PENDIDIKAN PROGRESIF JOHN DHEWEY

  • Whatsapp

 

Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern, khususnya abad ke-17, adalah persoalan epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemologi adalah bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan apakah sarana yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bercorak epistemologis ini, maka dalam filsafat abad ke-17 munculah dua aliran filsafat yang memberikan jawaban yang berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut adalah rasionalisme dan empirisme. Dalam artikel singkat ini akan diurai filsafat empirisme.

Bacaan Lainnya

John Dhewey merupakan tokoh filsafat yang melekat dengan filsafat pragmatisme. Berikut diuraikan biografi singkat John Dhewey.

John Dhewey dlahirkan di Burlington, Vermont pada 20 Oktober 1859[1]. Ia  seorang filusuf, psikolog, dan pembaharu pendidikan yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Dhewey diakui sebagai salah satu pencetus sekolah filsafat pragmatism (bersama dengan Charles Sanders Peirce dan Williams James), pelopor dalam psikologi fungsional, dan seorang pengembang gerakan pendidikan progresif di Amerika Serikat selama paruh pertama abad 20.[2]

Dhewey lahir di Vermont dan berasal dari keuarga yang sederhana. Pasca menyelesaikan studinya di Baltimore, ia langsung menjadi Guru Besar di bidang filsafat dan kemudian juga bidang pendidikan pada Universitas-universitas di Mionnesota, Michigan, Chicago (1894-1904), dan Universitas Colombia (1904-1929).

Sepanjang karirnya, Dhewey menghasilkan 40 buku dan lebih dari 700 artikel. Dhewey tutup usia pada tahun 1952.

Menurut dhewey, tugas fiilsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata dalam kehidupan. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisik belaka. Filsafat harus berpijak pada pengalaman, dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara kritis. Dengan demikian, filsafat dapat menyusun suatu system nilai atau norma.[3]

Dhewey adalah seorang pragmatis, namun ia lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalis. Menurutnya, tujuan filsafat ialah untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk di dunia, dan masa sekarang. Tegasnya, tugas filsafat yang utama ialah memberikan garis-garis pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang tiada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman (experience), dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif kritis. Dengan demikian, filsafat akan dapat menyusun suatu sistem norma-norma dan nilai-nilai.

Instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep, pertimbangan, penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran berfungsi dalam penemuan yang berdasarkan pengalaman mengenai konsekuensi di masa depan.

Menurut Dhewey, kita hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaannya. Sikap Dhewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme. Pertama, kata temporalisme yang berarti ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu. Kedua, kata futurisme, mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin. Ketiga, milionarisme, berarti bahwa dunia dapat dibuat lebih baik dengan tenaga kita. Pandangan ini juga dianut oleh William James.

Dhewey dan Pendidikan Progresif

Dhewey memandang bahwa tipe dari pragmatisnya diasumsikan sebagai sesuatu yang mempunyai jangkauan aplikasi dalam masyarakat. Pendidikan dipandang sebagai wahana yang strategis dan sentral dalam upaya kelangsungan hidup di masa depan. Pendidikan Nasional Amerika, menurut Dhewey, hanya mengajarkan muatan-muatan yang sudah usang (out of date) dan hanya mengulang-ulang sesuatu yang sudah lampau, yang sebenarnya tidak layak lagi untuk diajarkan kepada anak didik. Pendidikan yang demikian hanya mengebiri intelektualitas anak didik.

Dalam bukunya Democracy and Education (1916)., Dhewey menawarkan suatu konsep pendidikan yang adaptif dan progresif bagi perkembangan masa depan.

“Dewey elaborated upon his theory that school reflect the community and be patterned after it so that when children graduate from school they will be properly adjusted to asumse their place in society.”

Kutipan di atas dapat dipahami secara bebas bahwa pendidikan harus mampu membekali anak didik sesuai sengan kebutuhan yang ada pada lingkungan sosialnya. Sehingga, apabila anak didik tersebut telah lulus dari lembaga sekolah, ia bisa beradaptasi dengan masyarakatnya.

Untuk merealisasikan konsep tersebut, Dhewey menawarkan dua metode pendekatan dalam pengajaran. Pertama, problem solving method. Dengan metode ini anak dihadapkan pada berbagai situasi dan masalah-masalah yang menantang, dan anak didik diberi kebebasan sepenuhnya untuk memecahkan masalah-masalah tersebut sesuai dengan perkembangan kemampuannya. Dalam proses belajar mengajar model ini guru bukannya satu-satunya sumber, bahkan kedudukan seorang guru hanya membantu siswa dalam memecahkan kesulitan yang dihadapinya. Dengan metode semacam ini, dengan sendirinya pola lama yang hanya mengandalkan guru sebagai satu-satunya pusat informasi (metode pedagogy) diambil alih kedudukannya oleh metode andragogy yang lebih menghargai perbedaan individu anak didik.

Kedua, Learning by doing. Konsep ini diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dalam masyarakat. Supaya anak didik bisa eksis dalam masyarakat bila telah menyelesaikan pendidikannya, maka mereka dibekali keterampilan-keterampilan praktis sesuai dengan kebutuhan masyarakat sosialnya.

Dalam konteks pendidikan 4.0, pendekatan pembelajaran yang dikemukakan oleh Dhewey diatas dapat dijadikan acuan pokok dalam pembelajaran. Terlebih di masa mendatang yang syarat akan kecanggihan teknologi, banyak tantangan yang harus diselesaiakan dan dimanfaatkan oleh generasi harapan bangsa sehingga mereka tetap eksis bahkan bisa membawa kejayaan untuk bangsa dan negara.

 

Referensi:

[1] www.psychology.about.com

[2] www.biografitokohdunia.com

[3] www.id.wikipedia.org

Pos terkait