkajian Ilmu tasawuf sampai pada masa dimana orang-orang telah berpikir maju dan lebih modern. Kali ini kita akan membahas Bagaimana eksistensi “Tuhan” masa kini. Apakah Tuhan itu cuma satu? Mengapa harus melibatkan Tuhan dalam segala hal? Bagaimana membangun kepasrahan dan berharap hanya kepada Allah di era modern ini?

Apakah Tuhan itu Cuma Satu?

Seperti yang dipaparkan dalam bagian pendahuluan, bahwa pembahasan kali ini membutuhkan ruang berpikir yang kritis dan tajam. Khususnya dalam bidang ketauhidan. Memang dewasa ini, perkembangan ajaran Islam sudah meluas dan berkembang pesat, tetapi akankah hal ini menjadi aman dan stabil ? Tentunya hasil ini pantas untuk diulas dan dikaji kembali.

“Mengapa kita membahas masalah Tauhid?” “Bukankah kita selama ini selalu dan sudah menyembah Allah?” Betul sekali, selama ini kita sudah sujud kepada Allah dalam sholat yang wajib lima waktu kita, tetapi dalam keseharian belum tentu kita bersih tauhidnya, dan belum tentu kita selamat dari sikap tidak menduakan-Nya.”

Kebanyakan orang sering mencampuradukkan antara ketauhidan dan kemusyrikan dengan dalih syariat. Sebagai contoh ‘meminta doa dari orang alim, orang wara’ memang dibolehkan, bahkan menjadi Sunnah Nabi. Tetapi minta wafak, jimat, dan seterusnya sangat diharamkan. Bahkan jika kita mendewakan telepon genggam (handphone) sehingga kita lupa akan kewajiban kita, maka hal ini dapat memicu timbulnya benih-benih kemusyrikan, yang menurut aliran Ahlussunnah wal Jama’ah, juga sangat mengharamkan menyekutukan Allah.

Dalam Kitab Suci, Allah menyinggung hal ini tentang orang-orang yang mencampuradukkan antara ketauhidan dan kemusyrikan, baik dalam takaran kepercayaan maupun dalam takaran perbuatan setiap harinya. Berikut makna yang dapat diambil dari surah Az Zumar: 3 yakni “Ketauhilah sesungguhnya hanya Allah-lah kemurnian pengabdian dituju. Dan golongan orang mengambil pelindung, penolong, selain Allah, kerap berkata kami sekali-kali tidak menyembah mereka kecuali sebagai media untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah.”

Dalam al Quran surat Al-Ikhlash ayat 1-4 yang artinya “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada satupun makhluk yang setara dengan Dia (Allah)”. Allah lah Tuhan semesta alam. Tuhan Yang Maha Esa. Tiada yang mempu melebihi kekuasaan-Nya. Maka kita sebagai hamba harus patuh dan taat, serta menjauhi larangan-Nya.

Libatkan Allah dalam Segala Hal

Kebanyakan orang dalam mencari jalan keluar dari setiap kesusahan dan kesulitannya tanpa melibatkan Allah diawal ikhtiarnya, dan terkadang dalam kasus ini sering kali dijumpai kata “grusa-grusu” diseluruh gerak ikhtiarnya. Misal: ketika punya hutang, ia sejalan-jalannya mencari solusi bagi hutangnya. Akhirnya, perilakunya dalam mencari solusi hutang terkesan penuh kegelisahan dan kepanikan.

Pada kasus ini, jauh-jauh hari sebelum kita mencari solusi lebih tepatnya diawal permulaan pergerakan mencari solusi, kita libatkan Allah dalam setiap langkah kita mencari jalan keluar. Allah Yang Maha Penolong, dan akan menjadi sia-sia jika perbuatan kita tidak diridhoi Allah. Jadi, kita minta dimudahkan setiap urusan sejak dari awal mula kesulitan terasa. Allah akan memberikan beribu jalan pintu rejeki yang berkah dan melimpah.

Seperti yang diketahui dan diyakini bahwa Allah-lah Penolong yang terbaik, Pembebas derita yang terarif, yang jarang sekali mengukur besaran dosa ketika kita mau bertaubat dan meminta Ampunan-Nya dan Allah selalu menghendaki pertolongan-Nya terhadap siapapun hamba-Nya tanpa pilih kasih. Makanya rugi bagi kita jika tidak melibatkan Allah dalam segala hal rencana maupun usaha kita.

Teori kita jalankan, upaya kita kerahkan, ikhtiar kita lakukan, tetapi hasilnya ada kepada Allah semata. Allah Yang Maha Segalanya Lagi Maha Kuasa. Semuanya tak lepas dari kehendak Allah dan ridho-Nya. Manusia hanya berusaha, berdoa, dan berikhtiar kepada Allah. Seperti kandungan dari surah Az Zumar ayat 44 “Katakanlah, hanya kepunyaan Allah saja segala pertolongan berada. Bagi-Nya kekuasaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya segalanya akan dikembalikan.

Membangun Kepasrahan dengan Berharap pada Kebesaran Allah

Orang yang tidak percaya akan kekuasaan Allah sangatlah rugi dan tertipu oleh kenikmatan dunia yang fana ini. Dia bisa melakukan hal diluar batas kemampuan manusia. Dia bisa melakukan apa yang tidak bisa dilampaui manusia. Allah Maha Kuasa Maha Segala-galanya. Allah Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Allah Maha Pemurah dan Maha Pemberi Rejeki.

Di era ini, membangun kepasrahan kita awali dengan mensucikan hati dan menjauhkan diri dari hal yang tidak terpuji. Bagaimana kita pasrah akan setiap menit dalam kehidupan sehari-hari? Kemauan kita diuji. Kehendak kita dikaji. Apakah perilaku dan perbuatan kita tergolong dalam standar makna “pasrah”? “Sudahkah kita selalu berharap pada kebesaran Allah?” Tentunya kita sebagai manusia tak luput dari khilaf dan dosa.

Pengkajian tasawuf ini akan membantu kita dalam mensucikan hati dan diri. Kepasrahan dalam setiap ujian dan masalah akan menjadikan hati kita tenang. Ketenangan hati ini berdampak baik pada jiwa dan fisik kita. Karena Allah menjamin semua urusan setiap manusia akan diselesaikan-Nya asalkan ia mau berdoa, pasrah, beribadah dengan baik kepada-Nya dan memelihara dirinya dari godaan yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah.

Seperti yang sudah dijelaskan dalam surah Ath-Thalaq: 2-3 bahwa “Siapa saja yang memelihara dirinya di hadapan Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesulitannya dan Dia akan memberikan rezeki kepadanya dengan tiada disangka-sangka. Dan siapa saja yang memasrahkan urusannya hanya kepada Allah, niscaya Dia akan membantunya.”

Pos terkait