Resensi Buku: Mengenal Tuhan dari Nahwu

  • Whatsapp

Penulis: Muhajir & Cecep Jaenuddin

Tebal: 240 Halaman

Ukuran Buku: 14×20 cm

Cetakan Pertama, Agustus 2021

Desain Cover: Fatih R. Wibowo & Moh. Edi Komara

Tata Letak: Arief Bahtiar Rifa’i & M. Riza Pahlevi

Penerbit: Lughotuna Bahasa Peradaban

ISBN: 978-623-94849-2-7

Ilmu Nahwu atau sintaksis yang selama ini hanya dipahami oleh mayoritas pembelajar bahasa Arab sebagai kajian disiplin ilmu bahasa Arab yang berfokus pada akurasi pelafalan dan penulisan  saja, namun pada aspek lain terdapat dimensi FîlosoFîs-edukatif yang mampu kita selami didalamnya. Meminjam term Khairul Adib (2011) terdapat dua tipologi dalam ilmu nahwu, yaitu nahwu lisan dan nahwu hati. Nahwu lisan bersifat logis karena bertendensi kepada kaidah-kaidah bahasa Arab dan keterlibatannya dalam i’rab. Sedangkan nahwu hati bersifat filosofis karena memberikan irsyad bagaimana seseorang menata laku hati dan perbuatannya.

Salah satu khazanah keilmuan yang membahas seputar nahwu hati adalah buku yang berjudul “Mengenal Tuhan dari Nahwu”. Buku ini ditulis oleh seorang praktisi bahasa Arab dan sekaligus pembina laman lughotuna.id, bapak Muhajir dan pegiat laman lughotuna.id saudara Cecep Jaenuddin. Terdapat tiga bab utama di dalam buku ini, di antaranya: Ngaji Mahwi, Para Pendekar Nahwu, dan Sufisme Kenabian.

Bab pertama banyak menyoroti tentang keistimewaan kitab Al-Jurûmiyah. Kitab Nahwu ini dikarang oleh seorang tokoh hebat bernama Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dāwud Al Shinhāji. Beliau berasal dari kabilah Shinhāji, Maroko. Kitab ini salah satu karya fonemonal yang selalu eksis didaras sepanjang masa. Baik dari golongan akademik maupun non akademik.

Dalam kitab Al-KaFî Fî Syarhi Al-Jurûmiyah karya Aiman Amin Abdul Ghani disebutkan ada 13 syarah kitab Matan Jurûmiyah, di antaranya: 1) Al-Durrah Al-Nahwiyyah Fî Syarh Al-Jurûmiyah. 2) Al-Mustaqal Bi Al-Mafhûmiyyah Fî Syarhi Alfādhi Al-Jurûmiyah. 3)Al-Jawāhir Al-Mudliyyah Fî Halli Alfadhi Al-Jurûmiyah. 4)Al-Duraru Al-Mudliah. 5)Al-Jawahiru Al-Saniyyah Fî Syarhi Al- Muqaddimah Al-Jurûmiyah. 6)Syarhu Al-‘Allāmah Khālid Al-Azhary’ Alā Matni Al-Jurûmiyah. 7)Syarhu Al-Makudi Al-Nahwiy. 8)Al-Tuhfah Al-Saniyyah. 9)Syarhu Al-Syaikh Hasan Al-Kufrawiy Al-SyaFîi Al-Azhary. 10)Hāsyiyah Al-Jurûmiyah. 11) Idlah Al-Muqaddimah Al-Jurûmiyah. 12)Syarhu Al-Muqaddimah Al-Jurûmiyah. 13) Al-Aqwāl Al-Wafiyyah Fî Syarhi Al-Jurûmiyah.

Selanjutnya dalam bab pertama juga banyak dikaji peristilahan nahwu dalam dimensi kajian ilmu tasawuf, misalnya: Menashabkan Pada yang Marfû’, Dari Jazm Kita Belajar Kemantapan Hati, Rumus Tasawuf dalam Kaidah Athaf, Tafsir Mistik Mengapa Masdar Berada Pada Urutan Ketiga dalam Tashrif, Zharaf-Raga Wadah dari Rahasia-Rahasia Tuhan. Selain itu, banyak disuguhkan kisah inspiratif seperti karomah kitab Al-Jurûmiyah yang populer di kalangan pembelajar kitab ini “Dikisahkan ketika Ibnu Ajurrum selesai menulis kitab ini, kemudian melemparnya ke laut seraya berkata : “Jika karya ini sebuah bentuk keikhlasan kepada Allah, maka karya tersebut tidak akan basah terkena air laut”. Terdapat juga kisah-kisah lain penggugah jiwa tentang Rihlah Intelektual dan Jalan Menuju Kebesaran, Gila di Bumi-Waras di Langit, Pertaubatan Sang Pendekar, Jazm Kita Belajar Kemantapan Hati, Keajaiban Istighfar, dan cerita memukau lainnya.

Bab Kedua banyak menyoroti para  ilmuan nahwu dan karya-karya gemilangnya, seperti: Imam Ibnu Mālik dan Kitab Alfiyahnya, Imam Yahya dan kitab Al-Imrithy, Imam Al-Kisāi, Imam Sibawih, Ibnu Sina, Ibnu Arabi, Ibnu Madhā, dan ilmuan kondang lainnya. Ada satu cerita yang menurut saya paling mengesankan dalam bab dua ini, “Dikisahkan seorang istri yang cemburu buta kepada suaminya, dan pada akhirnya istri tersebut membakar beberapa karya suaminya. Suami ini memiliki wajah yang rupawan dan sangat gandrung akan ilmu pengetahuan. Lelaki ini bernama Imam Sibawaih, ilmuan nahwu yang tersohor kepandaiannya. Makanya beliau mendapat julukan bapaknya nahwu.”  Seharusnya  seorang istri mendukung karir suaminya, utamanya dalam khidmah bidang keilmuan bahasa Arab-khususnya nahwu.

Selain itu pada bab dua juga membahas kitab-kitab nahwu yang notabenenya karangan ulama nusantara, misalnya: 1)Kitab Mu’jam Nahwi karya Kyai Muhibbi Hamzawie yang berasal dari Pati Jawa Tengah. 2)Kitab Tashîl Al-Masālik karya Syaikh Ahmad Abi Al-Fadhol Ibn Abdul Syakur Senori. 3)Kitab Al-Lam’ah Al-Nuraniyya karya Syaikh Musthafa Usman yang berasal dari Garut Jawa Barat. 4)Kitab Murod Al-Awāmil Mandaya karya Syaikh Nawawi Mandaya yang berasal dari Serang Banten. 5)Kitab Tasywîq Al-Khillān karya Kyai Muhammad Ma’shum bin Salim yang berasal dari Semarang.

Adapun bab tiga berisi tentang sufisme kenabian. Penulis mengajak pembaca untuk meneladani kehidupan baginda nabi Muhammad saw dan para dzurriyahnya melalui membaca kitab sîrah nabawiyah. Tidak cukup hanya membaca, namun kita menggali pelajaran berharga dari potret kehidulan nabi bersama keluarganya dan para umatnya.

Bahasa yang digunakan dalam kitab ini sangat komunikatif dan mudah dipahami. Pun judul-judul yang diketengahkan di dalamnya sangat menarik. Jadi, melalui buku ini kita bisa menyelami lebih dalam tentang ilmu nahwu dari aspek Filosofis-sufistik. Makanya tidak heran banyak dijumpai peristilahan yang bertalian dengan bidang sufi di dalamnya. Selamat membaca buku ini, semangat berkontemplasi dalam upaya membenahi jiwa dan hati.

Pos terkait