Mengenal Tafsir Mua’wwidzatain karya KH. Ahmad Yasin Asymuni Kediri

  1. Ahmad Yasin Asymuni lahir pada tanggal 8 Agustus 1963 tepatnya di Dusun Pethuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Ayahnya bernama KH. Asymuni dan ibunya bernama Nyai Hj. Muthmainnah. Ayahnya merupakan tokoh agama yang dipandang ahli di berbagai bidang ilmu seperti ilmu fikih, falak, tasawuf dan ilmu-ilmu lainnya. Diketahui juga, beliau ini memiliki nama lengkap yakni Ahmad Yasin Asymuni bin KH. Asymuni bin KH. Fahri bin KH. Ihsan bin KH. Hakam. Adapun silsilahnya jika diteliti secara runtut, beliau ini memiliki garis keturunan sampai pada Sunan Bayat murid dari Sunan Kalijaga.

Di usia kecilnya pun tidak jauh beda dengan masa kanak-kanak pada umumnya. Luar biasanya, di usia 6 sampai 12 tahun sudah mulai terlihat tanda-tanda keilmuannya dan kecerdasannya. Beliau terlihat lebih dewasa dan lebih cerdas daripada temanteman yang lainnya. Dibawah bimbingan ayahnya, beliau belajar membaca Al-Qur’an, menulis Arab, memahami dasar-dasar kaidah, fikih, tajwid dan lain sebagainya.

Pada tahun 1975, beliau lulus SD yang kemudian beliau melanjutkan pendidikan menengah di Madrasah Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo, Kota Kediri. Karena jaraknya jauh dari tempat tinggalnya, beliau menempuh untuk bersekolah dengan naik sepeda setiap harinya. Saat menginjak kelas 2 Mts, beliau telah berhasil  menyelesaikan pelajaran Alfiyah Ibnu Malik dengan masa akhir pendidikan MTs-nya beliau dinobatkan menjadi siswa teladan.

Menginjak jenjang menengah atas, beliau bermukim di Pondok Pesantren Lirboyo agar bisa fokus dan lebih efektif dalam belajar. Tidak terasa, pada tahun 1982, Ahmad Yasin telah menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliyah sehingga pada tahun selanjutnya 1983 beliau diangkat menjadi guru bantu (munawwib) di kelas 6 MI. Dan pada tahun 1984 beliau diangkat menjadi guru tetap (mustahiq) kelas 4 MI di Pondok Pesantren Lirboyo.

Saat menempuh pendidikannya dulu, beliau lebih menekuni ilmu fikih. Dalam perspektifnya, Fikih merupakan ilmu syarat yang wajib diketahui secara mendetail oleh orang-orang Islam. Ketertarikannya pada ilmu fikih mendorongnya untuk mendirikan Pondok Pesantren Spesialis Fiqh Hidayatut Thullab. Adapun yang melatarbelakangi beliau pada dakwah dan Tabligh adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan uswatun hasanah (suri tauladan) kepada masyarakat.
  2. Mengajarkan melalui lisan
  3. Melalui tulisan

Dari tiga faktor tersebut yang menyebabkan Ahmad Yasin terpacu untuk berdakwah melalui tulisan. Hingga terbitlah karya perdananya yang berjudul Tashil al-Mudahi dengan menggunakan bahasa Jawa yang kemudian dilanjutkan dengan buku Tashil al-Awwam yang berisi tanya jawab masala agama dengan kisaran berisi 300 pertanyaan. Setelah satu tahun usai evaluasi, ternyata karya tersebut menurut Ahmad Yasin menganggap bahwa kitab tersebut kurang diminati oleh masyarakat. Kemudian, beliau melakukan transformasi kembali penulisannya menggunakan bahasa Arab dengan saat itu kitab yang ditulis itu adalah Risalah al-Jama’ah dan Tahqiq al-Hayawan.

Ahmad Yasin terus menulis di semua bidang ilmu agama, diantaranya ada fikih, tasawuf, tafsir, hadis dan masih banyak yang lainnya. Semangat dakwahnya tidak menurun sama sekali sehingga sebelum akhir hayatnya beliau masih aktif menulis. Menurut santrinya, setiap tahun di pondok pesantren selalu menerbitkan karya-karya yang dikarang oleh Ahmad Yasin. Sehingga sudah tercatat sebanyak kurang lebih 300 kitab yang sudah dikarang dan diterbitkan. Salah satu kitab fenomenal beliau adalah Tafsir Mua’wwidzatain.

Kitab tafsir Mua’wwidzatain ini tergolong menggunakan metode maudhu’i, jika mengacu pada pemetaan metode tafsir oleh Nasarudin Baidan. Bisa dikatakan sebagai metode maudhu’i jika pembahasan yang dilakukan tidak lagi sebatas pemahaman yang luas, melainkan telah menyelesaikan tema yang diangkat dalam ayat itu secara tuntas dan komprehensif, maka juga sangat mungkin jika metode ini dikatakan sebagai masuk wilayah tematik.

Menurut Al-Farmawi, tafsir maudhu’i dibagi menjadi dua. Pertama, pembahasan terkait satu surah secara menyeluruh dan utuh menjelaskan korelasi antara berbagai masalah yang terkadung didalamnya, sehingga terlihat dalam bentuknya yang benar-benar utuh dan cermat. Adapun yang kedua, menghimpun sejumlah ayat dari berbagai surah yang sama-sama membicarakan satu masalah tertentu.

Ayat-ayat tersebut disusun secara sedemikian rupa dan diletakkan dalam satu pembahasan. Kitab tafsir Mua’wwidzatain ini termasuk pada ketegori yang pertama, karena didalamnya tidak menghimpun ayat-ayat tema permasalahan dari beberapa surah yang berbeda, akan tetapi mengambil dari satu surah yang kemudian dikupas secara utuh.

Adapun bentuk penafsiran kitab tafsir ini adalah bil ma’tsur dan bil ra’y. hal ini terlihat jelas ketika beliau hendak menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan ijtihadnya. Namun disisi lain, beliau tetap menggunakan riwayat sebagai landasan penafsirannya. Corak yang digunakan dalam penafsiran kitab ini adalah corak tafsir sufi yang mana konsentrasi menakwilkan Al-Qur’an dengan sesuatu di balik makna zahir sesuai dengan isyarat samar yang ditangkap oleh ahli suluk kemudian berusaha memadukan antara keduanya.

Selain corak tafsir sufi, pada kitab tafsir mua’wwidzatain ini juga disebut sebagai penafsiran mistik jika dilihat dari pemikiran menurut Abdullah Saeed. Dimana tafsir mistik ini lebih menekankan pada aspek spiritual Islam daripada dimensi politik atau hukum duniawi. Penafsiran dengan model yang seperti ini lebih cenderung untuk mengeskplorasi pernyataan mengenai pengetahuan tentang Tuhan atau sifat eksistensi manusia dan hubungan terhadap Tuhan.

Hal yang terkait penafsiran sufi dan mistik bisa dilihat ketika beliau menafsirkan kata الْفَلَقِ(waktu subuh). Sebagai ulama yang menggemari ilmu tasawwuf, beliau memaknai kata tersebut sesuai dengan waktunya untuk memohon ampunan dan merendahkan diri kepada Allah. Selain itu, beliau juga menjelaskan waktu subuh tersebut sebagai permisalan hari kiamat, dengan maksud waktu datangnya hari kiamat itu seperti waktu subuh. Maka dari itu, dapat diambil sebuah pembelajaran terkait pemaknaan ini, bahwa waktu subuh dianjurkan kepada manusia untuk melaksnakan ibadah serta mendekatkan diri kepada-Nya.

Related posts