Menuju Teologi Ibnu Taimiyyah

alwildan 3 islamic school
alwildan 3 islamic school

Menuju Teologi Ibnu Taimiyyah. Abdurrahim al-Basyir melalui saluran zoom meeting membuka kegiatan Dauroh Duat Nasional di Al-Wildan 3 Islamic School BSD City. Kegiatan ini diselenggarakan oleh sekolah bertaraf internasional tersebut mulai dari tanggal 17-22 Desember 2023. Al-Wildan menggandeng UFA (Ustadz Firanda Andirja Official) sebagai rekanan dalam hajatan ilmiah ini.

Ustadz Firanda Andirja didapuk sebagai pembicara tunggal yang akan mendedah kitab Aqidah Wasithiyah. Kitab ini ditulis oleh ulama Islam yang bernama Imam Ibnu Taimiyyah. Sosok intelektual sekaligus pembaru muslim dilahirkan di Harran dan meninggal di Damaskus. Beberapa kalangan kerap memanggilnya dengan nama Syaikh al-Islam karena keluhuran ilmunya.

Read More

Pada kesempatan kali ini, ilmu yang telah didokumentasikan oleh Ibnu Taimiyyah tersebut hendak di-udar. Perhelatan kali ini dihadiri sekitar empat ratus tokoh aktifis dakwah Islam Tanah Air. Sekolah Islam Al-Wildan 3 menjadi gelanggang perhelatan acara agung tersebut.

Khidmat Sepenuh Tenaga

Menuju Teologi Ibnu Taimiyyah. Dalam sambutannya, Abdurrahim al-Basyir sebagai Presiden Direktur Sekolah Al-Wildan berkomitmen memberikan layanan yang terbaik bagi forum tersebut. Mulai dari tempat penginapan para peserta sampai dengan pemenuhan makan dan minumnya serta kesehatan. Muatan sambutannya lebih banyak mengarah pada sektor-sektor fasilitas dan layanan kegiatan.

Meskipun demikian, sambutan yang disampaikan beliau dari kota Mataram (Lombok) menjadi kalam putusan bagi para panitia. Di mana panitia diminta untuk memastikan memberikan respon dan menunaikan responsibilitasnya hingga 24 jam penuh. Bahkan sampai pada metode penyajian hidangan makan para peserta pun beliau sempat ulas dalam sambutan tersebut.

Baca juga: Istidlal dalam Ilmu Manthiq

Meskipun demikian, sebagai figur yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan dakwah, Abdurrahim al-Basyir juga memiliki harapan ideal terhadap forum ini. Beliau sangat berharap kegiatan Daurah Du’at Nasional ini dapat diselenggarakan secara simultan. Artinya, helatan ini bukanlah menjadi perhelatan terakhir, namun dirancang kembali untuk menyelenggarakan helatan kelanjutannya.

Selanjutnya, dalam sambutannya tersebut Presiden Direktur dengan dua puluh dua cabang sekolah Al-Wildan di Tanah Air ini memunajatkan doa. Beliau berharap semoga Allah Azza wa Jalla dapat menurunkan berbagai kemudahan kepada acara ini. Kemudahan yang disematkan kepada siapapun unsur yang berkontribusi dalam menyukseskan hajat ilmiah tersebut.

Ustadz Firanda dan Kegiatan Literasinya

Mungkin sambutan yang paling epik dalam forum pembukaan ini adalah kalam mukadimah yang disampaikan Abah Kemal. Nama ini adalah nama pena sekaligus nama akrab bagi orang yang saat ini memegang manajemen Ustadz Firanda Andirja. Ia memberikan beberapa pengalaman kebersamaannya bersama ustadz lulusan Universitas Islam Madinah tersebut.

Paling awal sekali beliau menyampaikan bahwa buku Syarah Kitab Aqidah Wasitiyah adalah asli tulisan Ustadz Firanda. Dalam forum ini, panitia dari Al-Wildan membagikan satu paket Syarah Kitab Aqidah Wasithiyah tersebut kepada para peserta. Dalam penulisan kitab tersebut, Ustadz Firanda tidak meminta orang dari manajemennya untuk menuliskan atau mentranskrip dari hasil ceramahnya.

Abah Kemal juga menyampaikan bahwa kitab yang dicetak dengan hard cover full colour tersebut menghabiskan waktu dua tahun dalam menulisnya.

Baca juga: Gejolak Besar Pasca Pembaruan Islam Abad ke-19

Barangkali dari sekian banyak orang yang berada di sekitar Ustadz Firanda, Kemal menjadi orang yang banyak menyaksikan aktivitas literasinya. Ia tampaknya sudah hafal betul bagaimana dan kapan Sang Ustadz menulis.

Lebih lanjut ia mendeskripsikan di depan para peserta, bahwa Ustadz Firanda dalam menyelesaikan buku Syarah Kitab Aqidah Wasithiyah tersebut sangat menguras waktu dan energinya. Di Bulan Ramadhan tahun sekian, Ustadz Firanda hanya iktikaf bakda ashar sampai dengan subuh, sisanya ia pakai untuk kembali menulis.

Waktu yang cukup panjang yang dimilikinya untuk menulis biasanya hari Senin. Mulai dari pagi sampai dengan zhuhur. Sisanya adalah saat perpindahan jam kajian beliau meskipun itu hanya barang satu atau dua jam, Baik itu di mobil atau di pesawat sekalipun.

Bagaimana dengan waktu tidurnya dan istirahatnya? Sependek yang Kemal sampaikan bahwa waktu tidur beliau hanya saat tertidur dalam menulis. Manakala beliau terbangun dari ketidurannya maka beliau langsung menulis kembali. Dengan ritme yang demikian, maka memang laptop yang dipakai Ustadz Firanda senantiasa dalam keadaan menyala.

Komitmen Kuat pada Karya

Naskah yang dibuat oleh Ustadz Firanda selesai selalu diserahkan pada timnya Kemal. Kemudian ia dan timnya melanjutkan pada proses editing dan lain-lain sampai dengan proses percetakan.

Dalam penyerahan naskah buku Syarah Kitab Aqidah Wasithiyah ini, Kemal diberikan pesan khusus yang cukup merinding. Ustadz Firanda berpesan kepada Kemal untuk segera menerbitkannya sebelum beliau keburu meninggal. Sebuah ungkapan moralis sekaligus bercampur dengan nada kekhawatiran religius.

Kemal juga menambahkan bahwa kitab tersebut kali pertama dicetak sebanyak tiga ribu eksemplar. Di mana rata-rata dari keuntungan penjualan tersebut diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan keumatan.

Saat ini Ustadz Firanda tengah menggarap satu karya besar yakni tafsir al-Qur’an tiga puluh juz. Di mana tafsir ini hendak disampaikan dengan bahasa populer. Sebelumnya Ustadz lulusan doktor Universitas Islam Madinah ini telah selesai mencetak karyanya yang cukup tebal Sirah Nabawiyah sebanyak 5 jilid.

Energi di Awal Jalan

Ungkapan yang disampaikan oleh Abah Kemal memberikan energi cukup besar pada para peserta sepertinya. Bagaimana tidak, ia menjadi semacam pembawa spoiler bagi para peserta dengan behind the scene ustadz Firanda. Ketekunan beliau dalam menganalisis dan mengkaji serta kegigihan dalam berkarya sangat menginspirasi.

Panorama tersebut lebih komplit dibarengi lagi dengan elit Sekolah Islam Al-Wildan yang mendukung penuh kegiatan tersebut. Mereka telah menyiapkan tim sebaik mungkin untuk berkhidmat sebaik mungkin pada agenda tersebut.

 

Related posts