Natal dan Lingkaran Perdebatan

natal dalam lingkaran perdebatan
foto diambil dari cnn.
banner 468x60

Natal dan lingkaran perdebatan yang melingkupinya menjadi menu hidangan tahunan di negeri ini. Arena yang awalnya bersifat elitis di kalangan agamawan saja sekarang meluber ke berbagai gelanggang dan berbagai kalangan. Sehingga fenomena ini menjadi terus direproduksi sesuai dengan musimnya.

Mengapa demikian?. Karena kita tidak menjumpai orang memperdebatkan boleh tidaknya orang muslim mengucapkan selamat natal pada saat penentuan sidang isbat awal Ramadhan. Juga kita tidak menemukan perdebatan pengucapan selamat natal manakala ribut-ribut tentang pencairan dana BLT dari Pemerintah!.

Dampak dari Festivalisasi Hari Keagamaan

Penulis tidak akan membahas lebih detail argumentasi dari pihak yang mengharamkan atau membolehkan pengucapan selamat natal dari orang muslim kepada non muslim. Hanya dalam fenomena yang demikian entah kenapa perdebatan akan hal tersebut seolah tidak memiliki titik untuk bersepakat tidak mendebatkan hal yang serupa.

Namun nyatanya hukum alam menghendaki jalannya sendiri dengan ragam pertunjukan tingkah polah manusia-manusia beragama di dalamnya. Perdebatan menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Mulai dari majelis keagamaan masing-masing sampai ke khalayak netizen di padang media sosial. Dus fenomena ini sejatinya sangat rentan untuk memicu konflik mulai dari pikiran sampai dengan perbuatan (tidak menutup kemungkinan).

Negara telah memberikan ruang pada para pemeluk agama yang ada di Indonesia untuk merayakan beberapa hari besarnya masing-masing. Kesempatan tersebut diberikan dan ditetapkan secara resmi dalam kalender nasional untuk memberi ruang toleransi secara kenegaraan pada seluruh rakyat di Republik ini.

Baca juga: Budaya Ziarah di Banten

Namun konstelasi ruang tersebut ternyata memantik fakta di mana beberapa ucapan-ucapan keagamaan membawa setumpuk persoalan. Sebut saja misalnya manakala setiap kaum agamawan diiklankan mengucapkan selamat atas hari agamanya, adakah pemeluk lain boleh mengucapkan hal yang demikian pada pemeluk agama tersebut?. Selanjutnya apakah diperbolehkan misalnya seorang muslim memasuki gereja untuk merayakan misa natal?. Bagaimanakah hukumnya bila seorang non muslim justru mengucapkan selamat maulid Nabi kepada orang muslim?. Serta bagaimana pula bila mereka memberi angpau pada anak-anak muslim saat hari raya Idul Fitri tiba?.

Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup menarik untuk dicermati dan dicari pemecahannya. Sebab bila didiamkan akan muncul stigma dan laku main hakim sendiri terhadap keyakinan orang lain. Meskipun hasil dari istidlal atau penalaran akan persoalan-persoalan tersebut melahirkan jawaban dengan resultan yang heterogen.

Perdebatan, Pendidikan dan Pendewasaan

Saya kira cukup mustahil untuk memberikan jawaban yang seragam terhadap isu kebolehan atau ketidakbolehan pengucapan selamat natal. Kita tidak bisa mengontrol dan mendikte nalar pikiran seseorang. Bila kita search dalam mesin pencarian Google, maka akan muncul beragam artikel dengan ragam jawaban. Mulai dari yang mengharamkan sampai dengan yang membolehkan. Mulai dari “ulama kelompok kanan” sampai dengan “ulama kelompok tidak kanan”.

Perdebatan yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini seharusnya memberikan momen reflektif bagi setiap pemegang pendapat mana pun. Sebuah momen atau kesempatan untuk menjadikan fenomena tersebut ajang edukasi berpikir secara kritis. Dengan begitu ajang perang stigma dan main klaim sendiri dapat ditekan bahkan diturunkan.

Pendidikan untuk berpikir kritis ini sangat penting untuk memangkas rantai perdebatan konyol yang dapat memproduksi chaos di tengah masyarakat. Nalar kritis dan proses istidlal yang dilakukan oleh para elit agamawan harus diturunkan kepada para akar rumput untuk bisa dipahami. Pun dalam arus transmisi ini harusnya tidak juga dibarengi dengan sentimen yang membabi buta.

Kasus soal pengucapan natal di Tanah Air yang masih terkenang sampai sekarang di panggung sejarah nasional adalah kasusnya Buya Hamka. Tidak ada yang paling heroik dari apa yang beliau hadapi sampai-sampai sikap dan keyakinannya membuat ia rela menanggalkan jabatannya sebagai Ketua Umum MUI saat itu. Sayangnya beberapa kelompok mereduksi peristiwa tersebut dengan salah kaprah dan amat fatal dengan citra intoleransi.

Terakhir penulis menegaskan bahwa kita tidak sedang berupaya untuk menghindari perdebatan dengan pembiaran dan menjadikan semua soal mengambang tanpa kepastian dan sikap. Penekanan kita adalah pada sikap sportif dan jujur akan suatu isu serta menghormati mereka yang berbeda sikap dengan apa yang kita pegang. Pada akhirnya semua proses kritis dan jujur tersebut menuntun kita pada kedewasaan berpikir yang mampu menyelamatkan kita dari perangkap keretakan dan perpecahan sebagai umat dan bangsa.

 

About Post Author

Pos terkait