Muhammad Arkoun: Dekontruksi Sebagai Metode Reinterpretasi

Kondisi Arkoun yang bertempat di Prancis telah memberikan warna dan corak pemikiran yang khas, yang disitu lebih banyak berinteraksi dengan  mayoritas orang non-muslim. Dilanasakan factor tersebut menyadarkanya agar menampilkan wajah Islam yang santun dan humanis sebagaimana dalam pemkanaan al-Qur;an. Perlakuan itu berhaisl dengn memadukan atribut yang kilmuan modern yang dikuasainya, baik dari segi linguistic, antropologi, semiology, epistemology dan grammatology. Semua disiplin ilmu itu ia kuasa dari tokoh-tokoh prancis seperti Ferdinand de Saussure, Claude Levi Strauss, Roland Barthes, Michel Foucault, dan Jacques Derrida.

Proyek yang digagas Arkoun dimulai dari pandangan bahwa kajian keislaman sesungguunya memiliki berbagai lapisan yang sukar untuk dipahami. Sehingga akan wajar ketika generasi ke generasi akan susah dalam memaknainya (hakikat keislaman). Studi-studi yang dilakukan oleh para ulama dari generasi ke generasi gagal dalam memnuhi kebutuhan generasi setelahnya, hasil dari studi tersebut hanya berlaku sementara saja, tidak bisa membaca apa yang akan terjadi di masa depan. Kegagalan ini terus berlangsung sampi sekarang, bagaikan telah diwariskan secara turun temurun.

Factor ketidakmampuan dalam melihat secara menyeluruh dalam karya klasik, menjadi latar belakang Arkoun beruasah dalam mengkritik pemikiran yang telah ada sebelumnya, sekaligus menawarkan gagasan epistemology keilmuan  demi berputarnya usaha pemikiran ulang tersebut.

Kemudian dikarenakan kehidupannya berada dalam lingkungan orang Prancis yang notabene pasca-strukturalis dan pascamodern dalam dinamika pemikirannya., mendorong ide-idenya muncul, seperti mitos, wacana dan dekontruksi. Saat itu pemikiran Islam masih beku dan tertutup secara dogmatis, maka jika pemikiran Islam itu memaksakan untuk menuangkan sebuah ide ke umat akan menyuburkan fundamentaslisme Islam dalam makna negative.

Hal itu disebabkan tidak berkembangnya tradisi kritik  dalam filsafat Islam yang telah terhenti, sehingga corak penerimaan ajaran islam cenderung taqlid, tidak diberengi dengan sifat kritis. Untuk menabuh kembali genderang semangat perkembangan keilmuan  islam, maka Arkoun dalam hal ini menggunakan pendekatan dan metodologi ilmu sosial dan pascamodern. Kemudian lahirlah gagasan konsep wacana yang dikembangkan Foucoul, dekontruksi yang dipengaruhi Derrida, dan mitos yang berasal dari Riceour.

Metode dekontrukesi lahir sebagai strategi yang sangat bermanfaat untuk melakukan reinterpretasi atas proses pelembagaan agama yang berlebihan. Karena latar belakang lahirnya metode ini disebabkan oleh sejarah pemikiran Islam yang dikuasai oleh dua kecenderungan, yakni untuk menjelaskan teks serta turats dan membongkarnya. Disini dapat dilihat bahwa pemikiran islam itu sebenarnya buth yang dinamakan interaksi anatara universalisme dan pluralism.

Krisis yang terjadi di lembaga keagamaanini mengindikasikan bhawa sampai sejauh in agama cenderung muncul sebagai aktor yang otoriter. Yang awalnya pesan agama itu lebih cenderung pada upaya pembebasan, hilang dengan proses historis yang mendistorsinya. Krisis itu ada dikarenakan agama memiliki kedudukan yang dilembagakan, yang berkuasa adalah kekuasaan tertentu yang memiliki hak untuk berkata menganai kebenaran, yang mengatasanamakan otoritas mutlak, dan sering mengatasnamakan Tuhan, maupun pihak yang berkuasa lainnya. dampak dari kelambagaan yang berlebihan itu maka tejadilah pembungkaman atas kekayaaan tafsir.

Dekonstruksi tidak merupakan sebuah diskursus, dalam artian sekumpulan pernyataan yang mengarahkan dan membentuk praktik-praktik itu. Dekonstruksi juga bukan berupa metode yang terdiri dari seperangkat aturan formal untuk menganalisis praktik-praktik diskursif dan nondiskursif. Dekonstruksi dalam pengertian ini lebih merupakan sebuah strategi untuk memperlihatkan ambiguitas sebuah diskursus dengan jalan menelusuri gerakan-gerakan paradoksal yang terdapat di dalam diskursus itu sehingga tiap-tiap unit diskursus menyubversikan dasar-dasar asumsi yang dimilikinya sendiri.

Strategi dekontruksi yang dikembangkan oleh Derrida secara komplementer di wilayah studi pemikiran Islam, yang keberadaannya dapat membentuk sebuah perspektif studi Islam yang praktis dan kritis. Praktis yang dimaksud yakni perspektif ini menyediakan suatu “ontologi historis” diri kita sendiri dalam suatu wilayah relasi-relasi kuasa, terutama untuk terlibat dalam perjuangan mentransformasikan bentuk-bentuk represif dari relasi kuasa-kuasa kepada bentuknya yang positif.. Sedangkan kritis berarti melibatkan diri pada investigasi historis atas keberadaan praktik-praktik keagamaan yang cenderung diskurtif maupun sosial, dengan tujuan menyingkap suatu wilayah bekerjanya relasi-relasi kuasa.

Pengaruh Derrida begitu terlihat jelas dalam pemikiran Arkoun, hal itu terlihat saat dia menjadikan daerah I’mpense dan I’impensable sebagai sasaran analisisnya. Dengan proses pembongkaran Derrida, Arkoun berupaya untuk menemukan kembali makna yang sempat tersingkir atau terlupaa sebab banyaknya proses penutupan dan pembekuan dalam pemikiran Islam

Strategi dekontruktif yang tidak hanya menawarkan tentang cara membaca teks, namun juga memberikan suatu petunjuk kepada suatu sikap, etos, dan prinsip saling mengakui serta menghargai keberadaan yang lain. Jika metode ini ditarik untuk membaca teks-teks agama, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah memisahkan hubungan monoliner antara teks dan maknanya.

Makna disini dimkasudkan ke tafsirnya, sebab keyakinan tehadap teks yang memiliki hubungan final dengan tafsir tertentu akan berdampak negative, maka dari itu perlu adanya pembongkaran. Dampak negative itu diantaranya adalah menolak keabsahan tafsir lainnya karena fanatisme terhadap tafsir tertentu, teks akan mengalami pembusukan dikarenakan tertutupnya dari ragam penafsiran,pembekuan atas teks atas satu penafsiran yang membuatnya tidak bermakna lagi ketika dihadapkan dengan perubahan zaman modern ini.

Arkoun memanfaatkan metode dekonstruksi ini untuk melakukan rekonstruksi tradisi ilmiah Islam klasik. Dengan metode Pembongkaran ini, maka akan terlihat lapisan-lapisan ilmu yang telah terkubur oleh ortodoksi, setelah itu pemilihan diadakan untuk memilah mana yang penting dan mana yang tidak penting dalam studi Islam.

Ada hal yang perlu dicatat ketika akan melakukan metode dekontruksi ini, bahwa dekontruksi tidak mungkin dapat dilakukan tanpa ada kesiapan pengetahuan akan sejarah, baik itu menyangkut tradisi islam maupun tradisi yang masih tersembunyi, maupun tradisi yang sudah tercamar unsur-unsur luar.[1] Selanjutnya Arkoun menegaskan bahwa dekontruksi ini harus dibarengi dengan rekontruksi suatu wacana.

Arkoun berpikir kita harus mengkritik model penalaran Islam tradisional yang membingungkan interpretasi tradisional yang berakar dalam sejarah dengan kandungan wahyu ilahi. Arkoun menyarankan orang muslim untuk mendekonstruksi pemikiran dan interpretasi masa lalu pada teks-teks suci. Kebiasaan-kebiasaan nalar Islam yang diwariskan harus didekontruksi dan teks-teks suci harus terbuka untuk penelitian sejarah dan linguistik modern. Oleh karena itu, dia menggunakan metode dekonstruksi ini untuk merekonstruksi tradisi keilmuan Islam klasik. Arkoun yakin bahwa tanpa minat dan ketertarikan melalui pertemuan dengan hasil pemikiran modern, standar pengetahuan Islam di kalangan ulama tradisional dan para  Islamis akan menurun.

[1] Siti Rohmah Soekarba, “Kritik Pemikiran Arab…, h.88

Related posts