Menemukan Asal-usul Isim, Menemukan Karakter Hamba

8. bagaimana asal usul isim
8. bagaimana asal usul isim

Salah satu bab yang digagas oleh Imam al-Qusyairi dalam kitab Nahwu al-Qulub yang ditulisnya adalah bab al-Asma wa Isytiqoquha. Pada permulaan Pembahasan beliau tetap mengetengahkan definisi terminologi tersebut (isim) dalam tataran jagat Nahwu-nya terlebih dahulu.

Imam al-Qusyairi mengatakan bahwa al-Ism memiliki akar dari kata Sumuwwun yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah “keluhuran”. Namun ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa asal kata dari al-Ism adalah Simah yang artinya “tanda.” Oleh karenanya sang Imam mengatakan bahwa asal dari kata al-Ism masih banyak perdebatan.

Read More

Dari sini penulis lebih cenderung memahami al-Ism dengan pengertian “tanda”. Karena hakikatnya al-Ism adalah nama yang dilabelkan oleh manusia untuk realitas yang ia lihat. Jostein Gaarder pernah mengutip pemikiran Aristoteles yang mengatakan bahwa salah satu tugas manusia di dunia adalah untuk memberikan nama-nama.

Kita dapat melihat berapa banyak peristiwa atau temuan yang dinamai oleh para intelektual. Apakah mereka secara sembarang memberikan nama? Jawabannya tentu tidak. Mereka memberi nama setelah mengalami analisis entah dalam jangka waktu yang pendek atau rentangan waktu yang panjang dengan segala proses-proses yang ada di dalamnya.

Jadi sekali lagi dalam hal ini kita dapat memaknai bahwa alam raya ini dibentangi oleh objek-objek atau benda-benda.  Dan manusialah yang perlahan-lahan memberikan nama-nama pada objek tersebut. Perihal keabsahan nama yang dilekatkan pada benda tersebut akan diatur dalam undang-undang kebahasaan.

Nama al-‘Abd dan Karakternya

Salah satu realitas atau wujud yang ada dalam belantika tasawuf atau diskursus keislaman adalah kata al-‘Abd. Imam al-Qusyairi mengatakan bahwa para ahli Isyarah mengartikan realitas sebagai al-‘Abd tatkala ia memiliki dua ciri; yakni mereka dapat diterpa kesedihan dan kebahagiaan.

Artinya bila seorang individu, di dalam dirinya terdapat dua potensi tersebut maka akan terjadi pertarungan di antara keduanya. Pergulatan antara kesedihan dan kebahagiaan nampaknya menjadi pergulatan abadi sepanjang hidup. Konon kadar di antara keduanya telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak lama di dalam lauh al-Mahfuzh.

‘Aidh al-Qarni mengatakan bahwa kesedihan adalah sahabat karib dari kecemasan. Perbedaan keduanya hanya terletak pada waktunya saja. Bila hal-hal yang tidak dikehendaki oleh hati itu adalah hal-hal yang belum terjadi, maka ia akan menjelma menjadi angin kecemasan. Sedangkan bila hal-hal yang tidak dikehendaki oleh hati itu berkaitan dengan masa lalu atau telah kadung terjadi maka ia akan menjelma menjadi hujan kesedihan.

Kepungan Kesedihan vs Kebahagiaan

Kesedihan ataupun kecemasan, keduanya berpangkal dari kegagalan hati yang berdamai dengan realitas. Di sinilah letak di mana setan dapat masuk dan menebarkan benih-benih keputus asaan untuk memanen lebih banyak kesedihan. Walhasil kita bisa menjadi semakin terpuruk dalam menjalani hidup.

Oleh karenanya Nabi Muhammad SAW senantiasa mengajarkan pada kita agar senantiasa memohon kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala  agar dilindungkan dari bencana-bencana jiwa tersebut. Beliau mengajarkan sebuah lamat do’a; Allahumma inni a’udzubika minal Hammi wa-l-Hazn (ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita).

Pun tatkala kesedihan dan duka itu tak kunjung reda, bahkan cenderung kian menggumpal memukuli batin kita, maka segeralah lari kepada para ulama yang bijak (‘Ulama al-‘Amilin). Mintalah mereka untuk berkenan mendoakan kita supaya terlepas dari jerat-jerat kepedihan itu. Bila ada ruang dialog, maka sampaikan dan kisahkanlah kemalangan yang menimpa kita kepada mereka dengan maksud memohonkan nasihat serta petunjuknya. Semoga dengan langkah tersebut kepungan kemalangan dan kesedihan itu bisa terurai dan memudar meski dengan perlahan.

Sedangkan kebahagiaan mendersik pada mereka yang mampu menyelamatkan diri dari kepungan kesedihan. Hati mereka senantiasa dijaga untuk terus hidup dan tidak mengumpati realitas. Sebab mereka membaca rantaian fenomena adalah rantaian kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala  yang hendak berdialog dengan dirinya.

Letupan kebahagiaan dapat muncul dengan rupa tertawa. Laku tawa ini tidak mengenal ras, gender, latar belakang sosial atau takaran harta seorang hamba. Ia dimiliki oleh hamba manapun dan siapapun. Tentu dengan kadar yang wajar dan takaran yang semestinya.

Tertawa adalah langkah awal dalam memerangi keputusasaan kata ‘Aidh al-Qarni. Lebih lanjut ia mengatakan hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Ada jiwa-jiwa yang mudah ditekukkan oleh keadaan meskipun sepele, namun ada juga jiwa-jiwa yang mampu menjadikan realitas-realitas di sekitarnya sebagai sumber kebahagiaan. Di sinilah letak seorang makhluk yang bernama “hamba” diajarkan berbagai seni untuk mengelola hati agar senantiasa wushul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

 

Related posts