Perkembangan Bahasa Arab

  • Whatsapp

Terdapat puluhan atau bahkan ratusan bahasa di dunia ini, namun atas keunikan dan
keistimewaanya bahasa arab terpilih menjadi bahasa dalam kitab suci al-Qur’an dan hadist.
Dalam kata lain, bahasa arab merupakan media kalam Tuhan melalui Muhammad sebagai
utusan-Nya. Oleh sebab itu, suatu hal yang sangat menarik bila kita kaji bersama, selain
menambah wawasan keislaman kita juga dapat mengetahui apa dibalik keunikan bahasa arab
sehingga menjadi bahasa baku (al-Lughoh al-Fusha) dalam sumber hukum islam.
Pengaruh perkembangan wilayah islam, membuat merebaknya kesalahan-kesalahan dalam
pengucapan bahasa arab (Qira’ah al-Lughah al-‘Arabiyyah) sehingga berpengaruh terhadap
pemahaman al-Qur’an dan hadist. Problem tersebut salah satunya disebabkan terjalin
hubungan antara bahasa arab asli dengan penduduk non-arab (ahlu al-‘Ajamiyyah) sehingga
kedua bahasa itu “selingkuh”.
Akibat perluasan wilayah membuahkan hasil berbagai suku berbondong-bondong masuk
islam, termasuk menselaraskan bahasa arab (al-Lughah al-‘Arabiyyah) sebagai alat komunikasi
resmi. Sehingga, dari puluhan suku atau bahkan ratusan suku memiliki perbedaan kompetensi
bahasa arab karena masih terbawa dengan bahasa budaya mereka.
Bahasa arab merupakan bahasa budaya yang sudah matang dan mapan sebelum islam
datang (zaman jahiliyyah). Sehingga, dapat ditarik “benang merah” bahwa bahasa arab lebih
awal muncul dari datangnya islam__di bumi ini. Sebelum bahasa arab dijadikan bahasa agama
(al-Lughah al-Diin), bahasa arab telah menjadi alat komunikasi dan produk budaya yang dimiliki
oleh salah satu suku arab.
Sehingga, ketika para sahabat menemukan kejanggalan bahkan kebuntuan dalam
memahami bahasa-bahasa atau kalimat al-Qur’an dan hadist, mereka harus “melalang buang”
mencari penduduk yang masih terjaga dengan keorisinal bahasa arabnya. Dalam arti belum
terpengaruh oleh bahasa suku asing. Hasil penelitian menyebutkan, mereka merupakan pemilik
dan pewaris bahasa al-Qur’an (al-Lughah al-Qur’an) yaitu Suku Badui Arab.

Suku Badui merupakan “mutiara” terpendam dalam pengkajian khasanah studi islam
bahasa arab. Mereka istiqamah menjaga keotentikan substansi bahasa arab murni_jauh
sebelum ilmu nahwu lahir. Letak geografis suku badui terletak dibarat daya Asia, sebelah utara
berbatasan dengan Syria, sedangkan bagian timur berbatasan dengan teluk Persia dan laut
Oman. Adapun sebelah selatan dibatasi oleh Samudra Pasifik dan laut Merah sebelah barat.
Kepiwaian dalam mendemostrasikan bahasa arab dengan baik dan benar merupakan
sebuah keistimewaan bagi mereka, baik dalam bentuk syair (al-syi’ir), retorika (al-khitabah)
maupun prosa (al-nathr). Pasar al-Mirbad merupakan pusat dunia perdagangan antar suku,
sehingga perbedaan dialek merupakan konsekuensi perkembangan bahasa arab. Perbedaan itu
hampir pada setiap tatanan dalam bahasa arab: fonologi (suara), leksikal (kosa kata), sintaksis
(gramatikal) dan bahkan harakat.
Bagi mereka bahasa merupakansebuah identitas, dalam bahasa arab ada sebuah adagium
al-Lughati Huwiyati (bahasaku adalah identitasku). Maka runtuhnya bahasa berarti runtuhnya
idenditasnya. Pasalnya dari ratusan suku terdapat suku-suku yang peduli dengan keorisinilan
bahasa arab dan ada sebagian besar tidak peduli. Konsekuensinya, pada masa itu tingkat
kefasihan membaca dan pemahaman terhadap teks-teks arab (al-qira’ah wa al-fahm ‘ala kalam
al-‘arabiyyah) berbeda. Suku badui melakukan pelbagai upaya menjaga bahasa arab asli dengan
berkomitmen melafalkan al-Qur’an sesuai barometer ilmu qiro’ah yang kredibel secara intuisi
(saliqah).
Sebab, pada hakikatnya bahasa al-Qur’an diturunkan dengan “meminjam” bahasa arab
murni. Berangkat dari fenomena diatas, muncul kesadaran urgensi dalam perumusan formulasi
ilmu tatanan bahasa arab (ilm al-lughah al-‘arabiyyah). Saat itu istilah ilmu nahwu belum lahir.
Ide gagasan ini dimulai oleh Umar bin Khatab, dan terealisasi pada masa khalifah Ali bin Abi
Thalib melalui muridnya Abu Aswad al-Du’ali sebagai penanggung jawab proyek ini.
Adapun motif-motif munculnya benih ilmu nahwu atau ilmu susunan bahasa arab, akan
penulis klasifikasikan dibawah ini:
Motif agama
Urgensinya mendalami makna al-Qur’an secara komprehensif dan mendalam (sampai pada
akarnya) telah diperintahkan nabi: “Pahamilah fungsi-fungsi kata dalam kalimat al-Qur’an serta
strukturnya. Dan uraikan benang kusut kata-kata yang masih ambigu” (A’ribu al-Qur’an wa
iltamisu gharaibah). Kedua, merebaknya penduduk arab yang salah dalam mengucapkan lafadz-
lafadz arab (lahn). Ketiga, terdapat sepuluh model membaca teks arab (qira’at al-Qur’an).
Sehingga perlunya untuk merumuskan ilmu yang mengatur susunan dalam kaidah bahasa arab.
Motif sosial
Dalam perkembangan bahasa arab, perluasan wilayah islam (al-futuhat al-islamiyyah)
bagaikan “dua mata pisau”. Selain kemajuan bagi islam, akan tetapi sebuah ancaman juga bagi
kemajuan bahasa arab. Sebab, bahasa arab merupakan bahasa baku bagi negara-negara arab

termasuk negara yang baru ditaklukan (al-‘ajamiyyah). Pasalnya sebuah keniscayaan bagi
penutur non-arab menguasai bahasa arab murni. Selain itu, terjadi kontak langsung antar
bahasa, dan bahasa yang lebih kuat akan mendominasi bahasa yang lemah.
Motif politik
Berawal dari pergolakan politik meninggalnya Uthman ibn Affan memperkeruh hubungan
antara Mu’awiyyah dan Ali bin Abi Thalib, yang berakhir runtuhnya khalifah. Mu’awiyyah
berambisi untuk menghabisi seluruh nasab Ali. Demi menguasai ambisi politik mereka
(Mu’awiyyah) menggunakan jubah agama untuk mengemas oposisi politiknya. Ini merupakan
politisasi agama pertama kali dalam sejarah islam.
Dinasti Umayyah menjelma dirinya menjadi sistem tatanan pemerintah monarki. Selain
merubah sistem pemerintahan dari demokratis (sistem yang sudah mengakar jauh sebelum
khulafa al-rasyidin) menjadi monarki, Mu’awiyyah juga mengganti pejabat pribumi (al-
‘ajamiyyah) dengan didominasi orang-orang arab. Akhirnya, penduduk arab merasa unggul dari
yang lain.
Pergolakan politik ini secara tidak langsung berpengaruh juga terhadap perkembangan
bahasa arab. Dorongan mendalami ilmu bahasa arab berbelok pada motif politik dan gengsi.
Bahasa arab dianggap “bahasa bergengsi” karena kedudukanya sebagai bahasa para penguasa saja.

Penulis: Muslihudin

Pos terkait