MUDAH SETELAH SULIT ATAU MUDAH BARENG SULIT?

             Dewasa ini, semangat pengamalan nilai-nilai al qur’an dalam kehidupan sehari-hari sungguh sangat terasa. Apa lagi kemudahan akses informasi dan pengetahuan sudah dalam genggaman masing-masing orang. Tak jarang ketika seseorang ingin memahami ajaran agama Islam cukup duduk dengan nyaman dan mulai memainkan jari-jari pada layar smartphone untuk mencari artikel atau video daring kajian keislaman atau kajian kitab tertentu. Kemudahan dan kecepatan menjadi sesuatu hal yang familiar ditemui oleh manusia zaman digital. Secara tidak langsung, inipun memupuk karakter instant dalam karakter manusia zaman digital.

Kemudian tidak sedikit pula orang yang sudah merasa mahir dalam secuil ilmu dan pengetahuan terkait agama islam memberikan kajian secara daring melalui internet atau media sosial. Semangat dakwah islam dan hijrah: minadzulumaati ilannur menjadi semakin trend melalui media internet atau media sosial. Tentu fenomena ini bernilai positif. Sarana dan peluang untuk dakwah akan semakin luas.

Read More

Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat erat hubungannya dengan agama Islam. Tentu sudah banyak literatur atau artikel yang mengetengahkan sejarah bahasa Arab dengan agama Islam.  Bahkan sahabat Rasulullah SAW, Umar Bin Khattab r.a menyatakan ‘apabila kau ingin memahami agama Islam, maka fahamilah bahasa Arab karena ia merupakan bagian yang integral dengan agama Islam’.

Seyogyanya wejangan yang dinyatakan oleh salah satu sahabat nabi SAW tersebut menjadi acuan dalam mempelajari agama islam di masa sekarang. Mengapa? Dewasa ini, sering rasanya kita melihat orang yang belum memiliki ilmu dasar agama islam yang kuat seperti bahasa Arab sudah berani membaca kitab gundul, sudah berani menafsirkan al qur’an bahkan menyalahkan penafsiran orang lain. Tentu hal ini suatu kemunduran yang membinasakan umat islam secara perlahan.

Salah satu contoh praktis dari fenomena yang sering terjadi atau bahkan bisa mudah dijumpai yaitu terkait dengan penerjemahan surat al insyiroh ayat 5 s. d. 6 yang berbunyi:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا۝٥ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا۝٦

Jika diterjemahkan secara harfiah ayat di atas bermakna ‘maka sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan(5) sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan(6). Namun sering dijumpai penerjemahan yang keliru dari kata “َمَع” diartikan sebagai ‘setelah’. Padahal jika merujuk kepada qaidah huruf, “َمَع” seharusnya diartikan sebagai ‘bersama’. Inilah pentingnya mempelajari bahasa Arab hingga benar-benar tuntas. Hal spele seperti kekeliruan penerjamahan huruf justru dikhawatirkan akan menimbulkan pemahaman yang keliru terhadap kandungan ayat al qur’an yang seharusnya. Terbukti dari kekeliruan tersebut berdampak kepada ditemukannya beberapa quote atau meme yang memuat kandungan makna ayat 5 dan 6 surat al insyiroh tersebut menjadi ‘setelah kesulitan pasti ada kemudahan’.  Tentu hal ini sangat memalukan, pada satu sisi hal tersebut secara tidak langsung menunjukan kurangnya penguasaan terhadap ilmu bahasa Arab yang menjadi kunci dasar memahami sumber ajaran agama Islam. Sisi lainnya ini tentu menimbulkan kesesatan dalam memahami ajaran Islam. Bisa dibayangkan jika penerjemahan yang keliru tersebut terus beredar di internet atau media sosial yang dapat diakses oleh siapapun dan kapanpun. Apalagi hal tersebut diakses oleh orang awam yang ingin belajar agama islam, tentu sangatlah suatu jariyatu suu’ (menyebarkan keburukan) yang seharusnya diajak menuju jalan yang terang benderang malah justru sebaliknya. Tentu hal tersebut tidak diinginkan dan tidak diharapkan terjadi kepada sesama saudara se-agama.

Semangat pengamalan nilai-nilai al qur’an dalam kehidupan sehari-hari tentu perlu diimbangi dengan penguasaaan terhadap bahasa yang menjadi perantara dari al qur’an itu sendiri yaitu Bahasa Arab. Tanpa penguasaan yang baik terhadap Bahasa Arab, maka suatu keniscayaan untuk mendapatkan pemahaman yang benar terhadap ajaran agama Islam. Begitupun dengan semangat berdakwah, agar senantiasa diimbangi dengan peningkatan penguasaan ajaran-ajaran agama islam. Diharapkan dengan adanya kesadaran tersebut dalam proses dakwa agama islam mampu mengakomodir kearifan lokal tanpa membumi hanguskan budaya atau tradisi yang sudah berkembang dan tidak terkesan ‘memaksakan’ syariat islam. Tentu dengan pendekatan dakwah semacam itu akan mudah rasanya untuk diterima oleh masyarakat dan ‘image’ dari agama islam pun akan semakin kokoh sebagai rahmatan lil aalamiin’.

Related posts