Pusparagam Refleksi Hari Kemerdekaan

Sejak beberapa hari yang lalu, beberapa platform media sosial tanah air penuh dengan berbagai atribut dan segala macam poster peringatan hari kemerdekaan Indonesia.  Nuansa merah dan putih jadi warna pokok dalam meme-meme yang di-sharing ke berbagai kontak atau rekan baik dalam atau antara lini media. Bahkan ada beberapa kepala instansi yang mewajibkan karyawannya untuk memasang poster tersebut di akun-akun media sosial masing-masing termasuk menjadi status di whatsapp, instagram, facebook, line dan lain-lain.

Dari Kanal Media Sampai Kanal Nyata

Keriuhan di jagat media yang berseliweran dengan ungkapan happy independence day itu turut meruah juga di dunia  nyata. Bahkan bisa jadi sebenarnya dari dunia nyata inilah asal muasal sumber keriuhan itu yang kemudian meruah gebyah ke kanal-kanal media. Tapi sudahlah kita sedang tidak membahas siapa meruahkan apa di sini. Faktanya di kampung-kampung mengisi hari hari-hari menjelang tanggal 17 agustus dengn berbagai acara yang sangat beragam.

Ada yang menghias gang-gang atau jalan di depan rumahnya masing-masing sampai terlihat lebih indah. Ada yang sengaja melakukan polesan warna-warna baik itu dengan avitex, avian, falcon dan lain-lain pada tembok atau pagar rumah dan balai-balai pertemuan di kampungnya. Ada juga lomba-lomba gembira yang diselenggarakan oleh beberapa perkumpulan karang taruna untuk semakin membuat ramai bahkan tidak jarang berujung kegaduhan karena saking menikmatinya.

Bahkan beberapa media mainstream seperti televisi tidak mau ketinggalan dalam menguatkan suasan kemerdekaan bagi para pemirsanya. Beberapa acara rumpi atau sinetron ada yang diliburkan terlebih dahulu. Diganti dengan pemutaran film-film perjuangan yang mayoritas berisi perang-perang kemerdekaan. Meskipun beberapa orang generasi tua tidak cukup terobati penghiburannya karena beberapa film di zaman mereka sudah jarang diputar lagi di layar televisi milennium ketiga. Sebut saja beberapa judul seperti Janur Kuning, Si Singa Karawang Bekasi dan lain-lain.

Selebrasi di Tengah Pandemi

Situasi pandemi corona ini memang memberikan beberapa penyesuaian pada sesuatu yang telah menjadi budaya di Tanah Air ini. Beberapa kampung ada yang begitu taat dan kaku pada protokol kesehatan Covid-19 sehingga tidak mengadakan kegiatan-kegiatan selebrasi seperti biasanya. Namun ada juga beberapa kampung yang coba tetap mengadakan selebrasi-selebrasi namun tetap mengindahkan protokol kesehatan yang telah dibuat oleh dinas dan pemerintah setempat. Ada atau tiadanya selebrasi di hari kemerdekaan ini oleh para warga bukan menjadi representasi hierarki rasa nasionalisme mereka. Karena rasa tersebut pasti telah dimiliki oleh seluruh rakyat bahkan oleh bayi yang baru keluar dari rahim seorang ibu di negara ini.

Kita belum lagi tau kapan pandemi akan berakhir dan hengkang dari negeri ini. Laporan dari otoritas terkait menunjukkan bahwa kasus posistifnya masih terus menaik saban hari. Bahkan beberapa media mengabarkan segelintir pejabat yang meregang nyawa setelah sekian hari berjuang untuk sembuh dari keganasan corona. Tapi raut girang rakyat dalam menyambut hari kemerdekaan ini dan orang-orang yang banyak menulis dan berefleksi tentangnya adalah bukti bahwa kita tidak akan pernah tersungkur kalah di Tanah sendiri. Patuh pada protocol kesehatan adalah sebuah keharusan untuk dipahami namun bekerja untuk kehidupan dan kemajuan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda bahkan ditinggal. Kehati-hatian dan kewaspadaan menjadi kunci untuk bisa mendamaikannya.

Saat menulis artikel ini, benar-benar tergambar dengan jelas wajah hari kemerdekaan yang begitu humanis di negeri ini. Ekspresi yang begitu beragam dari para warga yang mengikuti deeretan seremonial giat di tempatnya masing-masing. Suatu ekuilibrasi di mana kejengkelan, kegemasan, kekecewaan dan gelaknya tawa serta kelucuan berkumpul bercampur berdempetan dan berdesakan. Sehingga yang muncul adalah ejaan tentang kemanusiaan yang tumbuh mekar di Bumi Pertiwi. Kemanusiaan yang ditanam oleh tangan-tangan harapan para pahlawan kemerdekaan. Setelahnya penuh berjibaku dengan letupan senapan, peluru dan siraman darah yang tumpah.

Hal berharga yang perlu kita rawat dengan kesetiaan sampai saat ini adalah DNA perjuangan orang-orang 75 tahun lalu itu. DNA yang di dalamnya ada rasa kesatuan yang tinggi, rasa kemerdekaan yang mulia, pemikiran ketidakadilan yang wajib ain harus dihapuskan dan semangat kebebsan yang harus dipetik. Semoga orang-orang dengan kualitas ini masih banyak jumlahnya di negeri ini. Bukan malah menjadi makhluk langka yang terdampar di penangkaran waktu.

Related posts