Pengaruh Sosial Media “Twitter” terhadap kebebasan berfikir masyarakat. 

 

Twitter adalah situs media sosial yang menurut saya masih relatif gratis jika dibandingkan dengan platfrom lain. Kita dapat dengan mudah menemukan konten yang positif dan negatif juga beragam. Hal ini sebenarnya menjadi ujian bagaimana remaja milenial bisa mengendalikan diri untuk bertindak sesuai dengan etika dalam bersosial media yang sudah mapan, namun sepertinya tidak sesuai dengan nilai-nilai hedonis yang ditawarkan oleh media sosial media dalam kelancaran kebutuhan manusia1.

Twitter adalah cara yang baik untuk terhubung dengan berbagai macam orang. Kita dapat membuat akun sebanyak yang kita inginkan. Katakanlah, kita ingin membuat akun pengguna buzzer politik, akun distributor berita dan akun penjualan yang valid atau tidak valid. Twitter lebih menjangkau keseluruh kalangan. Di sana pun bebas mengungkapkan semua keluh kesah yang dirasakan dan hal yang difikirkan supaya lebih leluasa berekspetasi tanpa takut ada yang mengejuge tingkatan sosial, ras dan suku. Suatu peristiwa paling cepat viral di sosmed ini karena biasanya trend yang satu arah. Dan di Twitter tidak ada bagian kehidupan yang digunakan untuk show off di Instagram.

Beberapa fitur yang dimiliki oleh Twitter yaitu:

  1. Short attention span. Dimana pengguna Twitter itu punya daya konsentrasi selevel Saat ini ramai dengan tranding topik apa, nanti lima menit lagi sudah ganti topik trending.
  2. Lebih terbuka. Karena mudah terekspos dengan sudut pandang yang lain.
  3. Less judgmental.
  4. Perang #hashtag dan trending. Jadi orang-orang yang penasaran dengan berita baru, akan langsung masuk ke fitur trending dan melihat apa yang ramai dibicarakan.
  5. Tempat para pemula mendaki popularitas.
  6. Di Twitter, beberapa orang memblokir orang-orang akun. Di real life yang di kenal agar bebas mensambat disana.
  7. Ada istilah khusus seperti: RT, love, reply, follow, mutualan, follow back, selebtwit dan lain sebagainya.
  8. Masyarakat dari kalangan tua, muda, remaja, dewasa semua ikut adu argumen.
  9. Tempat para pemula mendaki tangga popularitas.
  10. Penikmat berbagai macam thread.

 

 Twitter juga dapat melatih masyarakat untuk berfikir kritis terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat. Karena di era global modern pada saat ini semua pihak memungkinkan mendapatkan informasi secara melimpah, cepat, dan mudah dari berbagai sumber penjuru dunia. Untuk itu, manusia dituntut memiliki kemampuan dalam memperoleh,

                                                           

1Ainiyah, N. (2018). Remaja Millenial dan Media Sosial: Media Sosial Sebagai Media Informasi Pendidikan Bagi Remaja

Millenial. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 2(2), 221-236. (https://doi.org/10.35316/jpii.v2i2.76. Diakses pada 5 Juni

2022)

memilih, mengelola dan menindaklanjuti informasi itu untuk dimanfaatkan dalam kehidupan secara kritis.

Berfikir kritis tidak mungkin dilakukan bila tidak ada keraguan dalam hati. Jangan langsung menerima sebuah informasi sebagai kebenaran yang mutlak, sekalipun itu di ulangulang kepada diri sendiri dari hal-hal sepele. Bahkan hal-hal kecil dapat membawa kita ke wawasan baru. Selalu bedakan antara apa yang baru saja di dengar atau di baca sebagai pernyataan fakta atau pernyataan lain (termasuk opini). Berhati-hatilah saat mencari sumber informasi, dan selalu ingat bahwa tidak semua sumber memiliki tingkat kredibilitas yang sama.

Tidak semua hal atau opini yang disampaikan masyarakat harus semua positif atau negatif, tidak hanya yang membutuhkan feedback dari masyarakat. Masyarakat juga perlu mengetahui lebih banyak tentang apa yang terjadi di dunia penerbangan secara rutin, khususnya di Indoensia[1]. Yang mendukung tersebarnya informasi melalui fitur retweet pada akun-akun terpercaya. Untuk mendukung dari fitur terpercaya tentunya dalam kekayaan tersebut perlu adanya penelitian dan analisis terhadap tweet yang ada. Oleh karena itu, lebih mudah untuk menemukan pengguna yang intelektual di Twitter menjadikan gambaran pengguna Twitter daripada media sosial lainnya. Hal ini tidak jarang terjadi karena sistem yang minim ini. Intelektual Twitter sering Men-tweet perdebatan. Bagi sebagian orang, Twitter dianggap media sosial yang kontroversial dan relatif popular.

Pengguna Twitter sebagian besar adalah kalangan remaja termasuk para pelajar di lingkungan SMA. Model penggunaan Twitter ini merupakan wadah yang pantas untuk menyalurkan aspirasi, menampilkan kepribadian, model perkembangan sosial dan model hiburan. Twitter tak terbatas ruang dan waktu, mengirimkan dan menerima suatu informasi dengan cepat, eksistensinya diri dan pencarian koneksi3.

Twitter menjadi salah satu sumber informasi terkini dan beragam. Saya pun merasa terbantu untuk tetap mengetahui apa yang terjadi di platfrom media sosial. Di timeline saya sering menemukan konten tentang resep makanan, tips hemat travelling, tips skincare, cara self healing, akun menfess di perkuliahan, pengetahuan tentang silsafat dan tasawuf, sedikit lelucon dan masih banyak lagi. Menurut data We Are Social pada Januari 2020, Twitter menjadi salah satu jejaring sosial yang paling aktif digunakan di kalangan masyarakat Indonesia dengan total 10,65 juta pengguna dan masuk 5 besar sebagai platform media sosial yang paling banyak digunakan dengan pangsa 56,6 persen. Persen penduduk dunia berusia 1.664 tahun.[2]

 

Twitter juga merupakan media sosial yang memungkinkan pengguna saat berbagi berbagai informasi tentang masalah yang di alami ketika pengguna berinteraksi dengan perangkat elektronik seperti ponsel dan laptop. Banyak pengguna baru, dan mereka ingin terus mengupdate, agar setiap isu-isu terkini apapun yang baru masuk akan mereka bahas sampai selesai. Dan membahas hal-hal yang sedang hangat dapat membuat mereka saling berdebat.

Setiap media sosial memiliki kelebihan dan kekurangan, positif dan negatifnya. Jadi kita sebagai pelajar atau mahasiswa perlu belajar menggunakan internet dengan bijak jangan sampai kita kecanduan jaringan media sosial.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ainiyah, N. (2018). Millenial dan Media Sosial: Media Sosial Sebagai Media Informasi Pendidikan Bagi Remaja MillRemajaenial. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 2(2), 221–236. https://doi.org/10.35316/jpii.v2i2.76

 (Pravina, A. M., Cholissodin, I., & Adikara, P. P. (2019). Analisis Sentimen Tentang Opini

Maskapai Penerbangan pada Dokumen Twitter Menggunakan Algoritme Support Vector

Machine (SVM). Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-ISSN, 2548,)

(Nurhadi, Z. F. (2017). Model komunikasi sosial remaja melalui media twitter. Jurnal Aspikom, 3(3), 539-549.)

(Alkatiri, A. B. M., Nadiah, Z., & Nasution, A. N. S. (2020). Opini Publik Terhadap

Penerapan New Normal Di Media Sosial Twitter. CoverAge: Journal of Strategic Communication, 11(1), 19-26.)

 

 

 

 

 

 

[1] Pravina, A., Cholisoddin, I., & Adikara, P. (2019). Analisis Sentimen Tentang Opini Maskapai Penerbangan pada

Dokumen Twitter Menggunakan Algoritme Support Vector Machine (SVM). Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi Dan Ilmu Komputer, 3(3), 2789-2797. (https://jptiik.ub.ac.id/index.php/jptiik/article/view/4793, di akses pada 5 Juni 2022) 3 (Nurhadi, Z. F. (2017). Model komunikasi sosial remaja melalui media twitter. Jurnal Aspikom, 3(3), 539-549.). http://jurnalaspikom.org/index.php/aspikom/article/view/154,di akses pada 5 Juni 2022

 

[2] (Alkatiri, A. B. M., Nadiah, Z., & Nasution, A. N. S. (2020). Opini Publik Terhadap Penerapan New Normal Di Media Sosial Twitter. CoverAge: Journal of Strategic Communication, 11(1), 19-26.) https://doi.org/10.35814/coverage.v11i1.1728di akses pada 6 Juni 2022

 

Related posts