Pendekatan Nilai Karakter Siswa Pada Keragaman Agama dan Budaya oleh Praktisi Dosen Pendidikan Bahasa Arab

Isu multikulturalisme telah menjadi konsep yang dapat diterapkan pada individu kehidupan sehari-hari selama beberapa dekade terakhir, kemudian konteks Indonesia dengan beragam agama, budaya dan ras menjadi alasan mengapa Indonesia menjadi negara multikultural terbesar di dunia. Namun, bukan tentang keindahan keragaman semata, keragaman sendiri memberikan peluang munculnya kesenjangan sosial. Terkait hal ini Erawati (2017) dalam tulisannya menjelaskan bahwa penanaman agama sendiri dinilai penting melalui ranah pendidikan. Makna multikultural dapat dipahami dalam berbagai aspek kehidupan, namun lebih sering datang ke permukaan bila tersentuh pendidikan agama dan multikultural.

Menyikapi keadaan sosial seperti yang dijelaskan tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UPI melalui gagasan pengampu Tahdzib Akhlak yaitu Dr. Nunung Nursyamsiah, M.Pd melakukan pendekatan nilai karakter siswa pada keragaman Agama dan Budaya secara langsung pada siswa-siswi kelas Multikultural di SMK Bakti Karya Parigi Kabupaten Pangandaran yang digagas oleh ketua Yayasan yang menaungi sekolah tersebut yaitu Ai Nurhidayat, S.Ikom pada bulan Agustus 2022. Sekolah ini menyimpan keunikan, salah satunya menghadirkan siswa-siwi dari berbagai penjuru nusantara dengan ragam agama, budaya, bahasa, dan ras. Sebagai praktisi Pendidikan yang memiliki tanggung jawab dalam menjaga karakter dan moral anak bangsa sesuai syariat agama dan falsafah negara, dosen Pendiidkan Bahasa Arab UPI Bandung berasumsi kegiatan penanaman karakter secara langsung di lapangan adalah sebuah bentuk keharusan.

Keberadaan kelas Multikultural menjadi daya tarik, karena tidak semua sekolah berani mengusung program kelas Multikultural dalam mengatasi kesenjangan sosial yang kerap terjadi. Konflik budaya dan kekerasan, penilaian istilah mengkotak-kotakan individu melalui agama, kerusuhan, dan intoleransi bukan wacana baru yang muncul di higlight media masa. Kelas multikultural menjembatani pengajaran terkait isu tersebut kepada anak bangsa agar tidak mengulangi kasus yang sama, menyadarkan nilai pancasila bahwa kita merupakan kesatuan, dan juga memaknai semboyan negeri yakni Bhineka Tunggal Ika. Inilah alasan, Prodi Pendidikan Bahasa Arab melakukan riset secara langsung di tempat yang diasumsikan sebagai micro laboratorium tentang keragaman Indonesia.

Otten (2000) memaparkan pendidikan karakter menjadi istilah umum untuk menggambarkan banyak aspek dalam pengajaran dan pembelajaran untuk pengembangan pribadi. Beberapa aspek meliputi pengembangan penalaran moral, perkembangan kognitif, pembelajaran sosial dan emosional, pendidikan moral, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan kecakapan hidup, kepedulian masyarakat, pencegahan perilaku berisiko dan masih banyak lagi lainnya.

Mengenai Karakter, istilah dilanjutkan dengan pemaknaan kata Akhlak, Zaini (2013) mengungkapkan tujuan tertinggi dari pendidikan adalah pengembangan kepribadian peserta didik secara menyeluruh dengan mengubah perilaku dan sikap peserta didik dari yang bersifat negatif ke positif, dari yang destruktif ke konstruktif, dari berakhlak buruk ke akhlak mulia, termasuk mempertahankan karakter baik yang disandangnya.

Temuan yang diperoleh dari kegiatan langsung berbentuk interaksi dan observasi kepada siswa-siswi dalam keragaman di sebuah sekolah diantaranya adalah : 1) konsep menyamaratakan setiap golongan agar tercapainya keadilan masyarakat tanpa memandang latar belakang yang ada lebih tepat dilakukan dengan sebuah bentuk problem solving dalam interaksi sosial langsung; 2) terdapat dimensi mikro dan makro dalam penanaman karakter siswa di dalam pembelajaran yaitu penanaman skala mikro yaitu di kelas, melalui guru dan interaksi akademik siswa. Selanjutnya skala makro yaitu di sekolah, melalui cakupan program sekolah yang lebih luas; 3) analisis kritis secara komprehensif dilakukan secara langsung oleh siswa melalui temuan-temuan masalah sehari-hari, berasal dari dialek bahasa, perbedaan agama dan bentuk peribadatan, tata cara berpakaian, makanan pokok dan juga kebiasaan keseharian, ; 4) memberikan peluang kesempatan yang sama kepada seluruh siswa agar dapat tercapainya prestasi yang maksimal sesuai potensi yang dimiliki siswa.

Temuan yang diperoleh, kemudian dielaborasi sehingga diperoleh sebuah simpulan sederhana yaitu sebuah perubahan sosial ke arah sikap pribadi antar individu yang santun, toleran, taat beribadah, gotong royong sesuai amanat undang-undang terlihat melaluo dampak sosial dari pendidikan karakter yang muncul juga dalam pergaulan dengan sosial sejak dini dengan aktivitas sosial sedari usia remaja.

Referensi :

Erawati, Desi. 2017. “Interpretasi Multikulturalisme Agama Dan Pendidikan.” Jurnal Studi Agama Dan Masyarakat 13 (1): 100–119.

Otten, E. H. (2000). Character Education. Bloomington, IN: ERIC Clearinghouse for Social Studies/Social Science Education. (ERICDocument Reproduction Service No. ED444932).

Zaini, A. H. F. (2013). Pilar-pilar Pendidikan Karakter. Bandung: Gunung Djati Press

 

Oleh: hikmah maulani

Related posts