Mengenang Pasar Ukaz Tempo Dulu

Ilustrasi Pasar Ukaz

Kurang lebih 10 tahun silam, saya mengikuti salah satu acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Acara yang berlangsung 3 hingga 4 hari tersebut merupakan acara rutin tahunan guna menyambut bulan Suci Ramadhan tahun 1431 H. Di dalamnya terdapat rangkaian acara ceramah dari berbagai Ustadz maupun Kyai, juga dimeriahkan dengan bazar dimulai dari buku, pakaian, hingga makanan layaknya bazar muslim pada umumnya.

Salah satu tema yang diusung oleh penyelenggara Tabligh Akbar kala itu adalah mensyiarkan kembali penggunaan dinar dirham sabagai alat transaksi antar penjual dan pembeli. Sehingga para pengunjung yang hendak masuk ke bazar dan membeli apapun harus menggunakan “replika dinar dirham” sebagai alat transaksi. Oleh sebab itu, pengunjung diharuskan untuk menukar terlebih dahulu uang yang dibawa dengan “replika dinar dirham” ke pihak panitia, tentu sesuai dengan hitung-hitungan per 1 dinar/ dirham berapa rupiah kala itu. Ya, semua hanya semata-mata mensyiarkan pengunjung bazar akan penggunaan dinar dirham dalam transaksi jual beli. Bazar itu dinamakan oleh pihak panitia sebagai Pasar Ukaz.

Itulah kali pertama saya mengetahui istilah yang bernama Pasar Ukaz. Karena keterbatasan ilmu, saya hanya mengira bahwa bazar tersebut dinamakan Pasar Ukaz sebab terinspirasi dari nama pasar yang didirikan oleh Nabi Muhammad saw di Madinah dahulu. Akan tetapi seiring berkurangnya umur dan bertambahnya pengetahuan, akhirnya saya pun menyadari bahwa istilah Pasar Ukaz bukan pasar yang didirikan nabi di Madinah, melainkan pasar besar kebanggaan bangsa Arab pra-Islam (jahiliyyah) yang sudah berlangsung sangat lama hingga datangnya Islam di semenanjung Arab. Bisa dikatakan bukan hanya sekedar pasar tempat transaksi perniagaan biasa. Lalu, apa yang membuat pasar tersebut sangat masyhur di seantero Arab sehingga bukan pasar biasa ?

Festival Sastra Budaya hingga Ajang Pamer Kebanggaan antar Kabilah

Pasar Ukaz; (Souq Ukaz) merupakan pasar kuno yang paling masyhur di semenanjung Arab. Di dalamnya selain berlangsung aktivitas transaksi jual-beli perniagaan seperti biasa, juga para petinggi kabilah mengadakan lobi-lobi politik penting seperti perundingan perdamaian, persekutuan, hingga rencana peperangan. Pada pasar itu pula kerap digunakan para penyair dan orator ulung memamerkan hingga mengadu syair dengan untaian kalimat yang indah dan menakjubkan. Selain keindahan, dalam untaian bait syair tersebut juga mengandung isu-isu teraktual yang sedang terjadi di lingkungan mereka kala itu.

Sesuai dengan namanya, Ukaz berasal dari kata at-Ta’akazh maknanya at-Tafakhar, yaitu saling berbangga. Konon nama tersebut diambil dari apa yang dikerjakan orang Arab di tempat itu, semuanya ajang pamer kekuatan, kepandaian, dan kebanggaan lainnya antar kabilah. Adapun lokasi pasar ini terletak di al-Atsdia, yaitu sebuah daerah antara Mekkah dan Thaif. Syafii Antonio dalam Ensiklopedia Peradaban Islam menjelaskan bahwa pasar ini diadakan pada bulan Dzulqa’dah atau pada musim haji yang merupakan musim perdagangan paling ramai dan berlangsung sekitar 15 sampai 20 hari.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pasar ini juga merupakan tempat untuk unjuk pamer bait-bait syair indah dari para penyair maupun pujangga kala itu. Mengapa syair begitu istimewa ? karena dahulu bangsa Arab sangat terkenal dengan keindahan bahasanya. Syair (qashȋdah) adalah kesenian besar yang sangat dihargai dan dimuliakan oleh mereka. Bisa dikatakan tradisi lisan lebih diutamakan dan di atas segalanya kala itu. Bahkan dalam History of The Arabs, Philip K. Hitti menggambarkan bahwa bangsa Arab kala itu sangat mudah tergugah perasaan dan pikiran mereka dengan puisi, pidato Arab klasik, ataupun ritme irama syair indah lainnya. Mereka menyebut layaknya hembusan “sihir yang halal” (sihr halâl).

Para penyair besar memperlihatkan keindahan syairnya dengan dikelilingi warga dari kabilahnya. Hingga berkompetisi syair antar kabilah lainnya. Apabila ada penyair dari kabilah lain mencela kabilahnya, maka akan langsung dibalas dengan syair berisi celaan pula. Maka tidak heran, kedudukan penyair kala itu sangatlah agung layaknya seperti pahlawan membela kehormatan kabilahnya lewat lantunan syair qasȋdhah. Adapun yang memenangkan ajang kompetisi syair tersebut akan memperoleh imbalan kebanggaan; syairnya ditulis dengan tinta emas (muhazzabat), dibingkai lalu dipajang di dinding ka’bah (mu’allaqat). Penghargaan bergengsi yang sangat diidamkan-idamkan oleh semua penyair masa itu.

Tercatat di Ukaz selalu dipamerkan tujuh syair terbaik di masa jahiliyyah yang mereka gantungkan di dinding ka’bah (sab’u mu’allaqat). Mu’allaqat ini senantiasa masih dijunjung tinggi di seluruh dunia Arab sebagai karya agung di bidang syair puisi. Syair Puisi karya Imru’ al-Qays (wafat tahun 540/550 M) merupakan pemenang pertama kali pada festival syair di Pasar Ukaz kala itu, bahkan puisi-puisinya pun pertama kali dihimpun pada akhir pemerintahan Dinasti Umayyah. Hammad al-Rawiyah, seorang penukil syair ternama yang hidup pada abad pertengahan kedelapan, memilih tujuh syair puisi emas dari sekian banyak syair yang ada, lalu menghimpunnya ke dalam antologi khusus. Wilfrid S. Blunt dalam The Seven Golden Odes of Pagan Arabia, menuturkan bahwa koleksi antologi itupun telah diterjemahkan ke dalam sebagian bahasa Eropa.

Karena begitu tersohornya keberadaan pasar ini, terdapat riwayat yang mencatat bahwa Nabi Muhammad saw pun pernah sesekali berkunjung ke pasar ini dan mendengarkan khutbah Qus bin Sa’adah al-Iyadi. Begitu juga tatkala masih remaja, Umar bin Khattab yang terkenal berwatak keras dan berani pun sering tampil sebagai seorang pegulat pada festival tahunan tersebut. Sebagaimana orang Arab pada umumnya, di pasar ini juga Umar mendengarkan puisi daripada penyair terkenal lainnya. Bahkan Umar pun pernah memuji kepiawaian Imru’ al-Qays sebagai pencipta mata air puisi bagi penyair di zamannya. Kesohoran Imru’ al-Qays dikarenakan sajak-sajak ghazzal-nya yang dianggap tabu dan vulgar oleh kaum Quraisy kala itu.

Menurut Qomi Akit Jauhari dalam jurnalnya Perkembangan Sastra Arab pada Masa Jahiliyyah, terdapat beberapa genre sajak maupun syair yang acapkali berhamburan dalam keriuhan festival sastra di Pasar Ukaz, diantaranya mulai dari ghazzal (ungkapan cinta/rayuan untuk perempuan), madh (pujian-pujian), fakhr (membangga-banggakan), hamasah (semangat), I’tidzar (permohonan maaf) hingga ritsa’ (ratapan untuk pahlawan yang gugur di medan perang). Adapula bentuk sajak maupun syair yang berkembang dalam bentuk puisi hujatan atau puisi satir (hija’).

Walaupun syair-syair puisi yang semula sangat menyihir dan menghipnotis masyarakat jahiliyyah mulai kehilangan gema dan daya tariknya di awal perkembangan Islam karena turunnya Al-Qur’an, akan tetapi syair qashȋdah bagi bangsa Arab adalah sesuatu yang masih cukup sakral dan melekat pada jati diri kehidupan mereka masing-masing.    

Sebuah Upaya Revitalisasi

Setelah vakum ± 1300 tahun, tepatnya pada tahun 2006 lalu, Pasar Ukaz (Souq Ukaz) dengan wajah baru diresmikan oleh Gubernur Mekkah, Pangeran Khalid bin Faisal, putra Raja Faisal bin Abdul Aziz. Setelah melewati proses identifikasi lokasi Ukaz yang cukup panjang, akhirnya ditemukan bahwa lokasi Ukaz berada di dekat Thaif tepatnya di tempat yang dikenal al-Atsdia. Lokasi ini sesuai dengan catatan-catatan kuno dan dokumen-dokumen sejarah yang juga diperkuat dengan data-data arkeolog.

Sebagaimana dilansir oleh Republika.co.id, hingga Agustus tahun 2019 silam, Komisi Parawisata dan Warisan Budaya Saudi (SCTNH) telah menyelenggarakan Festival Souq Ukaz yang ke-13. Festival tersebut selalu disambut dengan meriah dan menjadi bagian ajang tahunan atau Taif Season. Pintu Gerbang Pasar Ukaz yang berdiri megah dan kekinian membuat pengunjung millenial pun tertarik melihat sekaligus menapak tilasi kebesaran budaya bangsanya. Para pengunjung pun langsung disuguhi enam layar videotron berukuran besar yang menampilkan para pujangga Arab termasyhur yang karya-karyanya dulu dipamerkan di pasar itu. Mereka memakai pakaian Arab kuno, bukan pakaian Arab masa kini.

Beberapa hari yang lalu sempat tersiar berita bahwa Pemerintah Arab Saudi perlahan mulai membuka kebijakan lockdown sebagai dampak dari mewabahnya Pandemi Covid-19. Bahkan Imam Masjidil Haram yang juga Presiden Umum Dua Masjid Suci, Syaikh Abdul Rahman Al-Sudais, mengumumkan kepada umat muslim bahwa Masjidil Haram dan Masjid Nabawi akan segera dibuka kembali untuk aktivitas ibadah seperti biasanya. Dari pemberitaan ini, mungkin akan merembet pula dengan kebijakan pemerintah Saudi lainnya. Kemungkinan diantaranya akan diselenggarakan kembali Ferstival Souq Ukaz ke-14 yang awalnya tertunda akibat mewabahnya Pandemi Covid-19. Walau harus dipastikan terlebih dahulu perkembangan beritanya.

Menarik untuk melihat perkembangan festival tersebut tiap tahunnya. Karena sejatinya dengan mengenang atau menapak tilasi sejarah adalah mengambil ibrah dan memetik hikmah, walaupun tradisi itu sudah berlangsung dari masa jahiliyyah. Dengan itu pula, semoga perkembangan kesusastraan bahasa Arab tetap hidup dan semakin menarik untuk dipelajari keunikannya. Tabik.

Related posts

1 comment

Comments are closed.