Pacaran Dalam Agama Islam

Pacaran Dalam Agama Islam

 

Di zaman sekarang sudah banyak dari kalangan anak-anak sampai kalangan orang dewasa yang mengenal atau menjalani sebuah hubungan dengan lawan jenis yang biasanya disebut dengan pacaran. Istilah pacaran sendiri tersebut yaitu memiliki hubungan antara laki-laki dengan perempuan yang tidak memiliki ikatan yang sah. Dalam agama Islam sendiri tidak ada yang menjelaskan secara rinci tentang larangan pacaran dalam agama Islam. Sebaiknya kita menghindari akan pacaran karena dari awalnya pacaran akan menimbulkan zina dan fitnah. Dan zina sangat jelas dilarang oleh Allah SWT dalam firman-Nya yaitu Surah Al-Isra’ ayat 32 yang berbunyi :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى اِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً

Yang artinya :

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk. (Q.S. Al-Isra’ 17:32)

Ada juga Hadist dalam kitab Tanqihul Qoul riwayat Imam Suyuthi yang menjelaskan akibat dari berzina dengan lawan jenis yaitu :

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ زَنَى بِامْرَأَةٍ فَتَحَ اللّهُ عَلَيْهِ فِيْ قَبْرِهِ ثَمَانِيَةَ اَبْوَابٍ مِنَ النَّارِ يَخْرُجُ  مِنْ تِلْكَ                      الْاَبْوَابِ عَقَارِبُ وَحَيَّاتٌ اِلَى ىَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya : Dan Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang berzina dengan perempuan maka Allah SWT membukakannya delapan pintu neraka di dalam kuburnya yang akan keluar dari pintu-pintu tersebut kalajengking-kalajengking dan ular-ular sampai hari kiamat.

Pada dasarnya, pacaran itu dilakukan setelah adanya acara akad nikah. Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya untuk berpacaran setelah menikah agar kita terhindar dari yang namanya zina dan apabila kita melakukannya setelah menikah kita juga kan mendapatkan pahala dari Allah SWT.  Dalam agama Islam terdapat hubungan yang dianjurkan yaitu ta’aruf, yang memiliki arti perkenalan bertujuan sebagai calon pengantin bisa mengetahui sifat satu sama lain supaya menghindari terjadinya konflik dalam rumah tangga. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al Hujurat ayat 13 yang berbunyi :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ اَتْقَاكُمْ اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Yang artinya : Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah maha mengetahui, maha teliti. (Q.S Al Hujurat  49:13)

Jika sudah terjalinnya ta’aruf bukan berarti kita bisa jalan-jalan berdua melainkan kita harus ditemani oleh pihak ketiga agar tidak menimbulkan yang namanya zina dan fitnah dari orang-orang. Ta’aruf juga dilakukan tidak boleh lama-lama seperti halnya pacaran karena takutnya akan menimbulkan hal-hal yang negatif. Jika kita sudah menjalani yang namanya ta’aruf sebaiknya cepat-cepat untuk mengkhitbah pihak perempuan. Khitbah juga biasanya disebut dengan lamaran. Dan biasanya jarak dari lamaran ke acara pernikahan adalah kurang lebih itu 1 bulan. Dan jika semua sudah dilakukan persiapan dengan matang maka tibalah acara akad nikah. Dalam agama Islam tidak menganjurkan pernikahannya harus mewah melainkan yang penting sah dalam agama dan negara.

Di zaman sekarang memang sudah banyak sekali yang berpacaran. Bahkan kita juga yang tidak pacaran terkadang merasa iri melihat keromantisan orang. Akan tetapi, perlu kita renungi lagi, kenapa kita harus iri sama perbuatan dosa?. Tetapi dari kita haruslah bersyukur karena kita tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah.

 

 

 

 

 

 

 

Related posts