Muhammad Abid al-Jabiri, dari Figuig sampai Casablanca serta dalam Kemegahan Negeri Maghrib

Muhammad Abid al-Jabiri lahir di Figuig, sebuah kota yang terletak di di Maroko timur dekat Pegunungan Atlas, di perbatasan dengan Algeria.  Rusmailia menyebutkan bahwa Figuig adalah salah satu di antara sekian banyak kota tertua yang berada di al-Mamlakah al-Maghribiyah (Kerajaan di Ufuk Barat).

Sebuah imperium yang dirintis Dinasti Alaouite pada abad ke-17 di utara Afrika dan sebuah imperium yang saat ini kita kenal dengan nama Maroko.

Read More

Figuig merupakan salah satu kota di Maroko. Kota yang menyaksikan deretan sejarah yang ada di negeri tersebut. Kelak hal ini yang akan membentuk karakter berpikir yang sangat membekas pada diri seorang al-Jabiri.

Letak geografis kota Figuig ini sebenarnya berada di bibir perbatasan dengan negara tetangganya Algeria. Figuig adalah sebuah kota dengan oasis di ujung jalan satu negara. Ia dikenal sebagai kota dengan iklimnya yang sangat kering, pohon-pohon kurmanya yang tinggi dan kampung-kampungnya (ksar) yang menaungi bangunan-bangunan berbahan dari lumpur.

Kondisi kota Figuig yang demikian tentu membuat siapapun yang terlahir di sana mengenyam iklim sosial yang cukup keras. Namun sepertinya al-Jabiri tidak benar-benar menghabiskan masa mudanya di sana, sebab saat masuk sekolah menengah ia menempuh pendidikannya di kota Casablanca.

Muhammad Abid al-Jabiri lahir di negeri yang memang dalam bentangan sejarahnya memiliki catatan historis yang sangat kaya. Utamanya dalam belantika sejarah peradaban Islam. Terlebih wilayah tersebut adalah wilayah yang menjadi pusat-pusat berkembangnua ilmu pengetahuan. Bahkan sampai saat ini Maroko masih begitu diperhitungkan iklim akademisnya dalam dunia Islam.

Al-Jabiri menyelesaikan pendidikan dasarnya di madrasah Hurrah al-Wathaniyah, sekolah agama swasta yang didirikan oleh sebuah gerakan kemerdekaan di Maroko saat itu, sedang pendidikan menengahnya ia tempuh di Casablanca pada tahun 1951-1953 M dan lulus dengan memperoleh Diploma Arabic High School setelah Maroko merdeka.

Dalam sejarahnya Maroko dibangun oleh Dinasti al-Murabithun (1062-1150 M) yang kala itu merupakan kekuatan baru di Afrika Utara. Mayoritas mereka bukanlah orang Arab, melainkan suku Berber.

Dinasti al-Murabithun menaklukkan Maroko (al-Maghrib al-Aqsha) dan mendirikan Kota Marrakesh sebagai ibu kota pada 1062. Setelah Ibnu Tasyfin sang pendiri Dinasti al-Murabithun dan generasi penerusnya wafat dan runtuh, tampuk kepemimpinan dilanjutkan dinasti dari suku Berber lainnya, yakni al-Muwahhidun (1150-1269 M). Dinasti ini menjadikan Sevilla (Spanyol) sebagai ibu kota dari Andalusia dan tetap menjadikan Marrakesh sebagai pusat kekuatan di Afrika Utara.

Pada masa inilah Marrakesh dan Sevilla jadi pusat-pusat ilmu pengetahuan. Di Afrika Utara, ilmu arsitektur berkembang cukup pesat hingga lahirlah dinding-dinding megah di Kota Fez, Rabath, dan Marrakesh.

Khalifah Abu Yaqub dari Dinasti al-Muwahhidun terus mendorong pembangunan sekolah dan perpustakaan yang dibarengi dengan kesejahteraan para alim ulamanya. Beberapa ulama yang lahir pada masa ini adalah Ibnu Rusyd dan Ibnu Tuhfail.

Kelak kehadiran nama-nama besar di tanah Maghrib itu akan sangat membekas pada diri seorang al-Jabiri. Menjadi referensi yang membawanya mampu merumuskan berbagai pemikiran kontemporer di zamannya.

Related posts