Psikolinguistik Sejarah Pembelajaran Bahasa

psikolinguistik sejarah pembelajaran bahasa
psikolinguistik sejarah pembelajaran bahasa

Psikolinguistik Sejarah Pembelajaran Bahasa. Sudah lama “Bahasa” menjadi objek pengetahuan yang masuk dalam meja ajar para akademisi. Ia bahkan menjadi rumpun pengetahuan tersendiri yang terus mengalami perkembangan setiap zamannya. Diskursus kajian kebahasaan saat ini bahkan telah memiliki cabang-cabang keilmuan yang telah kukuh secara keilmuan.

Kajian bahasa yang bersinggungan dengan psikologi melahirkan cabang keilmuan bernama psikolinguistik. Kajian bahasa yang bersinggungan dengan sosiologi melahirkan cabang keilmuan sosiolinguistik. Masih banyak lagi cabang-cabang ilmu kebahasaan lainnya yang lahir dan berkembang dalam dunia pengetahuan bahasa saat ini.

Read More

Baca: Mawar Hitam Ilmiah Akademisi

Namun meskipun demikian, setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi bahasa itu dipelajari. Pertama adalah sebagai strategi militer suatu negeri untuk menaklukkan suatu wilayah yang menjadi target invasi mereka. Kedua adalah kebutuhan komunikasi untuk hajat-hajat hidup sehari-hari di suatu wilayah, misalnya saja untuk hajat perdagangan.

Interaksi dan Komunikasi antar Budaya

Psikolinguistik Sejarah Pembelajaran Bahasa. Abdul Chaer dalam bukunya yang berjudul Psikolinguistik antara Teori dan Praktik mengatakan bahwa belum ada data yang pasti dan kuat perihal kapan dimulainya pembelajaran bahasa. Akan tetapi menurutnya pembelajaran bahasa terjadi manakala adanya interaksi dan komunikasi antar dua komunitas yang memiliki bahasa yang berbeda.

Situasi yang demikian pasti akan menuntut kelompok yang satu mempelajari bahasa kelompok yang lain. Hal ini dapat kita lihat dalam fenomena masyarakat urban sekarang.  Orang Cirebon yang merantau bekerja ke Jakarta pasti akan mempelajari bahasa yang dipakai pada umumnya di lokasi kerjanya. Orang Tasikmalaya yang merantau ke Pekanbaru pasti akan mempelajari bahasa yang dipakai oleh mayoritas masyarakat Pekanbaru di sana.

Perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa mempelajari bahasa bukan saja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup praktis. Namun pembelajaran bahasa juga mempermudah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain seperti mempelajari ilmu. Kebutuhan dasar tersebutlah yang menjadi cikal bakal berdirinya sekolah pembelajaran bahasa kedua.

Baca juga: Sunan Psikolinguistik Awal, Wilhelm von Humboldt

Pada tahun 1940-1950 muncul metode yang popular dengan nama American Army Method yang lahir di markas Militer Amerika. Oleh karena lahir dalam lingkungan militer, maka tujuan utama dari metode tersebut sebenarnya adalah untuk keperluan ekspansi perang. Itulah mengapa dalam film Hollywood tidak sedikit agen-agen CIA yang fasih berbahasa Arab untuk menunjang kesuksesan misinya ketika bertugas di Timur Tengah.

Metode dalam pembelajaran bahasa ini datang silih berganti di sepanjang tahun 1950 sampai dengan tahun 1980. Ujung dari perjalanan pengembangan metode tersebut adalah lahirnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa. Metode tersebut diadopsi oleh para stakeholders dalam bidang ilmu bahasa dan pendidikan.

Napak Tilas Jejak Pembelajaran Bahasa Arab

Psikolinguistik Sejarah Pembelajaran Bahasa. Mengkaji bahasa Arab jelas memiliki sensasi tersendiri bagi para intelektual muslim. Pasalnya bahasa Arab bukan saja sebagai bahasa dari hasil produk budaya, namun juga telah menggelinjang dengan hal-hal yang sakral dalam Islam. Di mana bahasa Arab telah terpilih sebagai bahasa al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Bahasa Arab mulai dikaji dengan serius dan diajarkan kebahasaannya tatkala menjamurnya kesalahan-kesalahan berbahasa umat Islam yang berasal dari kalangan Mawali.  Kesalahan (Lahn) tersebut didominasi oleh kesalahan dalam kaidah gramatika Arab pada umumnya.

Hampir semua pakar linguistik Arab menyepakati bahwa penggagas awal yang kemudian berkembang menjadi ilmu Nahwu muncul dari seorang sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Ali bin Abi Thalib. Ketika itu Ali bin Abi Thalib tengah menjabat sebagai khalifah. Gagasan Khalifah Ali tersebut muncul karena beberapa faktor, antara lain yakni faktor agama dan faktor sosial budaya.

Faktor agama dalam hal ini adalah menyangkut dengan usaha pemurnian al-Qur’an dari lahn (salah baca). Kasus lahn tersebut sebenarnya sudah muncul sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup. Hanya saja frekuensinya masih tidak sebanyak pada masa-masa setelahnya.

Lahn dalam masyarakat Arab tersebut semakin lama semakin tinggi frekuensinya, apalagi ketika bahasa Arab telah mulai menyebar ke negara-negara atau bangsa-bangsa luas yang notabene non-Arab. Pada situasi demikian itulah mulai terjadi pertarungan bahasa dan proses saling mempengaruhi antara bahasa Arab dengan bahasa-bahasa lain. Para penutur bahasa Arab dari kalangan non-Arab kerap membuat lahn dalam berbahasa Arab. Hal tersebut menciptakan situasi kekhawatiran akan merambat pada waktu mereka membaca Umm al-Kitab  al-Qur’an.

Dewasa ini bahasa Arab mulai menjadi ilmu yang dipelajari secara definitif. Ia dikaji dengan berbagai analisis berbagai bidang keilmuan yang melahirkan ragam cabang-cabang keilmuan baru. Bahkan bahasa Arab menjadi bahasa yang dipelajari dengan posisi bahasa kedua di beberapa wilayah tertentu. Hal tersebut membuat bahasa Arab banyak didialogkan dengan metode-metode pembelajaran kontemporer.

Related posts