Perspektif Islam terhadap Pluralisme

Perspektif Islam terhadap Pluralisme
Gambar ini dikutip dari https://artikula.id/wp-content/uploads/2020/02/20170228_Pluralism-1888x960-768x391.jpg

Perspektif Islam terhadap Pluralisme

Dewasa ini, banyak sekali aliran-aliran pemahaman tentang keagamaan yang mungkin masyarakat awam kurang mengenalinya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menerima dengan mudah terhadap paham yang ada dalam aliran tersebut, sehingga mengakibatkan timbul banyak hal yang negatif dalam masyarakat itu sendiri. Pada akhirnya dapat memecah belah persatuan dan kesatuan negara kita sendiri. Pluralisme menjadi penting untuk difahami.

Pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya).

Lantas bagaimana agama Islam melihat pluralisme? atau bagaimana perspektif islam terhadap pluralisme?

Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah .”

Ayat ini menerangkan bahwa Islam mengakui keberadaan dan keragaman suku dan bangsa serta identitas-identitas agama selain Islam (pluralitas), namun sama sekali tidak mengakui kebenaran agama-agama tersebut (pluralisme). Allah SWT juga berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Mereka menyembah selain Allah tanpa keterangan yang diturunkan Allah. Mereka tidak memiliki ilmu dan tidaklah orang-orang zalim itu mempunyai pembela .”

Ayat ini menegaskan bahwa agama-agama selain Islam itu sesungguhnya menyembah kepada selain Allah SWT. Lalu bagaimana bisa dinyatakan, bahwa Islam mengakui ide pluralisme yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya dan menyembah kepada Tuhan yang sama?

Dalam ayat yang lain, Allah SWT menegaskan:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam .”

Allah SWT pun menolak siapa saja yang memeluk agama selain Islam (QS Ali Imran [3]: 85); menolak klaim kebenaran semua agama selain Islam, baik Yahudi dan Nasrani, ataupun agama-agama lainnya (QS at-Taubah [9]: 30, 31); serta memandang mereka sebagai orang-orang kafir (QS al-Maidah [5]: 72). Karena itu, yang perlu dilakukan umat Islam sesungguhnya bukan menyerukan pluralisme agama apalagi dialog antaragama untuk mencari titik temu dan kesamaan. Masalahnya, mana mungkin Islam yang mengajarkan tauhid (QS 5: 73-77; QS 19: 88-92; QS 112: 1-4) disamakan dengan Kristen yang mengakui Yesus sebagai anak Tuhan ataupun disamakan dengan agama Yahudi yang mengklaim Uzair juga sebagai anak Tuhan?! Apalagi Islam disamaratakan dengan agama-agama lain?

Benar, bahwa eksistensi agama-agama tersebut diakui, tetapi tidak berarti dianggap benar. Artinya, mereka dibiarkan hidup dan pemeluknya bebas beribadah, makan, berpakaian, dan menikah dengan tatacara agama mereka. Tetapi, tidak berarti diakui benar. Untuk umat islam Indonesia, MUI telah jelas jelas mengharamkan pluralisme agama, sebuah pemikiran yang, jika coba mengambil kesimpulan dari The Lost Symbol-nya Dan Brown, merupakan salah satu dasar perjuangan kaum Freemasonry untuk membentuk tata dunia baru tanpa “sekat sekat” agama.

Pluralisme bukanlah hal sederhana yang bisa dipermainkan seenaknya. Konsekuensi dari paham ini adalah tereduksinya akidah seorang muslim yang bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, al Qur’an adalah Firman Allah yang diturunkannya kepada Muhamad SAW dan disampaikannya (Muhammad SAW) kepada para sahabat tanpa penambahan ataupun pengurangan sedikitpun.
Adapun sikap kita sebagai muslim harus dapat menghargai adanya perbedaan masing-masing anggota masyarakat. Karena perbedaan dipandang sebagai hak fundamental dari setiap anggota masyarakat. Dan sudah waktunya kita untuk menyadari dengan tulus tentang adanya pluralitas, sehingga dapat menjauhi dari setiap tindakan yang muncul baik yang terang-terangan maupun yang diam-diam, untuk menolak adanya perbedaan dan pluralitas, dengan memanfaatkan untuk mempertajam konflik dalam masyarakat yang majemuk. Karena, tindakan semacam itu sesungguhnya hanya akan menghancurkan diri kita sendiri.
Jadi dalam menghadapi isu mengenai pluralisme hendaknya kita menumbuhkan sikap toleransi antar sesama pemeluk agama sesuai dengan batasan agama masing-masing.

Ingin Belajar bahasa Arab secara Online? Click tautan berikut

Ingin review artikel sebelumnya? Click tautan berikut

 

Referensi
Adian Husaini, Pluralisme Agama Musuh Agama-Agama, DDII 2010, hal 1
Imanuddin Rahman, Mengkritisi (Isu) Pluralisme, eramuslim.com, Senin, 25/04/2011
Kutipan fatwa MUI tanggal tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005 M
Pengantar Studi Islam, Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2005

Related posts