Pembaruan Pemikiran Muhammad Iqbal pada Pendidikan

banner 468x60

Pembaruan Pemikiran Muhammad Iqbal pada Pendidikan

Sebelum membahas tentang pemikiran muhammad Iqbal, layaknya kita mengenal terlebih dahulu siapakah Muhammad Iqbal itu. Muhammad Iqbal dikenal sebagai filsuf besar pada abad ke-20 yang terlahir dari Sialkot, wilayah Pakistan yang dulu semasa hidupnya Sialkot masih masuk dalam wilayah India. Selain dikenal menjadi filsuf, ia juga dikenal sebagai ahli hukum, pemikir politik, reformis muslim, dan juga sebagai penyair ulung (John. L. Esposito, 1987: 213).

Pembaruan pemikiran Muhammad Iqbal sangatlah luas dan lengkap hingga menyentuh tiap sudut kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, sebagaimana mestinya Muhammad Iqbal menjadi panutan dan berpengaruh besar bagi dunia Islam kontemporer. Bahkan sebagai filsuf, Muhammad Iqbal berani mengkritik para filsuf sebelumnya, padahal apa yang telah dikritiknya merupakan pemikiran-pemikiran yang telah mantap diterima oleh kalangan umat islam. Seperti mengkritik Al Ghazali yang mana mendasarkan agama pada skeptisme falsafah, yang mana dasar tersebut kurang kokoh bagi agama dan sama sekali tidak dapat dibenarkan oleh Al Qur’an, dan juga mengkritik Ibnu Rusyd dengan adanya ia mempertahankan filsafat yunani.

Dalam pemikiran Muhammad Iqbal yang sering mengundang perdebatan spekulatif dikarenakan dengan gaya filsafatnya yang kerap dituduh sebagai pengikut Nietzsche. Dan juga sering melakukan serangan-serangan kritik, seperti terhadap iklim pendidikan ortodoks yang serba verbal, pendidikan sufistik yang menafikan realitas kehidupan, dan iklim pendidikan modern yang rapuh lantaran tercabut dari orientasi spritual abstrak.

Latar Belakang Pembaharuan

Salah satu pembaruan Muhammad Iqbal ialah tentang adanya kemunduran umat Islam karna kelemahan mereka dibidang materi, ekonomi, serta dalam spiritual mereka. Dalam kaca mata nya, pendidikan barat lebih cenderung pada materialisme yang akan mengakibatkan aspek lahiriah dan batiniah tidak seimbang, dan juga pendidikan Islam tradisional yang tidak mampu mencetak pemikiran manusia dalam menyelesaikan berbagai masalah keduniaan. Sistem pendidikan barat juga dapat menguras iman seorang Muslim, apabila ukuran iman tersebut masih dalam tingat yang masih rendah atau awam.

Muhammad Iqbal berpendapat bahwa kemunduran umat Islam selama 500 tahun terakhir disebabkan oleh kebekuan dalam berpikir. Hukum Islam telah sampai pada keadaan statis  (Harun Nasution, 1975: 191).

Konflik dalam sejarah sosio-politik ialah karna wilayah Muslim di India saat itu telah terpecah belah menjadi dua. Pandangan pertama yang diwakili oleh Ahmad Khan yakni bersifat akomodatif-kooperatif pada sistem pendidikan barat, dan pandangan kedua yang diwakili oleh Al-Maududi yakni bersifat konservatif-tradisional yang anti pada sistem pendidikan barat.

Dalam menghidupkan perkembangan pemikiranya kembali, Muhammad Iqbal tidak memulai dari alam pikiran Yunani, dan tidak juga berpedoman pada filsafat islam seperti apa yang telah dirintis oleh filosof muslim sebelumnya. Pemikiran tersebut terlihat dalam bukunya The Reconstruction of Religius Thought in Islam.

Penyusunan kembali pendidikan Islam yang dilakukan oleh Muhammad Iqbal tidak memihak pendidikan barat ataupun pendidikan timur yang lebih mendominasi pada aspek keakhiratan dari pada keduniaan, tapi ialah diantara keduanya. Jadi antara agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan dengan seimbang, karna dengan berpegang pada agama akan melahirkan manusia ber pengetahuan modern yang dapat memikul tanggung jawab yang berat.

Seiring menjalankan pembaruannya, Muhammad Iqbal menegaskan bahwa “pembangunan kembali pemikiran keagamaan Islam, bukan reformasi keagamaan”. Pembaruan yang dimaksud tersebut adalah pembetulan dibidang pemikiran Islam dan pengertian umat Islam terhadap prinsip-prinsipnya. Pembaruan tersebut didasarkan pada tuntutan untuk mengubah posisi yang dicapai umat Islam kini, seperti posisi lemah dan takut serta lari dalam kehidupan nyata.

Melihat kondisi umat Islam yang kian terbelakang dalam mengusai alam semesta, akhirnya Muhammad Iqbal mengetengahkan konsep Islam tentang alam nyata. Seperti yang dijelaskan oleh Al Bahiy yakni ada 2 elemen prinsip pembaruanya:

Pertama, pembaruan terhadap alam nyata, yaitu mengembalikan umat masa kini kepada pemahaman umat yang lalu mengenai alam ini yaitu sebagai lapangan usaha, gerak dan pengetahuan manusia. Karena dengan pengamatan alam nyata akan dapat membangkitkan kesadaran berpikir diri manusia tentang semua tanda-tanda-Nya apa yang ada pada alam ini, yang mana berkembang dengan kenyataan-kenyataan yang selalu akan melahirkan pertanyaan dan pemikiran-pemikiran baru.

Kedua, menghidupkan kembali apa yang telah terhenti, seperti risalah, tauhid, dan ijtihad, bahwa itu semua merupakan faktor-faktor yang mendorong manusia berusaha bergerak di alam nyata ini. Karena pintu ijtihad ini selalu terbuka bagi umat islam dan akan terus digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi sesuai dengan perkembangan zaman.

Tujuan dari Pembaharuan-pembaruan nya

Dengan begitu Muhammad Iqbal bertujuan untuk membentuk sosok manusia yang sempurna dari wujud dan pengetahuannya, yang mana kesempurnaan tersebut merupakan perwujudan dari citra Tuhan. Maka pendidikan menurut nya bukan saja merupakan proses pembebasan dari kebodohan dan ketergantungan, tapi harus mampu menjawab pertanyaan, freedom of what? Bagi nya, kehidupan tidak selesai kini dan disini (Ahmad Syafi’I, 2018: 209)

Seperti melakukan pembebasan diri dari sikap jumud (difensif intelektual) atau bisa saja dari rasa malas secara sadar, dengan melahirkan suatu karya-karya atau perbuatan yang bernilai tinggi, orisinal, sejati dan tentunya juga bermanfaat untuk masa kini hingga nanti.

Pos terkait