Pelecehan Seksual dalam Perspektif Islam dan Hukum Negara

Pelecehan Seksual dalam Perspektif Islam dan Hukum Negara

Kasus pelecehan seksual semakin kerap terjadi di dalam kehidupan masyarakat, bahkan kasus pelecehan seksusal semakin bertambah dari waktu ke waktu. Bahkan tidak menutup kemungkinan pelecehan seksual terjadi di lingkungan terdekat kita. Secara tidak langsung dan tidak disadari teman terdekatpun bisa menjadi pelaku pelecehan seksual yang menimpa seseorang.

Read More

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pelecehan seksual adalah pelanggaran batasan seksual orang lain atau norma perilaku seksual. Seseorang yang merendahkan, menghina atau bahkan menyerang anggota tubuh yang berkaitan dengan hasrat, nafsu seksual atau segala sesuatu yang berkaitan dengan alat reproduksi dapat dikategorikan sebagai pelaku pelecehan seksual.

Pandangan Islam

Dalam pandangan hukum Islam tentang perilaku pelecehan seksual ini belum diatur secara tegas, karena pembahasannya belum ada dalam al-Qur’an maupun Hadits. Dalam al-Qur’an hanya menjelaskan tentang zina bukan tentang pelecehan seksual. Dalam hukum Islam bersentuhan dengan lain jenis yang bukan mahram (tidak ada hubungan darah dan pernikahan) itu dilarang.

Bahkan Islam juga melarang seseorang mendekati perbuatan zina (seks bebas), sebagai mana yang tercantum dalam al-Qur’an; Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S Al-isra ayat 32).

Tak hanya melarang seseorang untuk mendekati perbuatan zina, islam pun memerintahkan pemeluknya untuk saling menjaga pandangan kepada lawan jenis. Sesuai dengan firman Allah SWT;

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan.

Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung”. (Q.S An-Nur ayat 31)

Kehadiran Undang-undang Negara          

Dalam Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (Bab I Pasal 1) diterangkan bahwa Kekerasan Seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan/atau perbuatan lainnya terhadap tubuh, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa dan/atau relasi gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Pelecehan seksual dapat berupa pemerkosaan, intimidasi seksual, pemaksaan aborsi, pemaksaan perkawinan, prostitusi paksa, dan lain-lain.

Pelecehan seksualpun kerap terjadi dalam lingkungan sekolah. Guru yang seharusnya memberikan contoh yang baik dan mendidik karakter murid-muridnya malah menjadi oknum pelaku pelecehan seksual. Terkadang pelecehan seksualpun kerap terjadi di dalam lingkungan keluarga.

Lalu, bagaimana seseorang bisa merasakan rasa aman dari tindakan pelecehan seksual?. Maka dari situlah pemerintah harus memiliki sikap tegas dalam menindak dan memberikan sangsi kepada pelaku pelecehan seksual. Agar para pelaku jera dan tidak ada lagi pelecehan seksual.

Pelecehan seksual secara umum diatur di dalam KUHP Pasal 281 dan Pasal 282; Pelecehan Seksual yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin (zina) diatur dalam Pasal 284 KUHP; Perkosaan (Pasal 285 KUHP); Menyetubuhi wanita yang sedang pingsan atau tidak berdaya (Pasal 286 KUHP); Bersetubuh dengan wanita di bawah umur (Pasal 287 dan 288 KUHP); Berbuat cabul (Pasal 289 KUHP); Berbuat cabul dengan orang yang pingsan, di bawah umur (Pasal 290 KUHP), (sari. 2017 h. 32).

Berat dan ringannya hukuman pidana penjara tergantung kepada apa yang dilakukan oleh pelaku, jika pelaku melakukan kekerasan dan pemaksaan untuk melakukan seksual di luar perkawinan, maka akan dikenakan pidana melakukan pemerkosaan dengan ancaman pidana penjara paling lama 12 tahun. Apabila seseorang melakukan pencabulan akan dikenakan tindak pidana penjara paling lama 9 tahun.

Kasus yang Sangat Serius

Pelecehan seksual merupakan kasus serius yang harus dihilangkan dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang harus dapat menahan segala hasrat dan nafsunya terhadap lawan jenisnya. Setiap orang berhak untuk memilih lingkungannya dalam pergaulan, namun disarankan dan alangkah lebih baiknya memilih lingkungan pergaulan yang menurutnya baik dan meninggalkan lingkungan pergaulan yang dapat menjerumuskan dalam keburukan.

Hal tersebut dapat mencegah terjadinya pelecehan seksual. Dan bukan hanya lingkungan pergaulannya, kejahatan berada di mana-mana dan datang kapanpun tanpa kita terka. Jika menemukan seseorang atau bahkan mengalami pelecehan seksual segera laporkan kepada pihak berwajib atau lembaga yang menangani hal demikian. Agar pelaku mendapatkan sanksi yang mungkin akan merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi.

Related posts