Penting, Ini Pengaruh Motivasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab

faktor motivasi dalam pemerolehan bahasa arab
faktor motivasi dalam pemerolehan bahasa arab

Lanjutan seri psikolinguistik pembelajaran bahasa Arab yang telah kita kaji mulai memasuki ruang baru. Bahasan kali ini adalah seputar faktor-faktor penentu yang ada dalam kegiatan pembelajaran bahasa kedua. Diksi “faktor-faktor penentu” yang digunakan oleh Abdul Chaer dalam bahasan ini sejatinya telah memberikan bobot tersendiri yang mesti menyita atensi para pembelajar bahasa.

Ketika hendak mencari jurnal tambahan untuk memperkaya cakrawala pandang tulisan ini, penulis menemukan beberapa jurnal internasional yang isinya ternyata memiliki kesamaan dengan yang diketengahkan oleh Abdul Chaer.

Dua Literatur Pendukung

Di antara jurnal-jurnal tersebut adalah jurnal yang berjudul “The Importance of Motivation in Second Language Acquisition”. Jurnal ini ditulis oleh Leila Anjomshoa dan Firooz Sadighi, keduanya berasal dari Islamic Azad University Iran. Jurnal tentang motivasi dalam pemerolehan bahasa tersebut diterbitkan oleh International Journal on Studies in English Language and Literature (IJSELL) pada tahun 2015. Sedangkan buku psikolinguistik yang ditulis oleh Abdul Chaer mulai cetakan keduanya saja pada tahun 2009 oleh Penerbit Rineka Cipta.

Jurnal berikutnya yang memiliki isi tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Abdul Chaer adalah jurnal yang ditulis oleh Jingyi Ai, Yujie Pan dan Wenjia Zhong. Jurnal yang dimaksud berjudul “The Role of Motivation in Second Language Acquisition: A review” yang diterbitkan pada tahun 2021 oleh Atlantis Press (Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 2021).

Kemauan dan Jalan

Abdul Chaer mendedah bahasan ini dengan energi motivasi dalam sebuah aktivitas pembelajaran bahasa kedua. Rerata kalam ilmuan yang dikutipnya bersepakat bahwa pembelajaran bahasa kedua yang dilandasi dengan motivasi dalam dirinya berupa dorongan, keinginan atau hasrat pada tujuan yang hendak dicapai, memiliki pengaruh yang luar biasa dalam proses pembelajaran bahasanya.

Hal ini berbanding terbalik dengan individu yang hendak mempelajari bahasa namun tidak dibarengi dengan motivasi yang kuat. Ketiadaan motivasi atau kesamaran dorongan dalam agenda besar pembelajaran bahasa tidak akan pernah mengantarkan individu tersebut pada gerbang keberhasilan belajar.

Jingyi Ai dalam bahwasannya mengetengahkan beberapa definisi tentang apa itu motivasi. Kemudian ia menuliskan bahwa motivasi kerap didefinisikan sebagai proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung namun motivasi sendiri adalah sesuatu yang dapat mengaktifkan, memandu dan mempertahankan perilaku terbuka.

Ada juga yang mengatakan bahwa motivasi adalah faktor yang mengarahkan dan memberi energi pada perilaku manusia atau organisme lain. Kata Motivasi juga dapat didefinisikan sebagai kebutuhan atau keinginan yang dapat memberikan energi sekaligus mengarahkan perilaku.

Motivasi harus dipandang sebagai konsep hibrida, yakni atribut internal yang merupakan hasil dari kekuatan eksternal. Seorang individu yang termotivasi mengeluarkan usaha, gigih dan penuh perhatian terhadap tugas yang dihadapi, memiliki tujuan, keinginan dan aspirasi, menikmati aktivitas, pengalaman penguatan dari kesuksesan dan kekecewaan dari kegagalan, membuat atribusi tentang keberhasilan atau kegagalan, terangsang, dan menggunakan strategi untuk membantu mencapai tujuan.

Wujud Dua Motif Dorongan

Berkaitan dengan pembelajaran bahasa kedua, motivasi yang dimaksud dalam tulisan ini memiliki dua corak, yakni motivasi instrumental dan motivasi integratif. Leila Anjomshoa mengatakan bahwa motivasi instrumental adalah jenis motivasi memperoleh bahasa sebagai “wasilah” untuk mencapai tujuan-tujuan praktis seperti promosi kenaikan karir di tempat kerja, pemenuhan persyaratan-persyaratan akademik atau untuk kebutuhan mobilitas pada suatu lapisan masyarakat tertentu.

Sedangkan motivasi integratif adalah sebuah keinginan yang muncul dalam diri pembelajar bahasa dengan tujuan agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat penutur bahasa tersebut. Ia juga berkeinginan untuk menjadi anggota dalam masyarakat bahasa tersebut.

Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, motif instrumental banyak ditemukan pada diri peserta didik yang mendapat pelajaran bahasa Arab atau mahasiswa yang bergelut dengan rumpun-rumpun keilmuan berbau bahasa Arab. Di mana mereka mempelajari bahasa Arab sebisa mungkin dan semaksimal mungkin agar mendapat nilai ujian yang bagus.

Artinya motif instrumental dalam mempelajari bahasa Arab banyak tumbuh subur di dunia institusi pendidikan atau lembaga kerja sebagai bagian dari administrasi.

Adapun motif integratif ditemukan pada beberapa kasus yang sifatnya lebih kultural. Sebut saja misalnya seorang suami atau istri yang menikah dengan orang Arab mesti harus belajar bahasa Arab sebagai media berkomunikasi. Masih banyak contoh-contoh lainnya selain yang dikemukakan oleh penulis tersebut.

Leila dan Firooz mengatakan bahwa beberapa pelajar bahasa lebih baik jika mereka mempelajari bahasa integratif sementara yang lain lebih berhasil jika mereka termotivasi secara instrumental dan beberapa belajar lebih baik jika mereka memanfaatkannya kedua orientasi. Dengan kata lain, seseorang mungkin memiliki kedua jenis motivasi, dia mungkin termotivasi secara instrumental untuk lulus ujian atau memenuhi persyaratan, tetapi pada saat yang sama, dia mungkin mencintai budaya suatu komunitas dan mau belajar serta berpartisipasi dalam budayanya.

 

Related posts