Pentingnya Bahasa Arab Informal/Dialek

banner 468x60

Bagi mereka yang mempelajari atau paham dengan bahasa Arab, tidak asing mendengar istilah bahasa Arab formal (Fusha) dan Informal (‘Amiyah). Apa yang kita pelajari di sekolah maupun bangku kuliah merupakan bahasa Arab Formal. Namun, dalam hal ini penulis akan membahas tentang mengapa kita juga harus membuat perhatian yang lebih terhadap bahasa Arab informal.

Tulisan ini merupakan refleksi dari artikel jurnal yang ditulis oleh Yun Eun-Kyong (2018) yang berjudul “Developing Communicative Competence in Spoken Arabic: A Survey of Korean University Students”. Membaca artikel ini membuat penulis sadar bahwa sebagai pembelajar bahasa Arab, pembahasan mengenai pentingnya bahasa Arab informal atau dialek kurang sering didiskusikan.

Bacaan Lainnya

Yun berpendapat bahwa kurikulum universitas perlu mengintegrasikan kedua jenis bahasa Arab, baik formal maupun informal ke dalam pembelajarannya. Adapun Bahasa Arab yang diajarkan di perguruan tinggi adalah bahasa Arab formal (Modern Standard Arabic), dan kurangnya perhatian pada bahasa Arab informal. Dalam forum-forum resmi, diskusi ilmiah, buku, jurnal, dsb menggunakan bahasa Arab formal. Namun, sayangnya ketika mahasiswa tersebut pergi dan berinteraksi dengan masyarakat lokal negara-negara Arab, mereka akan kurang memahami bahasanya, karena menggunakan bahasa Arab Informal. Bagi Yun, inilah manfaat mengapa bahasa Arab Informal tidak bisa dikesampingkan dalam pembelajaran bahasa Arab. Hal ini bermanfaat bagi kemampuan berbahasa mahasiswa agar bisa efektif dan komunikatif ketika mereka berpergian atau belajar di negara-negara Arab.

Survey Mahasiswa Bahasa Arab di Korea

Artikel yang penulis bahas pada saat ini merupakan sebuah survey berkaitan dengan bahasa Arab Informal terhadap mahasiswa-mahasiswa Korea yang mengambil jurusan bahasa Arab. Terdapat beberapa pertanyaan yang Yun ajukan. Penulis akan membahasnya beberapa dalam uraian berikut.

Temuan Yun menyatakan 57,8% mahasiswa Korea yang mempelajari bahasa Arab sangat setuju mempelajari dialek Arab untuk berkomunikasi di Arab. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa sebagian besar mahasiswa bahasa Arab setuju untuk mempelajari lebih lanjut bahasa Arab informal untuk menunjang kemampuan berbahasa Arab mereka. Bahkan, sekitar 43,3%  mahasiswa Korea sangat setuju jika mereka membutuhkan lebih banyak lagi pelajaran bahasa Arab informal. Mahasiswa-mahasiswa korea tersebut sangat tidak setuju dengan kemungkinan untuk melakukan percakapan dengan penutur asli hanya dengan bahasa Arab formal. Melalui pandangan tersebut, kita bisa melihat pentingnya bahasa Arab informal untuk keperluan berinteraksi dengan penutur asli. Hal ini semakin menguatkan tesis yang Yun ajukan di atas, mengenai kegunaan bahasa Arab informal.

Jika memang pembelajaran bahasa Arab informal perlu dimasukkan di dalam kurikulum, kapan waktu yang tepat untuk diajarkan? Variasi pembelajaran yang ditawarkan Yun adalah tahun pertama dan kedua lebih berfokus pada pengembangan bahasa Arab formal (Modern). Sedangkan untuk tahun ketiga dan keempat seharusnya menawarkan fitur-fitur dasar dan perbedaan dialek-dialek Arab yang beragam. Untuk ragam dialeknya, sebanyak 25,6% mahasiswa lebih memilih untuk mempelajari dialek negara-negara teluk. Sementara itu, 22,2% mahasiswa setuju memilih dialek Arab Levantine untuk dipelajari. Adapun sebagian besar mahasiswa atau sebanyak 48,9% setuju untuk mempelajari dialek Mesir. Sisanya, sekitar 3,3% mahasiswa memilih dialek Maroko untuk dipelajari.

Dari uraian mengenai artikel yang ditulis oleh Yun di atas, kita bisa melihat bahwa meskipun menguasai bahasa Arab formal, seseorang bisa kesulitan berbicara dan berkomunikasi dengan Orang Arab Asli. Ini berarti bahwa bahasa Arab formal saja tidak cukup, untuk mengatakan bahwa seseorang memiliki kemampuan literasi bahasa Arab yang baik. Kita masih membutuhkan kemampuan bahasa Arab informal untuk memenuhi kemampuan tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia?

Dari uraian di atas, penulis setuju dengan pendapat Yun di atas mengenai pentingnya bahasa Arab informal untuk diajarkan bagi mahasiswa bahasa Arab di Indonesia. Namun, seberapa jauh materi yang perlu diajarkan, perlu kajian yang lebih dalam lagi. Ini dikarenakan perbedaan konteks Indonesia dan Korea dalam mempelajari bahasa Arab berbeda, meskipun sama-sama bahasa asing.

Survey Yun memaparkan sebanyak 78,9% mahasiswa jurusan bahasa Arab pernah belajar bahasa Arab di negara-negara yang berdialek. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar orang Korea yang mempelajari bahasa Arab pernah pergi ke daerah penutur aslinya. Sehingga, bahasa Arab informal sangat diperlukan untuk menunjang interaksi mereka.

Hal ini berbeda dengan Indonesia. Orang yang memperlajari bahasa Arab di Indonesia cukup banyak, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Itu tidak dapat dilepaskan dengan peran agama Islam, dimana kitab sucinya berbahasa Arab. Jadi, mempelajari bahasa Arab tidak “segenting” mahasiswa-mahasiswa Korea, meskipun sama-sama perlu. Bagi mahasiswa Indonesia yang akan berpergian, untuk studi misalnya di negara-negara Arab, maka bahasa Arab informal ini sangat diperlukan. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahasa Arab formal saja tidak cukup, terutama bagi mereka yang berinteraksi langsung dengan penutur asli.

Pos terkait