Menelaah Cinta Allah

banner 468x60

Manusia membutuhkan pegangan hidup yaitu agama. Dalam diri manusia terdapat keyakinan yang mengakui adanya Zat yang maha kuasa, tempat memohon perlindungan dan pertolongan. Manusia harus menigkatkan Iman dan Taqwa kepada Allah SWT dengan menjaga, dan memperbaiki, Untuk mecapainya bisa melalui dunia tasawuf.

Tasawuf sering disebut sebagai dunia mistik, dalam pencapaiannya dengan cara meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan indera dan rasio.

Arti meditasi dan spiritual

Meditasi adalah salah satu bentuk latihan kita sebagai manusia untuk memusatkan dan menjernihkan pikiran. Spiritual adalah yang berhubungan dengan sifat kejiwaan (rohani dan batin).

Pemberhentian terakhir di jalan mistik adalah mahabbah atau cinta. Mahabbah merupakan tingkat tertinggi dalam pencapaian kita menuju Allah, persoalan mahabbah adalah menyangkut aspek esoterik atau batin. Cinta atau mahabbah tidak dapat kita pelajari melainkan adalah anugerah dari Illahi dan datang atas kehendakNya.

Menurut Santo Agustinus, orang dapat mengenal sesuatu hanya sesuai dengan cinta kepadanya.  doa yang Rasulullah mengucapkan doa yang merupakan titik tolak yang baik. “ Ya Tuhan, berilah aku cintamu dan cinta mereka yang mencintaimu, dan cinta yang membuatku mendekati cintamu, dan buatlah cintamu melebihi cinta dari air sejuk.

Seperti yang saya baca, dalam dunia tasawuf tak ada definisi yang pasti tentang cinta. Setiap sufi memberikan definisi yang berbeda dan tidak memungkinkan untuk menjelaskan semua definisi tersebut. Karena itulah saya ingin mencoba untuk menelaah teori cinta Illahi dari tokoh sufi perempuan yang pertama kali mengemukakan kecintaanya pada sang kholik yakni Rabi’ah Adawiyah. Menurut saya sangat menarik mengkaji Rabi’ah Adawiyah, karena seorang sufi wanita yang memilih menjalani hidup hanya dengan Sang Kekasih dan tidak adalagi ruang di hatinya untuk mencintai selainnya.

Sebagimana yang Rabi’ah Adawiyah katakan yaitu:

كُلُّهُمْ يَعْبُدُوْكَ مِنْ خَوْفِ نَارٍ وَيَرَوْنَ النَّجَاةَ حَظّاً جَزِيْلاً أَوْ بِأَنْ يَسْكُنُوْا الجِنَانَ فَيَحْظُوْا بِقُصُوْرِ وَيَشْرَبُوْا سَلْسَبِيْلاً لَيْسَ لِيْ باِلجِنَانِ وَالنَّارِ حَظٌّ أَنَا لَا أَبْتَغِيْ بِحُبِّيْ بَدِيْلاً

Artinya, “Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah. Atau mereka menempati surga, lalu  mendapatkan istana dan meminum air. Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti.”

Kisah Rabiah

Rabiah Al-Adawiyah memaknai shalat, puasa, zakat, haji, dan ragam ibadah lainnya sebagai bentuk cintanya kepada Allah. Rabiah Adawiyah meningkatkan derajat pengabdiannya atas dasar rasa cintanya semata kepada Allah dari pengabdian “transaksional” yang berisi imbalan kenikmatan surga dan penyelamatan dari siksa neraka.

Pernah mendengar dari ucapan Habib Husein bin Ja’far Al-HadarJangan sekali menukar amal ibadah semata-mata hanya untuk hal-hal yang menurut Allah itu sangat kecil seperti, niat ibadah karna ingin mendapatkan surga”.  Contoh kisah Rabiatul adawiyah ketika membawa air dan obor di siang hari. “mengapa engkau membawa obor di siang hari? Dia menjawab “aku ingin membakar surga agar orang-orang tidak beribadah karena imbalan surga dan aku ingin menyiram api neraka agar orang-orang beribadah bukan karena takut api neraka”.

Cinta kepada Ilahi (al-Hubb al-Ilah) Rabi’ah al-Adawiyah dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai tertinggi. Mahabbah dan ma’rifat merupakan tidak bisa terpisahkan. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi mengatakan, cinta para sufi dan ma’rifat itu melalui pandangan dan pengetahuan tentang cinta abadi dan tanpa pamrih kepada Allah. Cinta itu tumbuh begitu saja.

Bentuk Cinta

Rabi’ah mengisyaratkan adanya dua bentuk cinta. Pertama, cinta yang lahir dari kesaksian kita kepada kemurahan Allah dalam bentuk kecukupan hajat hidup insaniyah dan kenikmatan inderawi (Hissiyah) serta kehormatan harga diri (ma’nawiyah), sehingga tiada disangka jika hati kita cenderung dan tergiring untuk mencintai Dzat pemberi kemurahan, maka ini disebut dengan hubbul-hawa. Kedua, cinta yang lahir dari kesaksian hati kita kepada kepada adanya kesempurnaan. Pada saat demikian, secara otomatis lahir rasa cinta kita yang kokoh kepada Allah.

About Post Author

Pos terkait