Nasihat Untuk Para Penuntut Ilmu

Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat agung lagi mulia. Sebuah keniscayaan bagi manusia untuk menuntut ilmu. Karena sejatinya manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan polos dan buta ilmu pengetahuan. Dari itu, Rasulullah saw sangat mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Namun apabila kita menyadari betapa pentingnya menuntut ilmu, tentu kita menyikapinya bukan hanya sekedar kewajiban semata, akan tetapi lebih tepatnya adalah sebuah kebutuhan. Layaknya kebutuhan akan makanan dan minuman dikala lapar dan dahaga setiap harinya. Begitulah perumpamaan yang mungkin cukup tepat apabila ada kesadaran akan pentingnya sebuah ilmu.

Pembahasan tentang keistemawaan ilmu dan orang yang berilmu sudah banyak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw. Namun ketahuilah wahai para pejuang yang begitu bersemangat, bersungguh-sungguh, dan tekun dalam memperoleh ilmu. Apabila tujuan dalam menuntut ilmu adalah untuk hal duniawi, sekedar kebanggaan ingin terlihat lebih pintar diantara teman-teman sejawatnya, atau bahkan menjual ilmu demi kekayaan duniawi dan lain sebagainya. Ketahuilah, bahwa sejatinya kita berada pada posisi yang sangat merugi. Dari itu, hendaklah untuk memperbaiki niat awal dalam menuntut ilmu.

Read More

Sebaliknya, jika tujuan yang dicanangkan di hadapan Allah SWT dalam menuntut ilmu adalah guna mencari petunjuk dan ridho-Nya, maka berbahagialah. Sebab, para malaikat akan membentangkan sayap-sayap mereka, dan ikan-ikan di laut pun akan memohonkan ampunan dalam setiap langkah perjalanan kita.

Petunjuk Allah adalah buah dari proses ilmu. Petunjuk Allah itu memiliki sumber dan buah (hasil). Mustahil kita dapat mencapai buah tanpa melewati proses awal. Ilmu adalah cahaya Allah dan sejatinya adalah milik Allah. Sudah tentu hakikat Ilmu adalah yang mendekatkan kepada sang pemilknya, yaitu Allah SWT. Pernahkah kita mengetahui sepotong nasihat guru Imam Syafi’i rahimahullah ta’ala yaitu Imam Waki’,

العلم نور و نور الله لا يهدى لعاصي

Ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah (hidayah) tidak diberikan  kepada ahli maksiat

Lalu timbul pertanyaan, bukankah banyak sekali orang yang pintar, cerdas, sangat berilmu, lihai dalam beretorika, ahli berdalil agama, tapi berbanding terbalik dengan kepribadiannya dan perilakunya yang sangat tidak mencerminkan kedalaman ilmunya. Bahkan yang lebih parah lagi dia mengetahui akan suatu hal yang salah menurut pandangan agama, akan tetapi berdalih sekuat tenaga mencari pembenaran menurut dirinya bukan kebenaran menurut pandangan agamanya.

Mungkin juga pernah kita jumpai sebagian orang yang kelihatan berilmu akan tetapi mudah sekali tergelincir dalam lembah kemaksiatan. Mungkin bisa jadi ilmu yang didapatinya hanya sekedar memintarkan akal kognitifnya saja, tidak sampai pada hatinya. Sehingga cahaya-Nya tidak sampai pada hatinya yang dapat mencerahkan semuanya. Apabila kita menyadari dan merenungi semua ilmu yang telah kita dapati, betapa tidak pantas diri kita tetap asyik terjerumus dalam keburukan dan kemaksiatan. Seakan-akan tidak takut pada azab-Nya. Sadarilah bahwa kecerdasan yang dimiliki adalah anugerah dari Allah dan itu merupakan amanah yang patut disyukuri. Oleh karena itu, teruslah berintrospeksi dan senantiasa memperbaiki niat kita dalam menuntut ilmu.

Adapun hakikat ilmu yang dimaksudkan oleh Imam Waki’ adalah hakikat Ilmu yang sebenarnya. Ilmu yang apabila kita mempelajarinya mendekatkan hati kita kepada-Nya. Mencerahkan hati kita bahwa Allah lah Sang Maha Pemilik Ilmu. Menundukkan hati kita untuk selalu bersyukur dan bertambah ketaatan kepada-Nya. Sungguh tidak pantas kita mengunggulkan akal kita, karena jelas Allah memberikan ilmu kepada hamba-Nya hanyalah sangat sedikit, ya sangat sedikit dari luasnya samudera ilmu milik Allah SWT.

وَ مَا أُوْتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيْلًا

Dan apa yang Aku berikan kepadamu dari Ilmu hanyalah sedikit

Jika hati condong kepada-Nya, menerimanya dengan keikhlasan, maka atas izin Allah kita akan masuk ke dalam samudera ilmu yang sangat luas dan dalam. Janganlah dalam menuntut ilmu hati kita tidak ikhlas, sangat mudah menyerah, selalu menolak, bimbang dalam mengamalkan segala bentuk konsekuensinya, atau sebatas hanya mencari yang enaknya saja. Lebih parahnya lagi niat yang tidak baik dalam mempelajari suatu ilmu seperti memanfaatkan kepintarannya lalu membodohi orang yang tidak lebih pintar darinya

Apabila yang mendorong dalam menuntut ilmu adalah beberapa hal yang dipaparkan sebelumnya, ketahuilah bahwa itu adalah nafsu yang mengajak kepada kejahatan, atau lazim disebut dengan nafsu al-ammarah (nafsu yang keji). Menjerat kita dengan jerat tipu daya, lalu menjerumuskan kita pada jurang kebinasaan. Setan bermaksud menawarkan kejahatan yang dikemas dalam tampilan kebaikan, supaya ia berhasil membuat kita bergabung dengan orang-orang yang merugi.

Mungkin kita beranggapan bahwa kita tidak berbuat salah. Pada saat itulah setan akan terus menghiasi ilmu kita dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan selalu merugikan orang lain.Tanpa kita sadari kita telah masuk dalam jerat permainannaya. Na’udzubillah. Rasulullah saw bersabda, sebagai berikut,

مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَ لَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا

“Barang siapa yang ilmunya bertambah, namun petunjuk bagi dirinya tidak bertambah, niscaya ia hanya akan semakin jauh saja dari Allah” (HR. Dailami)

Rasulullah saw juga bersabda,

أَشَدُّ النَّاسَ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعُهُ اللهُ بِعِلْمِهِ

“Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat kelak ialah orang berilmu yang ilmunya tidak diberikan manfaat oleh Allah” (HR. Al-Baihaqi)

Hingga beliau selalu berdoa,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَمْ يَنْفَعْ وَ قَلْبٍ لَا يَغْشَعْ وَ عَمَلٍ لَا يُرْفَعْ وَ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعْ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu, amal yang tidak diterima, dan doa yang tidak didengar.”

Beliau juga pernah bersabda,

“Pada malam Isra aku mendapati beberapa kaum yang menggunting lidah mereka sendiri dengan menggunakan gunting-gunting dari neraka. Aku bertanya, ‘Siapa kalian?’ Mereka menjawab, ‘kami dahulu suka menyuruh kebajikan, namun kami sendiri tidak melakukannya. Dan kami suka melarang kejahatan, namun kami sendiri malah melakukannya.“

Sungguh hanya Allah lah tempat kita berlindung dari segala tipu daya setan. Waspadalah, jangan sampai kita mudah tunduk kepada tipu muslihat setan. Pesan bagi kita semua, “Sungguh celaka orang bodoh yang tidak mau belajar, walau hanya sekali, dan sungguh celaka bagi orang berilmu yang tidak mau mengamalkan ilmunya.”

Wallahul musta’an wallahu a’lamu bish showab.

Related posts