Mengenal Abdur Rauf Al- Sinkili dan Karya Tafsirnya

Abdur Rauf Al-Sinkili merupakan ulama besar asal Aceh, lahir di Fansur tahun 1620 M dan wafat di Kuala pada tahun 1693 M. Nama lengkap beliau adalah Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansur al-Singkili. Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Tafsi>r Turjuman al-Mustafi>d. Tafsir ini   merupakan tafsir utuh 30 juz yang pertama kali beredar di wilayah Melayu Indonesia, yaitu abad 16/17 H.

Riwayat Pendidikan Mufasir

Sejak kecil beliau sudah mendapat pendidikan dari ayahnya sendiri, yaitu Syekh Ali. Ayahnya terkenal sebagai tokoh alim yang mendirikan madrasah sebagai tempat pembelajaran para murid yang berasal dari berbagai tempat di Kesultanan Aceh. Selain itu beliau juga banyak belajar dengan para ulama’ di  di Fansur dan Banda Aceh. Setelah beliau menuntut ilmu di Banda Aceh kemudian melanjutkan belajarnya di Timur Tengah, yaitu di Doha, Qatar, Yaman, Jeddah dan akhirnya ke Makkah sambil menunaikan ibadah haji dan ke Madinah.

Ketika di Doha beliau belajar dengan waktu yang terhitung singkat  kepada Abd al-Qadir al-Mawrir, di Yaman beliau belajar bidang hadis dan fiqih  kepada keluarga Ja’man, terutama Ibrahim bin ‘Abdullah bin Ja’man, di Jeddah belajar kepada Abd al-Qadir al-Barkhali, kemudian di Makkah beliau belajar kepada Ali bin Abd al-Qadir al-Thabari, Terahir beliau belajar di Madinah beliau belajar kepada Ahmad al-Qusyasyi terkait ilmu tasawuf. Masa pembelajaran yang dilakukannya di Arabia menghabiskan waktu 19 tahun, beliau mendapatkan pendidikan yang cukup lengkap mulai dari syari’at, fikih, Hadis dan disiplin-disiplin eksoteris lainnya hingga kalam, dan tasawuf.

Latar Belakang Penulisan Kitab Tafsir

Beliau menulis Tafsi>r Turjuman al-Mustafi>d  ketika sedang menjalani perannya yang memiliki wewenang luas serta tanggungjawab dibidang keagamaan yang cukup besar, yaitu sebagai Qadhi Malik al-‘Adil atau Mufti di Kesultanan Aceh. Tidak ditemukan sumber tertulis yang secara jelas membahas terkait alasan ditulisnya kitab tafsir ini. Akan tetapi, jika melihat dari kondisi masyarakat Aceh pada saat itu, mereka sangat menginginkan adanya sumber agama khususnya yang berbahasa Melayu.

Pada saat itu masyarakat dihadapkan pada problem-problem yang muncul akibat adanya penafsiran-penafsiran sufistik yang dikembangkan oleh golongan Wahdat al-Wujud, akhirnya timbul  kekacauan dan kekeliruan dikalangan masyarakat akibat tafsir batini yang dilakukan golongan Wahdat al-Wujud ini. Akhirnya Abdur Rauf  al- Sinkili  berinisiatif untuk menulis kitab ini untuk membantu masyarakat masa itu untuk memahami ajaran agama Islam.

Ada perbedaan pendapat terkait sumber penulisan kitab tafsir ini, ada pendapat yang menyatakan bahwa kitab ini merupakan terjemah dari kitab tafsir Baidhawi yang diterjemahkan ke bahasa Melayu. Selain itu, pendapat lain menyatakan bahwa selain terjemahan dari kitab tafsir Baidhawi, tafsir ini juga merupakan terjemahan dari kitab tafsir jalalain. Oleh kerena itu, sumber penulisan kitab tafsir ini dianggap masih kontroversial.

 

Metode Penafsiran

Penafsiran Abdur Rauf al-Singkili tidak terpaku pada satu corak penafsiran saja, seperti fiqih, filsafat, dan adab bil-ijtima’I, artinya beliau menggunakan corak umum sesuai kandungan ayat yang beliau tafsirkan. Beliau menafsirkan ayat secara urut berdasarkan tartib mushafi , metode yang digunakan dalam menafsirkan ayat adalah ijmali, karena ketika menjelaskan penafsiran ayat beliau menafsirkan dengan penjelasan yang singkat dan mudah dipahami oleh pembaca

Selain itu, jika dilihat dari beberapa contoh penafsirannya bisa dikatakan juga bahwa beliau menggunakan metode tahlili, karena dalam penafsirannya sering mencantumkan beberapa aspek  sebagai berikut:

  • Penjelasan terkait asbabun nuzul, contoh pada penafsiran surah al-Nasr
  • Penjelasan terkait ragam bacaan para imam qiraat, contoh pada penafsiran surah al-Fatihah ayat 4
  • Pada pembuka surah disertakan status Makki Madani dan disertakan fadhilah ayat atau surah jika dibaca.

 

Kesimpulan

Abdul Rauf al-Singkili merupakan tokoh mufasir Nusantara asal Aceh   yang  pertamakali berhasil menulis karya tafsir secara lengkap dengan judul  Tafsi>r Turjuman al-Mustafi>d. Kitab tafsir ini ditulis olehnya dengan  bahasa Melayu dan tujuan  penulisannya adalah  agar bisa membawa manfaat untuk orang-orang Aceh pada masa itu. Corak penafsirannya yang digunakan merupakan corak umum sesuai kandungan ayat yang beliau tafsirkan, sistematika penulisannya berdasarkan tartib mushafi, kemudian untuk metode penafsirannya bisa dikatakan ijmali dan tahlili .

Related posts