Penafsiran Ayat -Ayat Syukur Dalam Kitab Tafsir Al-Maraghi

Nama lengkap al-Maragi ialah Ahmad Mustafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im al-Maraghi. Beliau lahir di Kota Maraghah pada tahun 1300 H/1883 M, beliau diasuh oleh delapan kakaknya. Di sekolahnya, beliau sangat menekuni Al-Qur’an, maupun membaguskan bacaan dan menghafal. Karena ketekunan beliau dalam mempelajari al-Quran, sebelum genap berusia 13 tahun, beliau sudah menghafalkan al-Qur’an sampai 30 Juz. Beliau juga kuliah di 2 Universitas yaitu Universitas al-Azhar dan Universitas Darul Ulum Pada tahun 1314 H/1897 M , yang ada di Kairo. Beliau lulus kuliahnya pada tahun 1909 M.

Selama belajar di 2 Universitas itu, beliau mengambil ilmu dari beberapa ulama ternama, di antarannya Muhammad Abduh, Muhammad Bukhait al-Mukhti’i, Ahmad Rifa’i al-Fayumi, dan lain-lain. Setelah tamat dari Universitas al-Azhar dan Universitas Darul Ulum, beliau menjadi guru di beberapa madrasah. Tak lamadari itu, beliau dinaikkan jabatannya menjadi Direktur di Sekolahan Mu’allimin yang berada di Fayum Kota Kairo. Pada Tahun 1916-1920, beliau didominasi sebagai dosen tamu di Fakultas Filal Universitas al-Azhar di Qurthum.

Pada saat beliau berusia 47 tahun, beliau dijadikan menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, beliau wafat pada tanggal 9 Juli 1317H/1952 M, dan dimakamkan di tempat per sarean kerabatnya yang ada di kota Hilwan. Kabarnya, beliau baru bisa menyempurnakan kitab tafsirnya itu semasa sepuluh tahun, pada tahun 1940.

Hasil- hasil al-Maragi yang sudah terwujud ialah:

  1. ‘Ulum urn al-Balaghah
  2. Hidayah al-Thalib
  3. Tahdzib al-Tauhid
  4. Buhuts wa Ara
  5. Tarikh ‘Ulurn al-Balaghahwa al-Ta’rifbi Rijaliha

Sistematika Penafsiran Tafsir Al-Maragi i

Al-Maragi membuat kitab tafsirnya melalui penataan yang lebih bermotif, pembentukan dan kegiatan dalam pencatatan yang dipergunakan dalam mengarang kitab Tafsir al-Maragi sudah  diuraikan oleh beliau sendiri di dalam pembukaan kitab tafsirnya, beliau menerangkan bahwa di masa beliau hidup masyarakat kerap melihat banyak kelompok yang berkeinginan untuk melebarkan pemandangan untuk pemahaman dalam pelajaran agama, bahkan di dalam bidang tafsir Al-Quran maupun sunah Rasul, langkah-langkahnya ada 4 yaitu:

  1. Memperlihatkan satu, dua, maupun serangkai ayat yang hendak diterjemahkan.
  2. Pengertian perkataan yang sulit.
  3. Penjabaran ayat dengan cara global.
  4. Menjelaskan ayatnya secara terperinci.

Kitab tafsir al-Maragi ini ringan untuk dikuasai dan dapat dipahami, sebanding dengan keperluan rakyat yang levelnya sedang dalam mengusai Al-Quran, banyak pengkaji yang merumuskan bahwasanya beliau menafsirkan kitabnya memakai kaidah ijmali dan tahlili.

Penafsiran ayat- ayat Tentang Syukur

  1. Perintah Syukur Kepada Allah SWT Pada Surah Luqman 12 :

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ (١٢)

“Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Siapa yang kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Pendapat al-Maragi tentang ayat ini menerangkan bahwasanya Allah SWT menurunkan karunia akal sehat terhadap Luqman yakni keistimewaan, keahlian maupun ia kukuh untuk mengucapkan syukur, Ayat ini juga mengutarakan siapa pun yang berterima kasih terhadap Allah SWT, Allah akan memuliakan dan memperlihatkan masalah yang benar, dan membimbing ke jalan yang benar, sebenarnya faedah syukur itu akan kembali pada dirinya sendiri, dan Allah akan memberikan ganjaran yang berlimpah menjadi balasannya, dan kepada siapa pun yang tidak mengucapkan syukur yang dibagikan oleh Allah untuk semua makhluknya bahwa Allah bakal menganiaya.

  1. Bersyukur Kepada Allah SWT dan Kepada Kedua Orang tua Pada Surah Luqman: 14

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ (١٤)

“Dan kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.”

Pendapat al-Maragi tentang ayat ini Allah SWT mengutus terhadap umatnya agar menghormati kedua orang tuanya, dan mengabulkan kewenangan kedua orang tuanya. Pada ayat ini juga Allah SWT mengatakan kalau pertolongan seorang ibu antara lain yaitu mengandung, melahirkan, dan menjaganya serta penuh kasih sayang yang melalui beragam waktu yaitu kesibukan dan kesusahan yang dijalani oleh orang tuanya. Allah SWT telah mengutus agar berkelakuan baik terhadap kedua orang tuanya, namun Dia perlu mengucapkan dari ibunya saja, penyebab kesusahan yang dijalani oleh seorang ibu lebih besar dari pada ayah.

  1. Syukur Nikmat Berkaitan dengan Tanda -Tanda Kekuasaan Allah SWT, Pada Surah Luqman: 31

اَلَمْ تَرَ اَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللّٰهِ لِيُرِيَكُمْ مِّنْ اٰيٰتِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ (٣١)

“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut berkat nikmat Allah agar Dia memperlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.”

Pendapat al-Maragi tentang ayat ini menerangkan bahwasanya kapal yang berlalu di laut juga membawa makanan yang baik maupun bahan lainya, mulai dari daerah sampai daerah yang lain, sejak dari wilayah ke wilayah lainnya yang amat memerlukan bahan tersebut, agar bisa dipergunakan untuk pengikutnya yang tidak berkecukupan. Melewati petunjuk kekuasaan-Nya yang ada di benua ini petunjuk sesungguhnya ialah Allah lah Yang Maha Haq yang sudah melaksanakan seluruh yang sudah dilihat.

Related posts