Orang Tua Bukan Pengganti Guru di Rumah

banner 468x60

Nabi bersabda: “menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”, dari hadis yang agung ini sepertinya kita perlu mencermati kembali terkait pengertian dan makna hadis nabi yang mulia itu karena di zaman ini banyak orang yang kemudian salah kaprah mengenai pemahaman hadis tersebut.

Poin pertama yang perlu kita ingat adalah Nabi sama sekali tidak mengatakan “sekolah itu wajib bagi setiap muslim”. Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu berbeda dengan sekolah, dan menuntut ilmu bukan hanya dibatasi dengan sekolah.

Read More

Sekolah Hanya Salah Satu Cara

Kita harus paham jika sekolah adalah salah satu cara untuk menuntut ilmu dan bukan satu-satunya cara untuk menuntut ilmu, karena kalau kita pahami bahwa sekolah adalah satu-satunya cara untuk menuntut ilmu maka setelah mereka menamatkan sekolah akan selesai juga aktifitas menuntut ilmunya.

Pemahaman inilah yang seharusnya ditanamkan dan diketahui oleh semua murid agar tidak ada kerancuan berpikir mengenai definisi menuntut ilmu dan sekolah. Jangan sampai mereka salah paham bahwa aktifitas menuntut ilmu itu hanya di sekolah sehingga memahami bahwa mereka telah menuntut ilmu karena mereka bersekolah dan ini menyebabkan setelah pulang sekolah, gugurlah kewajiban mereka untuk menuntut ilmu karena sudah bersekolah di pagi harinya.

Hal ini terjadi karena sistem Pendidikan sekolah menjadi sistem pendidikan utama, sehingga banyak yang menyangka bahwa Pendidikan itu sama dengan sekolah, padahal keduanya jelas memiliki keumuman dan kekhususan.

Pendidikan itu umum sedang sekolah itu khusus, khusus bagi orang yang memiliki uang, khusus bagi yang memenuhi kriteria, khusus bagi yang mengisi formulir serta hal lain terkait administrasi dan sebagainya.

Adapun pendidikan, ia adalah hak segala bangsa. Pendidikan tidak mengenal uang, tidak mengenal ras dan golongan, karena Pendidikan itu netral, berhak untuk didapatkan oleh siapapun dan di manapun. Konstruksi berpikir seperti ini jangan disalah artikan bahwa penulis tidak suka dan tidak sependapat dengan sistem Pendidikan sekarang.

Tapi yang menjadi poinnya adalah agar tulisan ini mencerahkan, sehingga memberikan pemahaman bahwa sekolah itu berbeda dengan belajar dari sisi yang telah disampaikan.

Karena faktanya yang bersekolah pun belum tentu belajar, sebagiannya hanya menjadikan sekolah sebagai rutinitas harian untuk memenuhi syarat ikut ujian dan mendapatkan ijazah.

Belajar Tidak Mesti Sekolah

Dr. Adian Husaini bahkan menamai pemahaman yang keliru tersebut dengan madzhab baru yang dikenal dengan “sekolahisme”. Mnurut beliau dalam bukunya Pendidikan Islam “sekolahisme” adalah sebuah pemahaman yang menyamakan antara menuntut ilmu dengan bersekolah.

Beliau juga menyebutkan bahaya penyakit tersebut, di mana nantinya seseorang yang telah selesai bersekolah atau menjalani kuliah, merasa tidak lagi wajib menuntut ilmu padahal menuntut ilmu itu wajib, dan ilmu yang wajib dicari adalah ilmu yang mampu mendekatkan kita ke surga dan menjauhkan kita dari neraka Allah.

Beliau juga menyebutkan bahaya penyakit sekolahisme berikutnya yang menjangkiti para orang tua dimana akan timbul paradigma tentang kewajiban orang tua adalah mencari uang dan mencarikan sekolah untuk anak-anaknya. Ia tidak merasa wajib mendidik atau menanamkan keimanan dan akhlak kepada anak-anaknya, karena itu kewajiban sekolah.

Dengan pemahaman seperti itu orang tua lupa bahwa kewajiban utama mendidik anak-anak sejatinya terletak pada pundak-pundak mereka dan sejatinya hadis nabi yang agung tentang kewajiban menuntut ilmu tidak hanya tertuju untuk anak-anak mereka tapi juga kepada pribadi orang tua.

Di dalam tafsir Ibnu Katsir bahkan dijelaskan tentang firman Allah SWT.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا . التحريم: ٦

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api neraka”. (QS. Attahrim: 6). Ali bin abi tholib mengatakan tentang tafsir ayat tersebut: didiklah mereka agar beradab dan ajari mereka ilmu.

Jangan sampai orang tua mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan intelektualitas mereka untuk mencari makan dan tempat tinggal, tapi tidak mengerahkan tenaga dan kekuatan mereka untuk mencari ilmu dan mengajari anak-anaknya. Karena perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka dengan mendidik dan mengajarkan ilmu kepada mereka ditujukan bagi para orang tua bukan yang lainnya.

Orang Tua Bukan Pengganti Guru di Rumah

Maka pada momen pandemi ini juga mari kita menyegarkan kembali pemahaman kita bahwa orang tua adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya,

Jangan sampai kita salah mengartikan bahwa sekolah dan guru adalah pendidik utama sehingga menimbulkan statement di musim pandemi ini, “orang tua pengganti guru di masa pandemi atau di masa pembelajaran jarak jauh”.

Sebab yang benar adalah guru sebagai pengganti orang tua, dan dari kata pengganti tersebut bisa dimaklumi dengan usaha keras mereka dalam mendidik murid-murid yang ratusan bahkan ribuan jumlahnya, seorang guru banyak menemui kekurangan dan kekhilafan.

Jadi mari kita jadikan momen pandemi ini sebagai renungan tentang dua hal yang telah di jelaskan di atas. Pertama adalah bahwa kewajiban menuntut ilmu juga tertuju pada diri kita. Kedua bahwa sejatinya kita adalah pendidik utama bagi anak-anak kita.

Jadi mencari ilmu itu wajib bagi setaip muslim, dan kewajiban itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dari sumber yang benar, (karena kunci dari kemajuan umat dan bangsa adalah Pendidikan keluarga, jika orang tua mampu menjadi guru yang baik, maka baiklah anak-anaknya), begitu kata Dr. Adian husaini dalam bukunya kiat menjadi guru keluarga.

Anak adalah amanah dan potensi kebaikan atau keburukan.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita ilmu yang bermanfaat serta kesabaran dalam mendidik anak-anak kita sehingga mampu menjadi anak GAUL dalam definisi yang sebenarnya

“Generasi Alim ULama” bukan anak gaul yang hanya memperhatikan tampilan dan tongkrongan semata. Wallahu ta’ala a’lam.

Related posts