Pesan Imam Syafi’i untuk Pemuda

pesan imam syafi'i untuk pemuda

Selain dikenal sebagai pakar disiplin fiqih, Imam Syafii atau dengan nama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Idris juga dikenal ahli syair Arab yang sangat fenomenal dengan karyanya “Diwan Syafii”, dari salah satu syair yang masyhur berbunyi “Hayatul fata wallohi bil ilmi wa at-tuqho” yang artinya, sungguh demi Allah, kehidupan seorang pemuda/i hendaknya disertai ilmu dan ketaqwaan.

Dari syair yang sederhana dan mudah di hafal ini, penulis berasumsi akan dapat menjadi alternatif jawaban atas kebutuhan sumber daya pemuda. Pemudalah yang sangat dinantikan kehadirannya agar membantu memecahkan kebuntuan berbagai penomena yang ada. Karena dari dua nilai -sebagaimana kata Imam Syafii- dirasa sangat relevan dengan nilai-nilai tujuan pendidikan yang terkandung di dalam teori Taxonomi Bloom (1956), yaitu ranah kognitif (cognitive domain/al-nâhiyah al-fikriyyah), ranah afektif (affective domain/al-nâhiyah al-mauqîfiyyah) dan ranah psikomotorik (psychomotor domain/al-nâhiyah al-harokah) yang secara konseptual tentunya Imam Syafii telah lebih dahulu menyampaikannya pada 150 tahun lalu dan hal ini dirasa masih berlaku secara kontekstual.

Read More

Menuju yang Kontekstual

Berangkat dari hal itu, dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik maka penulis coba tawarkan solusi dengan menggagas syair klasik di atas dengan pendekatan kontekstual. Secara sistematis dapat diurutkan, pertama, kognitif yang merupakan pondasi pengetahuan dari lafadz bil ‘ilmi; kedua, afektif yang merupakan esensi sikap ketaqwaan kepada Tuhan; Ketiga, psikomotorik yang merupakan keterampilan diri dalam mengaktualisasikan nilai-nilai ketaqwaan dimaksud kepada sesama.

Menjadi pemuda yang ideal tentunya harapan semua pemuda pada umumnya. Namun sementara pemuda masih kelimpungan menemukan indikator untuk mendapatkan predikat tersebut. Berikut penulis sampaikan langkah-langkah sistematis dalam menggapai idealisme pemuda.

Jalan Pencapaian

Pertama, ranah kognitif di mana aspek ilmu harus dijadikan prioritas dalam pandangan Imam Syafii. Karena ilmu merupakan sumber wawasan bagi manusia dalam mengarungi kehidupannya. Pemuda idealis adalah mereka yang dibekali daya intelektual tinggi, daya nalar ilmiah cerdas dan semangat cinta ilmu yang luar biasa.

Betul saja, pemuda dengan segudang ide dan gagasan akan terus bergelora semangatnya dalam membangun dan melakukan pembaharuan. Tapi tidak menutup kemungkinan sementara pemuda melakukan hal tersebut tanpa dibentengi ilmu yang cukup, dengan bahasa nyaring disebut dengan korban penipuan terstruktur sehingga mereka digiring untuk ikut demo tanpa mengerti apa yang mereka suarakan. Mereka itu peduli tapi kurang berilmu sehingga seringkali mereka dimanfaatkan.

Duduk perkara ilmu menjadi penting dan mendesak. Bagaimana tidak?, kelanjutan pembangunan Indonesia saat ini perlu ditopang atas dasar SDM yang berilmu pengetahuan dan wawasan yang luas. Terlebih mereka yang juga peduli terhadap realitas sosial. Sebaiknya sejalan dan sejalin antara kekuatan ilmu dan kepekaan sosial masyarakat.

Kedua, ranah afektif di mana aspek sikap religius dirasa sangat urgen sebagai aktualisasi intelektual pemuda. Dalam Islam lekat dengan sebutan taqwa, taqwa diartikan “Menjalankan perintah Tuhan berikut menjauhi larangan-Nya”. Sikap religius dewasa ini menjadi harga mati dalam roda kemanusiaan. Pintar saja tidak cukup menjadikan seorang pemuda terpandang dimata umum tapi lebih dari itu harus diimbangi arus hubungan vertikal yang baik pula terhadap Tuhan-Nya (hablu min Allah).

Wajar saja, kita bukan hanya memerlukan pemuda yang pintar, tapi butuh yang bertaqwa. Agar ketaqwaan itu dapat menjadi benteng terakhir yang menyelamatkan mereka dari kerasnya tantangan zaman saat ini, terlebih musuh yang nyaris tersembunyi, yaitu arus perang ideologi dan akidah.

Ketiga, ranah psikomotorik di mana  langkah terakhir adalah finishing, ranah ini menekankan pada keterampilan diri dalam mengimplementasikan nilai-nilai ketaqwaan dimaksud kepada sesama. Seorang pemuda dituntut untuk mampu menyebarkan nilai-nilai kebaikan di masyarakat sebagai wujud nyata perannya menjadi pemuda ideal, kemampuan pengetahuan yang mumpuni disertai sikap ketuhanan yang baik dan keterampilan mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata adalah solusi dalam menggapai idealisme pemuda.

Dari ketiga ranah, tampak ada korelasi yang berkaitan antara pendapat Imam Syafii dengan teori Taxonomi Bloom, namun, yang membedakan sebatas dalam implementasinya saja. Menurut hemat penulis, seorang pemuda sepatutnya kembali kepada nilai-nilai agama yaitu dengan memperkokoh imunitas keilmuan dengan mengaji, belajar sepanjang masa dan memperkaya wawasan juga diimbangi spirit ketaqwaan dengan cara mengamalkan, mencontohkan dan mendakwahkan ilmu.

 

Related posts