Mengulas Nalar Bertuhan ala Socrates

Identitas Socrates dalam literatur-literatur sekunder (mengingat Socrates tidak meninggalkan tulisan pena), pemikirannya sangat otentik dengan penajaman pentingnya mengenali diri sendiri. Disamping itu, Socrates menjelaskan secara detail tentang pengetahuan universal. Socrates, memberikan pandangan bahwa mustahil bagi seorang manusia mengetahui sesuatu yang hakiki dari suatu realitas yang ada, jika manusia tidak mengetahui manusia. Adalah mustahil jika manusia tidak mengenali dirinya kemudian mengetahui manusia.

Ungkapan Socrates dalam kritikannya terhadap filosof sebelumnya yang cenderung menjadikan objeknya di luar dirinya sebagai pemikirannya terselubung makna tunggal yang terkait yakni perihal ketuhanan. Hal tersebut didukung oleh berbagai pemikiran yang mengungkapkan bahwa ketika seorang manusia mengetahui (mengenal) dirinya atau mengetahui eksistensi dirinya, maka secara langsung ia akan memiliki banyak pertanyaan tentang segala hal.

Read More

Mengetahui Diri Sendiri

Pun Socrates, dengan metode sokratiknya, ia memiliki banyak pertanyaan untuk didialogkan dengan lawan bicaranya, yakni para pemuda di Athena. Sebelum ia merealisasikan ajaran dan prinsipnya di Athena, ia telah mengokohkan pemikirannya hingga sangat konsisten, bahwa mengetahui diri sendiri merupakan salah satu pintu untuk mencapai pengetahuan yang universal. Sehingga, tidak dapat dipungkiri, boleh jadi Socrates telah menemukan berbagai rahasia yang tersembunyi dari realitas fenomena yang terjadi.

Namun, problem ini menjadi rumit, karena tidak ada satupun peninggalan karya yang dituliskan langsung oleh Socrates, sehingga kemungkinan besar pemikiran ketuhanan secara detail Socrates tidak dapat sesempurna harapan para pengkaji. Untuk itu, sumber yang dijadikan panutan dalam pencarian pola ketuhanan Socrates tidak lain ialah murid-muridnya. Diantaranya mereka ialah, Aristophanes 9pengarang komedi temasyhur di Athena) katak-katak dan awan-awannya, Xenophon dalam Memorabilianya (kenangan akan Socrates), Plato dalam Faedonya (dialog-dialog bersama Socratos)  dan Aristoteles (Murid Plato) dalam Metafisikanya.

Pola ketuhanan Socrates sangat tergambar jelas dalam akhir hidupnya ketika ia tidak memilih opsi yang ditawarkan pemerintah untuk menghancurkan keyakinan yang telah dipegangnya hanya untuk kehidupan dirinya yang tidak berharga. Ia lebih memilih meminum racun mematikan, dengan tujuan supaya ajaran dan prinsip hidup tetap dalam keabadian yang berharga. Konsistensi atas pengetahuan yang diperoleh Socrates secara tidak langsung mengajak pengkaji untuk menemukan pola ketuhanan Socrates di masanya, mengingat ia disesatkan oleh para tetua di masanya karena dianggap sebagai ‘biang kerok kerusakan’ keberagamaan saat itu yang masih menyembah berhala. Hingga, ia divonis hukuman.

Selain itu, hukuman yang didapat Socrates juga disebabkan karena penolakannya terhadap sistem demokrasi. Socrates meragukan sistem demokrasi alam sikap juga peikirannya disebabkan karena pandangannya yang menyatakan “mana mungkin pemerintahan bisa bertahan jika dikuasai oleh para orator”. Ungkapannya ini ditulis oleh Plato dalam karyanya Protgoras. Bagi Socrates, negara dan pemerintahan akan bertahan jika dipimpin oleh warga yang bijak (terbijak diantara yang bijak). Hal ini didasrkan pada argumennya bahwa kesejahteraan mustahil dicapai negara dan pemerintahan jika sistemnya dikuasai oleh orang banyak dan tidak mengerti (sistem perwujudan demokrasi).

Sikap Ketuhanan

Adapun sikap dan pandangan Socrates terhadap ketuhanan, ia memiliki pemikiran yang berbeda dengan yang lainnya pada masa hidupnya. Di antara berbagai conothnya ialah ketika dirinya berdialog dengan Aristodium pada masanya. Dialognya bertopik perihal ‘kebetulan’. Socrates menolak adanya kebetulan dalam segala sesuatu yang terjadi. Ia mengungkapkan pandanganya dalam pertanyaan kepada Aristodium, hingga akhirnya Aristodium mengakui keberadaan Tuhan. Socrates memberikan jawaban bahwa segala sesuatu yang terjadi (termasuk tindakan) bukan kebetulan saja, akal dan pengetahuan adalah salah satu jalan menemukan jawaban itu. Dalam hal ini, ada dua jalan yang dibangun Socrates dalam mengetahui Tuhan yakni adanya alam ini dan alasan-alasan sejarah.

Namun, kekritisan Socrates dalam dialognya hingga menjadikannya konsisten dalam argumennya menjadi pijakan awal atau alasan awal kenapa ia harus terus berjuang menyebarkan ajaran dan prinsipya melalui metodenya. Ia juga mengungkapkan bahwa menyembah berhala itu berbahaya untuk dirinya, karena ia tahu bahwa berhala itu hanya buatan manusia. Sehingga, ia tidak menyembeh berhala layaknya warga sekitarnya di Athena, akan tetapi menyebarkan ajaran bahwa menyembah berhala itu berbahaya.

Dalam dialektikanya, Socrates mengungkap bahwa berhala tidak dapat memberikan bahaya ataupun untung bagi dirinya. Bahkan ia pernah di ajak raja ketika dalam perang untuk ikut menyembah berhala, tetapi ia menolaknya dengan argumen lumayan logis. Ia menyatakan pada raja jika berhala itu memiliki barang yang dicarinya, sejak dulu Socrates tidak akan meninggalkan berhala itu untuk merenung dan menjauh mencari kelurusan dalam hidup.

Ajaran-ajaran yang disebarkan oleh Socrates telah diikuti oleh pemuda-pemuda di Athena, sehingga sebagian para pemuda sudah enggan menyembah berhala. Pengikutnya mayoritas dari golongan muda, bahkan para anak-anak pejabat dan pemuka Athena juga ikut serta engagumi Socrates.

Socrates secara sengaja menyebarkan ajaran-ajarannya, meskipun ia sadar bahwa ajarannya sangat bertolak belakang dengan sistem keberagamaan di wilayahnya. Meski demikian, raja saat itu tidak lantas marah dengan Socrates dan menghukumnya, akan tetapi membiarkan Socrates seperi itu. Bagi raja saat itu, tindakan Socrates tidak dapat ditemukan kesalahannya, karena baginya tindakan Socrates lebih sempurna (lebih baik) daripada ungkapannya.

Secara otomatis, Socrates terus memperjuangkan keyakinannya dengan menjelajahi daerahnya. Segala yang ditemunya ia ajak dialog, terkhusus para kaum muda. Socrates sadar, bahwa para tetua memiliki sifat kolot dan kaku, sehingga jika diajak dialog akan mengikut sertakan Tuhan yang diyakininya tanpa melalui berfikir kritis. Oleh sebab itulah, akhirnya para pemuka agama yang mayoritas menyembah berhala merasa terusik dengan kegiatan yang dilakukan Socrates. Kemudian mereka bergerombol menuju raja untuk memberi hukuman pada Socrates karena berbagai sebab yang merugikan dan merusak. Alhasil, Socrates divonis hukuman mati dengan pilihannya meminum racun dengan tujuan supaya ajaran dan prinsip hidupnya tetap abadi di Athena.

Dari tulisan ini, ditemukan bahwa Socrates merupakan salah satu filosof yang mengakui adanya Tuhan dan berprinsip atas ketunggalan Tuhan, salah satu buktinya terungkap dalam karya Plato yakni Protagoras.  Adapun, jalan menyebarkan ajarannya yakni melalui dialektikanya yang memperlihatkan adanya alam ini (fenomena) dan argumentatif berupa sejarah.

Related posts