Penafsiran Quraish Shihab Tentang Penegakan Hukum dalam Al-Qur’an

penafsiran quraish shihab
penafsiran quraish shihab

Penafsiran Quraish Shihab Tentang Penegakan Hukum dalam Al-Qur’an.  Muhammad Quraish Shihab merupakam salah satu tokoh agama yang berpengaruh besar dalam bidang keilmuan di Indonesia. Beliau dikenal sebagai seorang pakar tafsir. Keahliannya dalam bidang tafsir diabadikan dalam bidang pendidikan.

Ia lahir pada 16 Februari 1944 di Reppang, Sulawesi Selatan. Kecintaaannya terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an sudah tumbuh sejak kecil karena pengaruh dari didikan ayahnya, Prof. Abdurrahman yang merupakan rektor di dua perguruan tinggi yang ada di Makassar yaitu IAIN Alaudin dan Universitas Muslim Indonesia.

Sejak dulu, Quraish Shihab sudah aktif dalam bidang dakwah dan karya tulisnya pun sangat banyak dan terkenal. Di antara beberapa karya yang ada, Tafsir Al-Mishbah merupakan karya beliau yang sangat populer dan banyak digunakan sebagai rujukan dalam penafsiran.

Penafsiran Surah An-Nisa Ayat 135 dan Al-Maidah Ayat 8

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah tidak layak tahu (kemaslahatan) keduanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguhnya Allah maha teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan”. (QS.An-Nisa:135)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, dan menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat mengantar kamu kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( QS.Al-Maidah:8)

Dijelaskan bahwa ayat di atas memiliki redaksi yang sama dengan surah sebelumnya, yaitu an-Nisa ayat 135. Dalam surah an-Nisa ayat 135 terdapat lafadz kunu qowwamina bil qisth syuhada’ lillah. Sedangkan dalam surah al-Maidah ayat 8 kunu qowwanina lillah syuhada’ bil qisth.

Baca juga: Teori Infiltrasi dalam Tafsir al-Khazin

Perbedaan redaksi dari keduanya, yaitu pada surah an-Nisa menjelaskan konteks ketetapan hukum dalam pengadilan yang disusul dengan pembicaraan kasus lain. Kasus tersebut tentang seorang muslim yang menuduh seorang Yahudi secara tidak sah. Lalu dijelaskan juga tentang uraian tentang hubungan  pria dan wanita.

Sehingga yang ingin digarisbawahi oleh ayat itu adalah pentingnya keadilan kemudian dilanjutkan dengan kesaksian. Karena redaksi dari ayat tersebut yaitu mendahulukan kata qisth (adil), dan setelah itu syuhada’ (saksi-saksi).

Memenuhi Keadilan

Adapun pada ayat al-Maidah dikemukakan setelah mengingat perjanjian-perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga yang digarisbawahi adalah pentingnya melaksanakan secara sempurna seluruh perjanjian itu, yang terkandung dalam lafadz qowwamina lillah. Ada juga yang berpendapat bahwa dalam an-Nisa dikemukakan dalam konteks kewajiban berlaku adil terhadap diri, kedua orang tua, dan kerabat.

Hal ini menjadi wajar jika kata qisth/keadilan yaang di dahulukan. Adapun al-Maidah di kemukakan dalam konteks permusuhan dan kebencian, sehingga yang perlu didahulukan adalah keharusan melaksanakan segala sesuatu karena Allah. Mengapa demikian? karena hal ini akan lebih mendorong untuk meninggalkan permusuhan dan kebencian.

Penafsiran Quraish Shihab Tentang Penegakan Hukum dalam Al-Qur’an. Ayat di atas juga menyebutkan bahwa adil lebih dekta kepada takwa. Hal ini dapat dipahami bahwa keadilan dapat menunjuk pada substansi ajaran Islam. Jika ada agama yang menjadikan kasih sebagai tuntunan tertinggi, maka Islam tidak demikian! karena kasih dalam kehidupaan pribadi maupun masyarakat dapat berdampak buruk.

Baca juga: Analisis Tafsir al-Bahr al-Muhith

Sebagai contoh jika ada seorang penjahat dan ada seseorang merasa kasihan kepada penjahat tersbut, apakah penjahat tersebut tidak akan di hukum? Maka disinilah konsep adil yang sebenarnya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Jika seseoramg memerlukan kasih, maka berlaku adil dapat mencurahkan kasih kepadanya.

Sebaliknya, jika seseorang melakukan pelanggaran dan wajar mendapatkan sanksi yang berat maka ketika itu keadilan tetap harus tegak. Rasa kasih tidak boleh dimanipulasi untuk menghambat jatuhnya ketetapan hukum. Wajah keadilan di sini adalah menjatuhkan putusan hukum yang sesuai dengan apa yang diperbuat. Oleh karena itu, adil tidak harus sama tetapi adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan tempat dan porsinya masing-masing.

 

Istikomah. Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Related posts