PEMBACAAN STUDI ISLAM MELALUI PENDEKATAN ANTROPOLOGI

Tradisi slametan
Gambar ini dikutip dari laman https://borobudurnews.com/ini-daftar-tradisi-orang-jawa-yang-masih-dilestarikan/
banner 468x60

Antopologi dalam studi islam merupakan salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Artinya cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama¹. Dalam artikel ini, islam sebagai agama diletakkan bukan sebagai konstruk normatif ajaran (das sein), tetapi agama dilihat sebagai kehidupan sosial masyarakat.

Contoh implementasi antroplogi dalam studi islam yaitu masuknya agama islam di tanah jawa. Akulturasi budaya jawa dan islam di tanah Jawa, mengambil bentuk dialogis. Berbeda dengan akulturasi islam dengan budaya melayu yang mengambil bentuk integratif. Islam dihadapkan pada resistensi budaya lokal, sehingga ketegangan dan konflik islam versus kejawen menjadi ciri utama perkembangan islam di Jawa, terutama pada abad ke-19 atau masa kolonial. Akulturasi budaya jawa dan islam dengan pola dialogis dapat dipahami bahwa islam dan budaya jawa berkomunikasi dalam bentuk struktur sosial agama. Sedangkan islam dan budaya Melayu mengambil pola integrasi. Menunjukan bahwa islam berkembang dan bahkan menjadi salah satu penyangga terpenting dalam struktur sosial politik Melayu.

Konteks budaya jawa yang melatar belakangi munculnya islam adalah animisme dan hinduisme. Hal ini bisa disaksikan hingga saat ini dalam berbagai sistem ritual jawa, seperti kenduri atau slametan dengan berbagai bentuknya, baik untuk keperluan mengambil mantu (mantenan), khitanan (sunatan), tingkeban (tujuh bulan kehamilan), kelahiran, kematian, bersih desa (sedekah desa).

Slametan merupakan inti ritual agama di Jawa yang paling populer dan bahkan bertahan hingga sekarang. Ritual ini masih dominan terlihat pada kehidupan masyarakat Islam Jawa, baik yang masuk dalam kategori islam murni maupun islam kejawen (sinkretis).

Fenomena selametan yang dianggap sebagai ritual paling inti dalam masyarakat jawa ini bisa disimak pada temuan Andrew Beatty ketika melakukan penelitian di Banyuwangi, Mark R. Woodward, yang meneliti islam di Yogyakarta dan Robert W. Hefner pada masyarkat Pasuruan. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam tradisi slametan, masyarakat jawa yang memiliki diversitas tertentu bisa disatupadukan. Karena dalam selametan tidak ada jarak antara si kaya dan si miskin, antara penganut islam normatif dan islam jawa yang memiliki sensitivitas terhadap kearifan budaya atau abangan.

Bukti lain bahwa slametan bisa menyatupadukan berbagai varian, bisa dilihat pada tradisi di beberapa desa di masyarakat banyuwangi, dimana terdapat ritual pemujaan kepada Buyut Karti di Aliyan, Buyut Jiman, Buyut Bisu, Buyut Sastro, dan Buyut Cungking di desa-desa yang lain. Hal yang sama ditemukan juga oleh Hefner, yaitu kultus terhadap Nyai Po pada masyarakat Pasuruan. Dalam ritual slametan ini semua elemen masyarakat bahkan juga yang berbeda keyakinan sekalipun hadir tanpa membawa atribut dan simbol-simbol yang membedakan antara satu dengan yang lain.

Tradisi slametan yang kini dilakukan oleh hampir rerata elemen masyarakat di Jawa memiliki beberapa makna atau fungsi, yaitu;

1. Merupakan jembatan teologis bagi kelompok-kelompok yang ada di masyarakat, karena dengan tradisi itu siapa saja yang hadir akan mengikuti satu pakem yang sama sebagaimana slametan tersebut hendak dilaksanakan

2. Merupakan media silaturahmi, yaitu penyatuan dan integrasi masyarakat.

Pada intinya, dalam studi islam pendekatan antropologi menduduki posisi penting, karena dengan pendekatan antropologi dapat terlihat berbagai pemahaman dan penghayatan agama yang sangat bermacam-macam dalam kehidupan riil masyarakat Islam baik pada tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. Sehingga kita mampu menentukan sikap dan perilaku yang tepat ketika berhadapan dan berinteraksi dengan masyarakat islam khususnya di Indonesia serta menghayati agama dengan baik.

 

REFERENSI:

[1] Muhammed Arkoun dalam Hasan Baharun dan Akmal Mundiri, Metodologi Studi Islam, Percikan Pemikiran Tokoh dalam Membumikan Agama, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.

Pos terkait