Mengurai Benang Kusut Kesalahan Berpikir dalam Ruang Mantiq

naskah ilmu manthiq
naskah ilmu manthiq

Mengurai Benang Kusut Kesalahan Berpikir dalam Ruang Mantiq. Sebagai sarana berpikir, logika memainkan peran penting sebagai “alat pemindai” untuk mengidentifikasi pikiran. Utamanya tentang mana pikiran yang logis dan mana yang tidak logis–yang biasa disebut dengan istilah kesalahan berpikir (logical fallacy).

Dalam aktivitasnya sehari-hari, seseorang dengan tanpa sadar dapat terjebak pada logika yang cacat. Terutama ketika kesalahan berpikir samar menyelinap. Hal ini tentunya dapat mengarah pada pembuatan keputusan yang tidak tepat dan penarikan kesimpulan yang salah.

Read More

Baca: Keistimewaan Manthuq dan Mafhum dalam Ilmu Manthiq

Madilog Tan Malaka

Mengurai Benang Kusut Kesalahan Berpikir dalam Ruang Mantiq. Dalam bukunya yang berjudul Madilog, Tan Malaka mengemukakan tentang apa itu kesalahan berpikir. Menurutnya kesalahan berpikir  dalam logika bukanlah suatu kesalahan yang disebabkan karena lapar, pikiran haru atau faktor lainnya. Melainkan disebabkan karena lupa atau salah dalam penggunaan cara logika. Meskipun terkadang terjadi pula dalam kondisi perut kenyang dan pikiran yang tenang.

Oleh karenanya, melalui artikel ini pembaca akan diajak untuk mengetahui kompleksitas kesalahan berpikir yang umum terjadi di khalayak. Begitu juga melihat bagaimana kesalahan-kesalahan ini dapat memberikan dampak signifikan pada kualitas penalaran dan pengambilan keputusan.

Lebih lanjut, artikel ini akan memberikan wawasan baru dalam sistematika berpikir. Mencoba mengetahui cara mengurai benang kusut yang dapat mempengaruhi pemikiran seseorang dalam aktifitasnya sehari-hari.

Kesalahan Umum Berpikir Logis

Ada beberapa kesalahan berpikir yang sering terjadi di khalayak, baik secara sadar ataupun tidak. Tapi secara umum, kesalahan berpikir dapat terjadi lantaran satu dari dua hal berikut.

Pertama, premis-premis yang dijadikan sebagai dasar berargumentasi mengalami kekeliruan atau cacat dalam susunannya. Sehingga kehadiran premis yang keliru tadi menyebabkan konklusi yang dihasilkan juga menjadi keliru.

Kedua, terdapat problem yang mendasar dari bentuk premisnya, sehingga menyebabkan hasil yang diperoleh juga mengandung kesalahan.

Perhatikan contoh berikut: (1) Joko pergi ke Semarang atau ke Demak [premis minor]. (2) Ternyata Joko tidak ada di Demak [premis mayor]. (3) Berarti Joko berada di Semarang [konklusi].

Menyimpulkan Joko berada di Semarang dengan berdasar premis mayor di atas, merupakan bentuk kesalahan. Karena tidak ada yang mengetahui dengan pasti keberadaan Joko sedang dimana. Sebab bisa saja Joko sedang tidak berada di Semarang ataupun di Demak.

Baca juga: Istidlal dalam Ilmu Manthiq

Tidak Runtutnya Pernyataan

Kesalahan berpikir bisa terjadi pula pada tidak runtutnya penyataan satu dengan pernyataan yang sudah diakui sebelumnya. Misal, Ani menyatakaan “Bangunan rumah baru saya sudah sempurna. Hanya saja perlu melengkapi sedikit kekurangannya.”

Permisalan lain, seperti terdapat pada kesalahan asumsi sebab-akibat yang salah (post hoc fallacy). Yaitu, ketika ada seseorang yang menganggap bahwa setiap kali ia mengenakan baju putih–misalnya, tim favoritnya selalu menang dalam pertandingan.

Oleh karenanya, ia menyimpulkan bahwa baju putih yang ia kenakan membawa keberuntungan bagi timnya itu. Padahal, hanya karena ada korelasi antara dua peristiwa (mengenakan baju putih dan kemenangan tim), tidak berarti baju tersebut menjadi sebab dari kemenangan tim.

Kecacatan Lain

Cacat penalaran lain yang juga sering terjadi. Yakni ketika keliru dalam menarik kesimpulan dari satu premis, lalu menjadikan kesimpulan tersebut sebagai premis. Sedangkan premis semula dijadikan kesimpulan pada argument berikutnya.

Contoh sebagai berikut. (1) Kemiskinan di negeri A lantaran rendahnya tingkat pendidikan rakyat. (2) Mengapa tingkat pendidikan rakyat di negeri A rendah?. (3) Karena rayat di negeri A dalam keadaan miskin.

Gagal menjelaskan pendapat juga merupakan bentuk cacat logika yang sering terjadi, tetapi jarang disadari. Contohnya sebagai berikut.

Bayu    : “Jika lulus kuliah, pasti akan mendapat kehidupan yang sukses.”

Rara     : “Apa maksudmu?”

Bayu    : “Pokonya kehidupan yang enak.”

Dalam percakapan di atas, Bayu gagal menjelaskan secara konkret apa yang di maksud dengan “kehidupan yang sukses” setelah lulus kuliah kepada Rara. Tanpa memberikan definisi yang kuat, pernyataan Bayu menjadi ambigu dan rentan menimbukan penafsiran yang bervariasi, sehingga dapat dianggap sebagai kesalahan berpikir yang mendasari ketidakjelasan konsep yang dibahas.

Berpikir Kembali Sebelum Berucap

Menyimpulkan suatu argumen secara tergesa-gesa dapat meyebabkan kesalahan penalaran, ketidakakuratan dan penarikan kesimpulan yang tidak valid. Situasi seperti ini dapat menghalangi pemahaman yang mendalam terhadap masalah dan meningkatkan risiko kesalahan yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, dalam mengurai benang kusut mengenai kesalahan berpikir dalam mantiq, dapat disimpulkan bahwa sadar dan memahami terhadap prinsip-prinsip logika menjadi patokan utama untuk mengatasi kompleksitas argumen yang mungkin terjerat dalam kesalahan-kesalahan berpikir.

Artikel ini telah menyoroti beberapa situasi yang umum terjadi dalam proses berpikir manusia. Seperti post hoc fallacy, gagal menjelaskan definisi dan kesalahan lainnya.

Memahami Mekanisme Berpikir

Dengan memahami mekanisme mendasar kesalahan berpikir dan melibatkan penalaran yang kritis tersebut, seseorang akan dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk membuat keputusan dan menjauhkan dari penarikan kesimpulan yang keliru.

Dengan demikian, penting untuk terus memperkaya pemahaman dalam literasi mantiq dan logika agar mampu mengurai benang kusut dalam berpikir dan meningkatkan kualitas penalaran dalam setiap aspek kehidupan.

Benar, kesalahan berpikir merupakan bagian manusiawi yang wajar. Namun, melalui kesadaran dan pembelajaran yang terus-menerus diasah dan diperbaiki, seseorang dapat mengatasi tantangan ini dan mendorong terwujudnya hasil kesimpulan yang lebih rasional dan solutif.

 

Safna Faradish Mei D. Aliek, Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Related posts