MENGENAL TUHAN DARI NAHWU

  • Whatsapp

Sebuah Pengantar

Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah SWT yang memberikan kekuatan kepada penulis untuk menggerakan pena yang telah menangkap mozaik-mozaik alam pikiran dan mengguratkannya dalam lauh duniawi yang zhahir. Karena-Nya kumpulan guratan-guratan tersebut telah terkumpul dalam satu kitab yang utuh setelah sebelumnya berserak bak suhuf-suhuf zaman.

Seluruh rangkaian kata dan buah pikir yang lahir dalam buku ini adalah hasil “sowan” kepada pemikir-pemikir agung yang telah menyuguhkan diskursus tasawuf dalam nahwu. Di antara nama-nama tersebut adalah Syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin, Imam Ibnu Ajibah dan Imam al-Qusyairi. Bukan hanya menjadi figur dalam intelektualisme tasawuf saja namun juga begitu mendalam dan luas pengetahuannya dalam linguistik Arab, terutama Nahwu.

Dewasa ini diskursus tasawuf sudah bukan lagi sekadar menarik perhatian para elite intelektual muslim maupun orientalis., namun juga mulai merambah ke kelompok lapisan masyarakat awam di akar rumput. Banyak majelis-majelis yang diselenggarakan oleh para pemuka tasawuf yang dibanjiri oleh jamaah-jamaahnya. Mulai dari ujung Barat sampai ujung Timur. Seluruh forum-forum tersebut yang sejatinya sejak dahulu mampu mengantarkan masyarakat muslim Nusantara pada titik gerbang pengenalan pada Tuhannya.

Di dalam tradisi sufisme terdapat sebuah postulat dengan bunyi: Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu— barangsiapa yang telah mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Jadi, pengenalan diri seseorang adalah  tangga yang harus dilalui seorang hamba untuk mendaki  ke  tahapan atau maqam  yang  lebih  tinggi  dalam  rangka mengenal Tuhan.

Adapun Nahwu merupakan sekumpulan kaidah-kaidah linguistik klasik yang dimiliki oleh bangsa Arab. Dalam perjalanannya, ilmu nahwu telah mengalami metamorphosis yang cukup panjang dalam berbagai fase mulai dari peletakan, perkembangan dan bahkan segala perdebatan yang melingkupinya. Menurut satu madzhab sejarah, ilmu Nahwu untuk kali pertama muncul pada masa khalifah Ali Bin Abi Thalib melalui perantara tangan Abu al-Aswad al-Dualy. Munculnya ilmu tersebut dilatarbelakangi oleh semakin maraknya kekeliruan-kekeliruan dalam berbahasa Arab menurut standar yang fasih. Kesalahan berbahasa tersebut yang biasa disebut sebagai “Lahn”. Hal ini lebih disebabkan oleh ekskalasi sosial masyarakat Arab pada saat itu yang mulai banyak berinterkasi dan berbaur dengan bangsa ’Ajam setelah meluasnya wilayah Islam ke negara-negara sekitar.

Mau buku MENGENAL TUHAN DARI NAHWU? Pasti anda penasaran kan dengan isi buku tersebut, Yuk buruan dipesan buku MENGENAL TUHAN DARI NAHWU buku ini 240 halaman dengan softcover dan juga mudah dibawa kemana-mana dengan ukuran A5. Untuk Pesan segera dengan mengisi dengan Klik Disini   

Pos terkait