Obat Galau Milenial Pecinta Bahasa Arab

  • Whatsapp

Penulis: Dr. Ibnu Burdah, MA.
Penerbit: Zahir Publishing
Cetakan: I, 2019
Tebal: xviii+158 halaman
ISBN: 978-602-5541-51-3

Bahasa, kita tahu merupakan satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer, yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Satu sistem, karena bahasa dibangun oleh sejumlah subsistem seperti fonologi, sintaksis, dan leksikon. Disebut lambang bunyi yang bersifat arbitrer, artinya antara lambang yang berupa bunyi itu tidak memiliki hubungan wajib dengan konsep yang dilambangkannya (Chaer, 2015).

Bacaan Lainnya

Kita tamsilkan bahwa bahasa bersifat arbitrer, misalnya pertanyaan “mengapa binatang berkaki dua yang biasa terbang disebut (burung)?”. Maka pertanyaan itu tidak dapat dijelaskan, karena ia bersifat arbitrer, manasuka. Suatu saat nanti, ketika manusia—yang memiliki bahasa—sudah tak suka lagi dengan lambang bunyi (burung), bisa saja atau mungkin saja tak lagi menyebutnya (burung), dan berubah menjadi (unta), misalnya. Itulah yang dimaksud arbitrer.

Muasal Bahasa

F.B Condillac, seorang filsuf Prancis, berpendapat bahwa bahasa itu berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh perasaan atau emosi yang kuat (Chaer, 2015). Konon, sebelum teori Tuan Condillac ini, ada teori purba yang dikatakan oleh agamawan, bahwa bahasa itu berasal dari Tuhan. Menurutnya, Tuhan telah melengkapi kehadiran sejoli manusia pertama, Adam dan Hawa, dengan kepiawaian berbahasa.

Namun teori purba tersebut segera dibantah oleh Von Herder, seorang filsuf Jerman. Ia mengatakan bahwa teori bahasa berasal dari Tuhan itu mustahil belaka. Sebab ia sama sekali tidak sesuai dengan logika bahwa Tuhan Maha Sempurna, sementara bahasa itu sedemikian buruknya.

Lantas, Herder mengatakan bahwa bahasa adalah peniruan bunyi alam, atawa onomatope, sebagai akibat dari dorongan hati yang sangat kuat untuk berkomunikasi. Kata belakangan tersebut lah fungsi utama bahasa, yaitu sebagai alat interkasi sosial, untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep dan juga mengungkapkan perasaan bahwa aku mencintaimu, umpama.

Pemerolehan Bahasa

Sebelum mengungkapkan perasaan, terselip satu pertanyaan penting, alat apakah yang digunakan kita waktu kanak-kanak dulu, untuk memperoleh kemampuan berbahasa itu?

Begini menurut Chomsky. Setelah melakukan pengamatan dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia lahir dengan dilengkapi alat (innate: bawaan lahir dan semula jadi) yang memungkinkan dapat berbahasa dengan mudah dan cepat. Contohnya, semua kanak-kanak yang normal akan memperoleh bahasa ibunya asal tidak diasingkan dari ibunya (Chomsky, 1970).

Artinya, pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses yang berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Jadi, kita dapat berbahasa, Jawa, misalnya, adalah karena proses yang berlangsung di dalam kita ketika kita ditimang ibu kita dan bermain dengan teman-teman kita.

Kini, kita hidup pada zaman di mana dunia tidak ada lagi batas, baik ruang maupun waktu. Manusia dari berbagai bangsa, suku, etnis, dan ras, hidup bersama di dalam satu tempat dengan membawa budaya—termasuk bahasanya masing-masing, atau yang kita kenal dengan global vellage. Oleh karena itu, kita dituntut untuk tidak puas dengan hanya menguasai satu bahasa. Dan di antara bahasa lainnya adalah bahasa Arab.

Menguasai Strategi Belajar

Jauh sebelum bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa Internasional, bangsa Indonesia telah mengenalnya dan menjadikannya sebagai alat komunikasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya praktik surat-menyurat antara khalifah yang berada di Arab sana dengan raja yang ada di Nusantara (Jajat Burhanudin, 2012).

Seiring berjalannya waktu, dibukalah pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah yang menjalankan pembelajaran bahasa Arab yang tersebar dari pangkal barat (Aceh), Jawa, hingga ujung timur (Nusa Tenggara Barat). Namun pada kenyataannya hingga sekarang, pembelajaran bahasa (Arab) tidak seperti yang dikehendaki.

Fenomena inilah yang membuat Prof. Ibnu Burdah, seorang pakar bahasa Arab sekaligus pengajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini menyusun sebuah buku “panduan” yang bertajuk Obat Galau Milenial Pecinta Bahasa Arab (2019), yang diperuntukkan seluruh pembelajar bahasa Arab di Indonesia, mengenai strategi yang efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa Arab.

Belajar bahasa secara formal—berlangsung di dalam kelas dengan guru, materi, bahkan alat-alat bantu belajar yang sudah disiapkan, tidak selalu membuat pelajar belajar bahasa dengan maksimal. Sebab salah satu di balik kelancaran berbahasa (Arab) antara lain adalah faktor strategi belajar. Sementara kita tahu, dalam bahasa Arab ada empat kemahiran (skill); kalam, istima’, kitabah, dan qira’ah.

Bagaimana untuk menguasai keempatnya, tanpa terpisah dari skill satu dengan skill lainnya? Untuk memudahkan penguasaan keempat skill tersebut, Prof. Ibnu Burdah menawarkan strategi yang ia sebut sebagai strategi intgratif belajar bahasa Arab, yaitu prinsip belajar bahasa Arab yang tidak memisahkan antara satu skill dengan skill-skill lainnya (hal. xii)

Dengan membaca dan mempraktikkan buku yang berisi tujuh bab ini, kita akan belajar satu skill, sekaligus memanfaatkan secara optimal bagi peningkatan skill yang lain. Sebab semua skill itu sejatinya berkaitan satu dengan lainnya. Dan faktanya dalam kehidupan penutur bahasa Arab semua skill tidak dapat dipisah-pisahkan (hal. xiii).

Kita lihat contoh praktik strategi integratif dalam buku ini. Misalnya, dalam menambah kosakata, kita ingin sehari menghafal 20 kosakata perhari, lalu jika dikalkulasikan dalam sebulan, berarti kita telah menghafal 600 kosakata. Mungkin saja kita mampu, tapi itu tidak akan efektif. Maka jalannya, kita menghafal berapapun kosakata, asal istikamah perhari, sembari digunakan di dalam praktik membaca, berbicara, maupun menulis (hal. 11). Dengan begitu, kita akan melampaui tiga pulau dengan sekali dayung.

Untuk itu, saya, mungkin juga Anda para pelajar, guru, maupun dosen bahasa Arab, sangat senang dengan hadirnya buku Obat Milenial Pecinta Bahasa Arab yang sarat dengan wawasan mengenai pengalaman-pengalaman praktis penulis dalam belajar bahasa Arab ini. Lebih jauh, buku ini penting dijadikan pertimbangan bagi upaya penyusunan desain pembelajaran yang baik, tak membosankan, sekaligus tidak kehilangan kekiniannya.

Satu lagi, layaknya obat, buku ini diracik sedemikian rupa dengan mutiara hikmah yang diambil dari berbagai sumber. Khas milenial. Kita kutipkan satu mutiara hikmah itu untuk menutup tulisan ini.

إذا شكا لك شاب من قسوة امرأة فاعلم أن قلبه بين يديها

“Ketika seorang remaja adukan padamu kerasnya hati perempuan, maka ketahuilah hati remaja itu tertambat padanya.”

Pos terkait