Mengingat Kembali Maharah Qiroah Strategi Jigsaw

Membaca adalah kemampun mengenali isi sesuatu yang tertulis dengan melafalkan atau mencernanya di dalam hati. Maka hakikatnya membaca merupakan proses komunikasi antara pembaca dan penulis melalui teks yang ditulisnya. Maka secara langsung didalamnya terjadi hubungan kognitif antara Bahasa lisan dengan tulisan.

Kemahiran membaca mencangkup dua hal, yaitu mengenali symbol-simbol yang tertulis dan memahami isinya. Bagi para siswa Indonesia yang mempunyai latar belakang kemahiran membaca tulisan latin, kemahiran membaca tulisan Arab merupakan masalah. Sebab alphabet Arab dengan alphabet latin berlainan dan masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri.

Read More

Kemampuan membaca Bahasa Arab sangat bergantung kepada pemahaman isi atau arti yang dibaca. Ini berarti sangat bergantung pada penguasaan qawaid atau gramatikal Bahasa Arab yang meliputi Nahwu dan sharaf (sintaksis dan morfologi)

Pembelajaan maharah qira’ah adalah salah satu dari empat maharah yang dipelajari siswa dalam pembelajaran bahasa Arab. Tujuan pembelajaran maharah qira’ah bukan semata siswa hanya membaca teks-teks bahasa Arab dengan lancar mengikuti kaidah nahwu sharaf dengan tepat, tetapi juga agar mampu memahami teks dan mengambil esensi dan makna pemikiran utama dalam sebuah teks, sehingga siswa mampu untuk menerapkannya di kehidupan mereka (Ritonga et al. 2020).

Salah satu strategi yang paling sukses diterapkan untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran kooperatif adalah menggunakan strategi pembelajarn jigsaw. Karacop (2017) memaparkan bahwa Jigsaw merupakan salah satu strategi pembelajaran berbasis pembelajaran kooperatif yang mengedepankan kerjasama antar siswa, serta memberikan dukungan kepada siswa untuk mengurangi bahkan menghilangkan persaingan di kelas. Dalam hal ini bukan berarti menganggap persaingan adalah hal yang buruk bahkan jahat, karena banyak di luar sana yang merasa bahwa persaingan terasa menyenangkan dan mampu menambah semangat dalam mengerjakan tugas yang dirasa membosankan.

Dilansir dari The Jigsaw Classroom (www.jigsaw.org), sebuah website resmi pembelajaran metode Jigsaw, Jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif berbasis penelitian yang ditemukan dan dikembangkan oleh Elliot Eronson dan mahasiswanya di University of Texas dan Univercity of California. Jigsaw pertama kali digunakan pada tahun 1971 di Austin, Texas. Eronson bersama muridnya telah menemukan strategi pembelajaran itu sebagai kebutuhan mutlak untuk meredakan siswa-siswanya yang meledak-ledak dan bertengkar satu sama lain antar ras dan golongan. Dan setelah diamati oleh Eronson dan muridnya, ia menyimpulkan bahwa permusuhan itu didorong oleh lingkungan kelas yang kompetitif.

Langkah-langkah untuk menerapkan strategi jigsaw dalam kelas

  1. Guru membagi siswa menjadi satu kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. Anggota kelompok harus beragam dalam hal jenis kelamin, etnis, ras, dan kemampuan.
  2. Guru menunjuk 1 siswa dari setiap kelompok untuk menjadi ketua kelompok. Siswa yang menjadi ketua kelompok harus menjadi yang paling dewasa di dalam kelompoknya.
  3. Guru membagi materi pembelajaran pada hari itu menjadi 5-6 bagian.
  4. Guru menugaskan setiap siswa untuk mempelajari 1 bagian. Pastikan siswa memiliki akses langsung hanya ke bagian mereka sendiri.
  5. Guru memberikan waktu pada siswa untuk membaca bagian mereka setidaknya 2 kali hingga siswa menjadi lebih mengenal dan terbiasa dengan bagiannya, dan mereka tidak perlu menghafalkannya.
  6. Guru membentuk “kelompok ahli” (expert group) sementara dengan meminta satu siswa dari setiap kelompok jigsaw bergabung dengan siswa lain. Beri waktu untuk siswa di kelompok ahli ini untuk mendiskusikan poin-poin utama dari bagian mereka dan juga berlatih untuk mempresentasikan apa yang akan mereka sampaikan ke kelompok jigsaw mereka. Kemudian bawa mereka kembali ke kelompok jigsawnya.
  7. Guru meminta setiap siswa untuk mempresentasikan bagiannya kepada kelompok. Dorong anggota kelompok lain untuk mengajukan pertanyaan atau sekedar klarifikasi.
  8. Guru berkeliling dari 1 kelompok ke kelompok lain dan mengamati proses mereka. Apabila ada kelompok yang mengalami masalah, misalnya seorang anggota kelompok mendominasi atau mengganggu, buatlah interversi yang sesuai. Ketua kelompok bertugas untuk menghandle anggota dan tugas kelompok sepenuhnya. Ketua kelompok dapat dilatih dengan membisikkan intruksi tentang cara memimpin kelompoknya sampai ia menguasainya.
  9. Di akhir sesi, berikan kuis tentang materi yang telah dipelajari. Siswa dengan cepat akan menyadari bahwa sesi ini tidak hanya menyenangkan dan sekadar permainan biasa, namun benar-benar sudah disiapkan dan diperhitungkan

Dengan begitu pembelajaran Bahasa Arab tidak membosankan dan monoton mengartikan dengan menjadikan guru sebagai aktor utama dalam pembelajaran. Barakallahu fikum

 

Related posts