Politik Nasab dan Politik Kemuliaan dalam Masyarakat Arab

Masyarakat Arab menjadi salah satu masyarakat dunia yang alam sosial masyarakatnya lekat dengan per-nasab-an. Bila kita membaca nama-nama atau tokoh Arab utamanya dalam kitab-kitab turats klasik, maka akan mendapati nama tokoh yang cukup panjang dengan format nasab yang cukup lengkap. Hal itu tentu bukan hanya sekadar main-main semata.

Sebut saja misalnya nama Imam al-Bukhari yang memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Barduzbah Al-Ju’fi al-Bukhari. Kata terakhir yakni al-Bukhari menunjukkan tempat di mana beliau lahir. Dari panjangnya nama itu kita dapat melihat beberapa nama leluhur imam al-Bukhari.

Namun tidak mesti semua nama orang Arab diberi nama tempat kelahirannya di ujung nama yang menjuntai itu. Sebut saja misalnya nama Imam al-Qusyairi, beliau memiliki nama lengkap Abul Qasim ‘Abdul Karim bin Hawazin bin ‘Abdul Malik bin Talhah bin Muhammad al-Qusyairi an-Naisaburi asy-Syaf’i. Saya kira ini adalah contoh nama yang cukup lengkap, di mana ketiga kata akhir dari nama tersebut merepresentasikan identitas masing-masing.

Kata “al-Qusyairi” menunjukkan nama kabilah, yakni kabila Qusyair. Kata al-Naisaburi menunjukkan nama daerah, yakni Naisabur. Sedang kata al-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau dari madzhab syafi’i.

Pada mulanya keberadaan nasab dalam masyarakat Arab berfungsi untuk menjaga garis keturunan seseorang. Bahkan bisa dibilang sampai saat ini masyarakat Timur Tengah masih menjaga tradisi menghafal nasab mereka. Setiap anak diajarkan untuk hafal nama-nama kakek buyut mereka, minimal hingga lima tingkat generasi ke atas. Ini merupakan sebuah kebanggaan bagi bangsa Arab di mana keturunan mereka terjaga, bersih dan masih ada.

Namun pada fase sejarah tertentu, keberadaan tradisi penjagaan nasab ini memunculkan sentimen kesukuan yang tinggi di kalangan masyarakat Arab. Muncullah kompetisi kemuliaan yang secara tidak langsung melibatkan beberapa kabilah. Gengsi kesukuan kerap dilihat dari jumlah kuantitas harta kekayaan dan kuantitas keturunan. Semakin banyak harta dan keturunan maka semakin menunjukkan tingkat kemuliaan suku tersebut.

Lebih-lebih keturunan tersebut memiliki jasa yang cukup besar pada komunitasnya. Sebut saja misalnya kemuliaan suku Qurasiy yang menjaga ka’bah di Mekkah. Lebih-lebih banyak syair dan dalil-dalil naqli agama yang melegitimasi kemuliaan suku ini. Bahkan beberapa kitab-kitab klasik mengabadikan ritus-ritus tersebut. Bahkan dalam diskursus politik Islam klasik, nasab Quraisy masih menjadi salah satu syarat untuk menjadi pemimpin di samping anggota tubuh yang lengkap.

Adapun yang terlibat sengketa di antaranya kasus antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Ali Reza dalam salah satu artikelnya mengetengahkan bahwa  kebencian dan pemusuhan antara kedua klan ini pernah sampai pada titik terkuat. Bermula dari Bani Hasyim yang memegang amanat sebagai pengawas dan pemelihara Rumah Suci Allah, Ka’bah. Sebuah posisi yang terhormat dan sangat diidamkan oleh orang-orang, tidak terkecuali Bani Umayyah. Namun karakter Bani Hasyim yang pemurah membuatnya tidak mungkin untuk melakukan penimbunan terhadap kekayaan. Sebaliknya, egoisme dan kekikiran Bani Umayyah saat itu memberikan jalan baginya untuk menu menumpuk kekayaan.

Hal yang lebih tragis lagi adalah perseteruan antara klan Aus dan Khazraj yang ada di Yatsrib, cikal bakal kota Madinah al-Munawwarah. Kedua kabilah ini memiliki kekuatan yang berimbang, maka masing-masing dari mereka berupaya untuk mendapatkan superioritas dengan membuat aliansi bersama suku Yahudi di Yatsrib.

Dalam hal ini suku Aus bersekutu dengan Bani Quraidhah. Adapun suku Khazraj bersekutu dengan Bani Nadhir. Persaingan yang sangat sengit ini mengakibatkan perang berdarah antara kelompok-kelompok yang ada di dua suku tersebut.

Oleh karenanya substansi pemeliharan nasab telah tercemari dengan tendesi politik perburuan kemuliaan. Sehingga yang awalnya diharapkan dapat menjaga kelestarian keluarga justru malah menjadi sengketa antar keluarga. Bahkan melahirkan konflik yang larut berkepanjangan.

Diutusnya Nabi dan diturunkannya al-Qur’an membawa risalah yang salah satunya berdampak pada reformasi per-nasab-an. Dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Isa al-Tirmidzi,Nabi SAW mendorong umatnya untuk mempelajari nasab, sebab dari nasab itu kita bisa terbantu dalam penjagaan silaturrahmi.

Ajaran Nabi yang suci mengumandangkan bahwa kemuliaan seseorang tidak bergantung sepenuhnya pada nasab keturunan, melainkan karena keimanan dan ketaqwaan mereka di hadapan Allah SWT. Sebab Allah SWT menciptakan hambanya dalam identitas yang beragam untuk saling mengenal satu sama lain.

 

Related posts