Mengenal Batang Aqidah Syi’ah

tokoh syiah
Salah satu tokoh syiah
banner 468x60

Mengenal Batang Aqidah Syi’ah. Kaum Syi’ah yang muncul pada akhir Khalifah Usman bin Affan terbagi menjadi beberapa kelompok. Hal ini dapat dilihat dalam kitab Firaq al-Syi’ah karangan ulama kaum Syi’ah sendiri yaitu al-Naubakhty. Namun, kelompok Syi’ah paling besar  saat ini adalah Syi’ah Imamiyah di Iran, Syi’ah al-Isma’iliyah dan Syi’ah Zaidiyah di Yaman. Perihal keyakinan Syi’ah, para ulama Ahlussunnah (Sunni) yang menulis tentang kelompok (sekte) di dunia Muslim menyatakan bahwa keyakinan ulama Syi’ah generasi pertama adalah Mujassimah atau tajsim (percaya) bahwa Tuhan itu bertubuh seperti manusia. Kemudian ada juga keyakinan musyabbihah atau tasybih (mengidentikkan Tuhan dengan makhluk).

Hal ini dapat kita lihat pada keyakinan ulama Syi’ah generasi pertama, yaitu Hisyam bin al-Hakam, Hisyam bin Salim al-Jawaliqy, Yunus bin Abd al-Rahman al-Qumy dan Muhammad bin al-Nukman yang misterius. al-Thak . Dalam bukunya I’tiqadat al-Muslimin Wa al-Musyrikin, Imam al-Razy menyatakan bahwa kepercayaan mujassimah dan musyabbihah adalah kepercayaan Yahudi. Belakangan, kepercayaan ini mulai beredar di kalangan Syi’ah.

Sebagaimana Hisham al-Hakam percaya bahwa Tuhan memiliki tubuh. Hisham juga mengatakan bahwa Tuhan itu seperti sebatang emas murni. Hisham juga mengatakan bahwa Tuhan itu seperti lilin. Hisham al-Jawaliqy juga meyakini bahwa Tuhan itu seperti manusia, memiliki tangan, kaki, mata dan anggota tubuh tanpa daging dan darah.

Baca juga: Ilmu Tasawuf Kebahagiaan al-Ghazali

Paham Generasi Awal

Yunus Abd al-Rahman al-Qumy berpendapat bahwa bagian atas tubuh Tuhan memiliki pori-pori dan bagian bawahnya tidak ada. Muhammad bin al-Nukman juga percaya bahwa Tuhan duduk di singgasana dan para malaikat membawa singgasananya. Keyakinan keliru tentang tajsim dan tasybih generasi pertama ulama Syi’ah  juga diungkapkan oleh Imam Abu al-Hasan al-Ash’ary dalam bukunya Maqalat al-Isalmiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. Begitu juga sebagaimana ulasannya Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini dalam kitabnya al-Tabshir Fi al-Din.

Dalam literatur Syi’ah, empat ulama Syi’ah generasi pertama sesat adalah murid dari Imam Syi’ah  keenam, yaitu Ja’far al-Sadiq. Di dalam kitab dewata, prinsip utama syi’ah, Ushul al-Kafy, yang ditulis oleh al-Kulainy dalam bab al-Tauhid, ada narasi yang menunjukkan bahwa Ja’far al-Sadiq menyanyikan puji Hisham al-Hakam dan memintanya untuk membangun orang yang baru masuk Islam.

Padahal,  dari sudut pandang seorang kenalan, Hisham bin al-Hakam  tumbuh dan tinggal di rumah seorang ateis bernama Abu Syakir. Hal ini kita simak dari ulama Syi’ah Abu Ja’far al-Thusy dalam bukunya Rijal al-Kasysyi. Beberapa ulama Syi’ah memuji empat ulama Syi’ah  dan mereka menolak kisah kepercayaan tajsim dan tashbih. Namun, penolakan mereka  tidak dapat diterima. Karena paham sesat keempat ulama Syi’ah tersebut dapat kita temui dalam kitab hadits utama aliran Syi’ah yaitu kitab Ushul al-Kafy.

Baca juga: Menelaah Cinta Allah

Jika mereka membantah kisah ini, berarti mereka meragukan kitab al-Kafy, yang  mereka yakini lebih mulia dari kitab hadits Imam al-Bukhari. Memang, keaslian kitab  Ushul al-Kafy hadits Syi’ah patut dipertanyakan. Karena sebagian besar isi kitab tersebut adalah riwayat  Abu Abdullah Ja’far al-Sadiq. Kemudian dari ayahnya, Muhammad al-Baqir. Kemudian datanglah putranya Musa bin Ja’far. Lalu ada putranya Ali bin Musa.

Polemik Imam Ja’far al-Shadiq

Mengenal batang aqidah Syi’ah. — Anehnya, tidak ada hadits Nabi di buku itu. Juga tidak ada laporan dari Ali bin Abu Thalib, Sayyidah Fatimah, al-Hasan dan al-Husein. Bahkan ulama Syi’ah Ayatullah al-Barqa’iy dalam bukunya Naqd Kitab Ushul al-Kafy Li al-Kulayni telah menyatakan bahwa banyak narasi (hadits) dalam buku al-Kafy adalah lemah dan maudhu’ (palsu).

Untuk Imam Keenam Syi’ah, Ja’far al-Shadiq  adalah putra dari Umm Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq. Ummu Farwah adalah putri dari Asma’ binti Abd al-Rahman bin Abu Bakar al-Shiddiq. Oleh karena itu, Ja’far al-Shiddiq sangat marah kepada  Syi’ah yang mengutuk Abu Bakar al-Shiddiq. Buktinya, ketika Salim bin Abu Hafshah bertanya kepada Ja’far al-Sadiq tentang Abu Bakar dan Umar bin al-Khattab, Ja’far al-Sadiq memerintahkan Salim untuk mengakui kepemimpinan mereka dan jangan membuatnya tidak nyaman.

Maka Ja’far al-Shadiq berkata, Abu Bakar al-Shiddiq  adalah kakekku. Aku tidak bisa menghina kakekku. Inilah yang bisa kita jumpai pada Imam al-Dzahaby dalam kitabnya Siyar A’lam al-Nubala’ (6/258). Bahkan, ulama Syi’ah Abu Ja’far al-Thusy dalam bukunya Rijal al-Kasysyi menyebutkan kisah penolakan Ja’far al-Sadiq terhadap  Syi’ah. Dia mengatakan sangat sedikit pendukungnya yang Syi’ah.

Secara historis, ulama Ahlussunnah mengakui dan menghormati Ja’far al-Sadiq sebagai ulama Islam. Namun, para ulama Ahlussunnah meragukan semua dugaan riwayat Syi’ah Ja’far al-Sadiq  dalam kitab Ushul al-Kafi. Sebab, penulis kitab Ushul Mazhab al-Syi’ah, Dr al-Qafary telah menyajikan berbagai catatan dari para ulama Syi’ah yang mengatakan bahwa Ja’far al-Sadiq sendiri tidak menerima riwayat Syi’ah mengenai dirinya tersebut

About Post Author

Pos terkait