Pelecehan Agama dan Interaksi dengan Non Muslim

Mushaf al-Qur'an
Mushaf al-Qur'an

Pelecehan Agama dan Interaksi dengan Non Muslim. Pelecehan agama adalah fenomena yang merugikan dan meresahkan masyarakat di berbagai belahan dunia. Fenomena ini mencakup berbagai tindakan yang merendahkan, mengejek, atau merusak agama, keyakinan, atau praktik keagamaan seseorang atau sekelompok orang.

Pelecehan agama dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai dari ujaran kebencian, penghinaan simbol agama, penodaan kitab suci, hingga tindakan fisik yang merugikan individu atau kelompok agama tertentu.

Read More

Pelecehan agama sering kali menjadi sumber konflik dan ketegangan sosial yang serius. Hal ini dapat merusak hubungan antarindividu, kelompok, atau bahkan antarnegara. Bahkan mengancam keberagaman dan toleransi dalam masyarakat.

Baca juga: Upaya Menjaga Keimanan dan Ketauhidan dalam al-Qur’an

Sumber Konflik Sosial

Pelecehan Agama dan Interaksi dengan Non Muslim. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang pelecehan agama, dampaknya, dan upaya untuk mencegahnya sangat penting. Pelecehan agama adalah masalah serius yang memerlukan perhatian global untuk mempromosikan toleransi, saling penghormatan, dan keharmonisan dalam masyarakat yang multikultural.[1]

Seperti pada peristiwa yang sempat viral pada masanya, yaitu fenomena Ahok yang dianggap telah menghina kitab suci al-Qur’an yang mengutip Surat al-Maidah ayat 51. Fenomena tersebut bermula pada peristiwa 27 September 2016.

Yang mana pada saat itu Ahok berpidato di depan warga dan mengatakan tidak memaksa warga untuk memilih dirinya. Pernyataan tersebut juga disertai kutipan surat al-Maidah ayat 51 yang menuai reaksi publik khsusnya umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia.[2]

Faktor-faktor Pemicu

Oleh karena itu, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu adanya pelecehan. Tentunya setiap faktor harus diperitmbangkan dalam mengatasi sikap yang akan diambil untuk menghadapinya. Sehingga al-Qur’an mempunyai dua hal pokok yang menjadi penyebab adanya pelecahan.

Pertama, keangkuhan  yang  dilahirkan  oleh  keterpedayaan akan  kemewahan  duniawi.

Baca juga: Penafsiran Quraish Shihab tentang Penegakan Hukum dalam al-Qur’an

Faktor yang Kedua, ketidaktauan. Maksudnya adalah tidak tahu karena informasi yang diberikan hoax. Dalam hal ini al-Qur’an menjelaskan bahwa sikap buruk kaum musyrik itu antara lain akibat mereka tidak tahu. Oleh karena itu, setiap agama sudah pasti memiliki simbol-simbol yang besifat magis dan tidak boleh dilanggar.

Simbol-simbol tersebut meliputi Tuhan, Nabi, kitab suci, dan tempat ibadah. Jika di antara salah satu simbol diatas dihina, dilecehkan, atau dipermainkan akan mendapatkan dampak reaksi atau kecaman keras dari pemeluk agama tersebut.

Belajar dari Surat al-Nisā Ayat 140

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖٓ ۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَنَّمَ جَمِيْعًاۙ  ١٤٠

“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam.”

Dalam kitab al-Misbah, Ayat ini masih membicarakan satu konteks pembicaraan. Yaitu upaya orang-orang kafir (termasuk di dalamnya kaum Yahudi dan Nasrani) menentang dakwah Rasulullah Saw.

Menurut Quraish Syihab, pada ayat di atas terdapat suatu penentangan yang diwujudkan dengan berusaha membangun opini publik. Hal tersebut dilakukan melalui forum-forum yang sengaja diciptakan oleh orang-orang kafir.

Dalam forum-forum itu mereka melakukan pembicaraan yang bernada menjelek-jelekkan dan mengolok-olok ayat Allah. Termasuk dakwah yang dijalankan Rasulullah Saw. Dalam bentuk lain, pelecehan agama yang terus dilakukan oleh kalangan Ahli Kitab dengan sikap-sikap kemunafikannya. Dalam artian satu waktu mereka menampakkan seolah-olah beriman, namun ketika kembali kepada golongan sendiri mereka kembali kepada kekufuran.[3]

Belajar dari Surat al-Mumtahanah Ayat 8

 لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ٨

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Dalam kitab al-Azhar, juga dijelaskan bahwa Buya Hamka dalam menjelaskan ayat ini mengaitkan dengan tema politik. Pada saat partai politik berkampanye, ketika itulah orang mulai memakai taktik.

Yaitu dengan cara memujikan golongan sendiri dan mencaci maki golongan orang lain. Bahkan kadang-kadang hina menghina, busuk membusukkan, membuka rahasia, bahkan membuat fitnah. Tidak kurang yang dihina, dicaci maki itu sesama Islam sendiri.

Sehingga dengan sendirinya tumbuhlah permusuhan yang sangat mendalam, berurat berakar di antara golongan dengan golongan yang berkesan sampai berpuluh-puluh tahun. Oleh karena itu Buya Hamka dalam karyanya menegaskan dalam ayat ini untuk saling berbuat baik dan berlaku adil pada siapapun.[4]

 

Daftar Pustaka

Alwi, Moch Bashori. “Konsep Penistaan Agama Dalam Al-Quran (Studi Analisis Tafsir Al-Misbah Karya Quraish Shihab).” Tesis IAIN Kediri, 2020.

Yaya Mulya Mantri. “Kasus Penistaan Agama pada Berbagai Era dan Media di Indonesia.” Definisi: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora, no. Vol 1, No 3 (2022): Definisi: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora (2022): 123–38.

Shihab, Moh Quraish. Tafsir al-Mishbāh: pesan, kesan, dan keserasian al-Qur’an. Cet. 6. Ciputat, Jakarta: Lentera Hati, 2005.

Hamka. Tafsir Al-Azhar. Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, 2010.

 

[1] Moch Bashori Alwi, “Konsep Penistaan Agama Dalam Al-Quran (Studi Analisis Tafsir Al-Misbah Karya Quraish Shihab),” Tesis IAIN Kediri, 2020, 2.

[2] Yaya Mulya Mantri, “Kasus Penistaan Agama pada Berbagai Era dan Media di Indonesia,” Definisi: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora, no. Vol 1, No 3 (2022): Definisi: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora (2022): 124.

[3] Moh Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh: pesan, kesan, dan keserasian al-Qur’an, Cet. 6 (Ciputat, Jakarta: Lentera Hati, 2005), 620.

[4] Hamka, Tafsir Al-Azhar (Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, 2010), 7286.

 

Moch Rifky Izza Gymnastiar, Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya.

Related posts