Motivasi Belajar Bahasa Arab

belajar ahasa arab
belajar bahasa arab tidak mengenal usia
banner 468x60

Motivasi belajar bahasa Arab. — Bahasa Arab menjadi salah satu bahasa asing yang diajarkan di Indonesia. Bahasa asing di sini maksudnya bukan bahasa nasional seperti bahasa Indonesia atau bahasa daerah sepertri bahasa sunda, bahasa Jawa dan sebagainya. Sebab dalam sejarah Indonesia, bahasa Arab sudah masuk ke wilayah Nusantara seiring dengan hadir – tumbuh – kembangnya Islam di negeri khatulistiwa ini.

Salah satu keniscayaan orang-orang Nusantara kala itu untuk mempelajari bahasa Arab adalah karena mereka mulai masuk dan belajar agama Islam. Di mana kitab suci umat Islam, yaitu al-Qur’an, para wali mengajarkannya  kepada masyarakat dalam rupa bahasa Arab. Sehingga secara otomatis mereka juga mulai mempelajari bahasa Arab dengan pelan tapi pasti.

Bahasa Arab terus diajarkan dari generasi ke generasi di Tanah Air. Capaian yang pembelajarannya bermacam-macam sesuai dengan tujuannya. Ada yang memang mempelajari bahasa Arab dengan tujuan pragmatis yang berkaitan dengan hal-hal duniawi. Sebut saja misalnya untuk tujuan bekerja pada instansi yang mensyaratkan memahami atau mahir bahasa Arab, hal lain misalnya untuk mendapat nilai yang bagus pada pelajaran di sekolah maupun perkuliahan kampus.

Baca juga: Demografi sebagai Peluang Dakwah

Ada juga yang mempelajari bahasa Arab dengan tujuan yang idealis. Pembelajaran bahasa tersebut misalnya  dengan tujuan untuk memahami lebih dalam bahasa wahyu. Mereka mempelajari seluk beluk bahasa Arab agar dapat memahami sumber-sumber ajaran umat Islam yakni al-Qur’an dan al-Sunnah. Bahkan memahami berbagai teks-teks khazanah keilmuan Islam dari klasik sampai dengan modern.

Umar bin Khattab dan Bahasa Arab

Artikel ini akan mencoba mengetengahkan beberapa motif ideologis mempelajari bahasa Arab. Ada dua tokoh besar dalam khazanah sejarah Islam yang memberikan motivasi besar dalam mempelajari bahasa Arab. Kalam yang mereka berikan menjadi mozaik motivasi sebagian kalangan untuk diri dan orang-orang di sekitarnya guna mempelajari bahasa Arab. Kedua tokoh tersebut adalah Umar bin Khattab dab Ibnu Taimiyyah.

Umar bin Khattab adalah salah satu tokoh sahabat Nabi Muhammad SAW dengan reputasi yang sangat tinggi dalam sejarah. Beliau mereguk hidayah setelah bersitegang dengan adiknya sendiri dan juga adik iparnya. Setelahnya masuk Islam ia termasuk di antara kalangan sahabat yang “radikal” dalam menyebarkan cahaya risalah Islam. Beberapa kali ia terjun dalam medan pertempuran sampai  menjadi Khulafa al-Rasyidin dengan gelar Amir al-Mu’minin.

Umar bin Khattab adalah di antara sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki perhatian lebih terhadap pembelajaran bahasa Arab. Umar mengatakan تعلَّموا العربيةَ؛ فَإنَّها مِنْ دِينِكُم (Ta’allamuu al-‘Arabiyah fa Innaha min Diinikum). Arti dari kalimat tersebut kurang lebih “Pelajarilah oleh kalian bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian.

Apa yang Umar bin Khattab sampaikan tersebut adalah satu pemikiran yang amat cerdas dan melampaui zamannya. Bayangkan saja, Islam saat di bawah kepemimpinannya telah mulai meluas tersebar dan dipeluk oleh beragam bangsa. Rong-rongan identitas akan senantiasa terjadi bila tidak segera mendapat antisipasi dengan cepat dan cerdas. Oleh karenanya tepat bila Umar menegaskan bahwa bahasa Arab adalah bagian dari Islam dan sekaligus memerintahkan setiap orang untuk mempelajarinya.

Syiar Islam Ibnu Taimiyyah

Ibnu Taimiyah lahir pada zaman ketika Baghdad menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Islam pada era Dinasti Abbasiyah. Ketika berusia enam tahun, Ibnu Taimiyah hijrah bersama ayahnya ke Damaskus karena munculnya invasi tentara Mongol atas Irak. Lingkungan hidup sang imam dikelilingi oleh para ulama sehingga memiliki kesempatan untuk membaca dan mengkaji sepuas-puasnya seluruh aneka macam kitab yang bermanfaat.

Motivasi belajar bahasa Arab. __Ibnu Taimiyyah memiliki porsi waktu paling banyak dalam mempelajari ilmu-ilmu tentang al-Qur’an dan al-Hadits. Ia memiliki penguasaan ilmu rijalul hadits (perawi hadis) yang sangat bermanfaat dalam menelusuri hadis dari perawi atau pembawanya.

Hampir tiap malam Imam Ibnu Taimiyah menulis tafsir, fikih, ilmu ‘ushul sambil mengomentari pandangan para filsuf. Sehari semalam ia konon mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pandangan dan pemikirannya dalam bidang syariat. Ibnu al-Wardi menuturkan dalam kitab tarikhnya bahwa karangan Ibnu Taimiyyah mencapai lima ratus judul. Di antara karyanya yang populer adalah Majmu’ Fatawa yang berisi berbagai masalah fatwa dalam Islam.

Baca juga: Hubungan Bahasa dengan Otak

Sebagai seorang cendekiawan muslim yang memiliki nama populer di pentas pengetahuan Islam, Ibnu Taimiyyah juga memiliki atensi yang besar terhadap eksistensi keilmuan bahasa Arab. Beliau mengatakan لَا سَبِيلَا لِلضَبطِ هذا الدِّين الَّا بالَّلغةِ العرَابية, Laa sabiila li dhobthi hadza al-Diin illa bi al-lughah al-‘arabiyah. Artinya kurang lebih tidak ada jalan lain untuk menekuni agama ini (Islam) kecuali dengan (belajar) bahasa Arab.

Kedua sumber yang menyandar pada cendekiawan muslim dan sahabat Nabi tersebut menjadi satu fondasi, sebuah dasar yang melahirkan berbagai argumentasi akan betapa pentingnya mempelajari bahasa Arab. Tentu ini adalah berdasarkan tinjauan teologinya.

About Post Author

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *